Hayuning Ratri Hapsari | Fairus Farizki
Anak muda lokal berjalan di sebuah desa tradisional di Banten, Indonesia, menampilkan busana dan arsitektur budaya. (Pexels/Andreas Suwardy)
Fairus Farizki

Dulu, ada masa di mana merantau ke kota besar dianggap sebagai bukti sah kalau kamu sudah sukses. Anak muda berbondong-bondong pergi cuma modal ijazah, tas ransel, dan sekeranjang mimpi. Harapannya dapat kerjaan kantoran yang gajinya jauh lebih gede daripada hasil panen padi di belakang rumah. 

Efeknya, desa pelan-pelan jadi sepi karena semua orang ngejar mimpi yang sama. Kota pun jadi pusat segalanya. Gedung-gedung pencakar langit, kafe estetik, ruang kerja ber-AC, bahkan macetnya jalanan pun dianggap sebagai satu paket keren menuju kehidupan mapan. 

Tapi roda zaman berputar. Sekarang, pertanyaannya gimana kalau pulang dan membangun desa justru jadi pilihan hidup yang jauh lebih potensial?

Coba kita intip data BPS dalam “Statistik Pemuda Indonesia 2024”. Ternyata, ada sekitar 60,72% anak muda kita yang sekarang resmi jadi anak skena kota alias tinggal di kawasan urban. Angka ini memang nggak langsung bikin desa auto-kosong melompong, tapi sudah cukup jadi bukti kalau generasi muda sekarang sudah makin "anak kota banget". 

Efek sampingnya? BPS juga ngasih peringatan lampu kuning soal fenomena brain drain alias hijrahnya otak-otak encer dari daerah asal karena mudik tanpa kembali. Menurut laporan Profil Migran Hasil Susenas 2024, biang kerok utamanya ya apalagi kalau bukan kesenjangan ekonomi dan fasilitas yang jomplang banget antarwilayah. Wajar saja, siapa memangnya yang tak tergoda sama gemerlapnya fasilitas kota?

Masalahnya, selama ini desa sering banget dianaktirikan, dianggap cuma sebagai tempat persinggahan yang harus ditinggalkan kalau mau sukses. 

Padahal, desa itu punya modal yang nggak bisa diremehkan. Buka saja data Podes (Potensi Desa) 2024 dari BPS. Ada lebih dari 75 ribu desa di Indonesia yang isinya lengkap: dari infrastruktur, fasilitas, sampai potensi alam yang siap diolah. 

Ditambah lagi, pintu rezeki di desa sekarang sudah makin banyak cabangnya. Catatan Kemendes per Februari 2026 menunjukkan sudah ada 65.249 BUM Desa dan 6.441 BUM Desa Bersama yang aktif bergerak. Belum lagi urusan pelesiran, Kemenparekraf mencatat ada sekitar 6.111 desa wisata yang eksis per Juli 2025. 

Artinya, desa zaman sekarang itu bukan cuma soal sawah, kandang ayam, lalu mati lampu dan tidur jam sembilan malam.

Di sana ada pariwisata hits, kuliner sedap, kerajinan estetik, bisnis digital, sampai produk lokal bernilai ekonomi kreatif. Bahkan, pekerjaan kantoran yang dulu cuma ada di gedung pencakar langit sekarang bisa digarap dari teras rumah warga, modal laptop dan wifi yang kencang. 

Tapi ya, meski potensinya seksi, realitasnya belum semanis filter Instagram. Data Bappenas mencatat tingkat kemiskinan di desa masih tembus 12,22 persen, jauh di atas kota yang ada di angka 7,29 persen. Belum lagi urusan infrastruktur, layanan kesehatan dasar, akses modal, jalur pasar, sampai konektivitas internetnya yang masih sering timbul tenggelam.

Makanya, anak muda zaman sekarang tidak bisa dipaksa pulang cuma bermodalkan romantisme udara pagi yang sejuk atau pemandangan sawah hijau yang estetik. Romantisme itu nggak bisa dipakai buat bayar tagihan.

Mereka butuh alasan yang jauh lebih konkret, lapangan kerja yang jelas, penghasilan yang layak, wifi yang kencang, ruang buat berkarya, pasar buat jualan, pendidikan, hingga komunitas yang asyik.

Menariknya, pemerintah sendiri sudah mulai sadar kalau anak muda itu aktor utama. Dalam Renstra 2025–2029, Kementerian Desa menelurkan program Pemuda dan Pemudi Pelopor Desa. Tujuannya adalah untuk genjot kapasitas, keterampilan, kewirausahaan, sekaligus pemberdayaan anak muda langsung dari akarnya.

Walhasil, pulang ke desa kini bisa kita maknai ulang bahwa desa bukan lagi pelarian karena kalah tarung di kota, melainkan strategi gaya hidup baru yang punya masa depan cerah.

Sekarang opsinya makin seru. Ada yang pilih kerja remote dari kamar, ada yang sibuk rintisan usaha lokal, ada yang bikin desa wisata, sampai ada yang rajin ngonten pamer keindahan kampungnya sendiri. Banyak juga yang sengaja bawa pulang ilmu dari kota buat dieksekusi di tanah kelahiran. 

Kota memang bakal tetap penting, dan jelas nggak semua orang wajib mudik. Tapi, yang harus kita rontokkan adalah stigma kuno kalau masa depan itu cuma ada di aspal kota besar. 

Desa juga sangat bisa untuk jadi tempat anak muda merajut masa depan. Syaratnya memang mudah sekali diucapkan tapi akan pusing untuk dieksekusi: desa wajib punya ekosistem yang bikin anak muda betah dan punya alasan buat menetap.

Sebab, pertanyaan besarnya adalah setelah mereka sudah sampai di desa, mereka mau kerja apa?