Pernahkah kita memperhatikan suara hutan pada pagi hari? Di antara dedaunan, kupu-kupu berpindah dari satu bunga ke bunga lain. Semut berjalan beriringan membawa makanan, sementara kumbang dan rayap menguraikan sisa-sisa tumbuhan. Kehidupan kecil itu mungkin jarang menjadi perhatian manusia, tetapi keberadaannya membantu hutan tetap hidup.
Bayangkan jika suatu hari kawasan tersebut dilalap api. Pohon tumbang, tanah mengering, dan tempat persembunyian berbagai satwa berubah menjadi hamparan abu. Bukan hanya burung, mamalia, atau tumbuhan yang kehilangan habitat. Serangga yang selama ini menjalankan fungsi penting bagi ekosistem hutan juga ikut terancam. Lantas, apa yang terjadi jika kebakaran hutan berlangsung berkepanjangan?
Serangga sering dianggap sebagai hewan kecil yang mengganggu. Padahal, keberadaannya memiliki peran besar dalam menjaga keseimbangan alam. Ada serangga yang membantu penyerbukan, menguraikan bahan organik, menyebarkan biji, hingga menjadi sumber makanan bagi satwa lain.
Kupu-kupu, lebah, dan sejumlah jenis kumbang membantu proses penyerbukan tanaman. Ketika serangga berpindah untuk mencari nektar, serbuk sari dapat terbawa ke bunga lain sehingga mendukung perkembangbiakan tumbuhan. Tanpa proses ini, regenerasi sejumlah tanaman dapat terganggu.
Sementara itu, rayap, kumbang pengurai, dan semut membantu memecah sisa tumbuhan maupun organisme mati. Proses tersebut mengembalikan unsur hara ke tanah. Dengan begitu, tanah memperoleh bahan organik yang mendukung pertumbuhan vegetasi.
Terdapat serangga tropis mereka berperan dalam siklus nutrisi, penyerbukan, penyebaran biji, dan berbagai proses ekosistem. Penurunan keanekaragaman serangga berpotensi mengganggu fungsi alam, termasuk penyimpanan karbon dan rantai makanan.
Ketika kebakaran hutan terjadi, dampaknya tidak hanya terlihat dari pohon yang hangus. Lapisan serasah, batang lapuk, tanaman bawah, dan bagian tanah yang menjadi tempat hidup berbagai serangga juga dapat rusak.
Serangga yang hidup di permukaan tanah berisiko terbakar atau kehilangan tempat berlindung. Telur, larva, dan kepompong yang berada di dalam tanah, kayu, maupun dedaunan juga dapat mati akibat suhu tinggi. Sementara itu, serangga yang berhasil terbang menjauh belum tentu menemukan habitat pengganti yang sesuai.
Kerusakan tersebut dapat memutus hubungan antara serangga dan tumbuhan. Ketika jumlah penyerbuk menurun, proses reproduksi tanaman tertentu bisa terganggu. Jika serangga pengurai berkurang, proses pembusukan bahan organik dan perputaran unsur hara juga dapat berubah.
Dampaknya merambat ke hewan lain. Burung, reptil, amfibi, dan mamalia kecil yang memakan serangga bisa kehilangan salah satu sumber makanannya. Artinya, kebakaran tidak hanya menghancurkan satu kelompok organisme, tetapi berpotensi mengganggu hubungan antarmakhluk hidup di dalam hutan.
Ancaman tersebut bukan sekadar kemungkinan. Data Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi) Kementerian Kehutanan mencatat luas areal kebakaran hutan dan lahan Indonesia pada Januari–Juli 2026 mencapai 202.004,30 hektare. Angka tersebut meningkat 69 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
BNPB juga melaporkan pada 24 Oktober 2026 terdapat sekitar 25.409 hektare lahan terbakar berdasarkan pemantauan di sejumlah wilayah. Dari luasan tersebut, sekitar 17.942 hektare masih belum padam. Kalimantan Tengah menjadi salah satu wilayah dengan dampak terbesar. Data ini merupakan pembaruan pada tanggal tersebut dan dapat berubah mengikuti proses pemantauan serta penanganan.
Dampak ekologisnya terlihat dalam penelitian yang diterbitkan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) pada April 2024. Peneliti mengamati ekosistem hutan gambut tropis Indonesia selama 16 tahun. Hasilnya menunjukkan struktur habitat, kepadatan pohon, dan tutupan kanopi di kawasan terbakar mengalami penurunan 58–98 persen dibandingkan hutan yang tidak terbakar.
Penelitian itu juga menemukan penurunan keanekaragaman dan kelimpahan sejumlah organisme, terutama pepohonan, capung jarum, dan kupu-kupu yang bergantung pada habitat hutan. Beberapa kelompok invertebrata spesialis hutan bahkan mengalami penurunan kekayaan spesies hingga 99,9 persen pada area terbakar yang diteliti.
Kok bisa karhutla berkepanjangan membuat hutan sulit pulih? Kita harus tahu satu kali kebakaran saja dapat merusak habitat. Namun, kebakaran berulang dengan intensitas tinggi membuat proses pemulihan semakin berat. Tumbuhan membutuhkan waktu untuk tumbuh kembali, sedangkan serangga memerlukan sumber makanan, tempat berkembang biak, dan kondisi lingkungan yang sesuai.
Penelitian PNAS tersebut menemukan bahwa sebagian vegetasi di kawasan gambut yang terbakar menunjukkan tanda pemulihan dalam rentang 12 tahun. Namun, struktur hutan masih mengalami gangguan dalam jangka panjang. Kebakaran berulang dapat kembali merusak proses pemulihan yang sedang berlangsung.
Masalah lain muncul ketika api membakar lahan gambut. Bara dapat bertahan di bawah permukaan tanah meskipun hujan telah turun. BNPB pada 2 November 2026 mengingatkan bahwa api bawah tanah di sejumlah kawasan gambut belum sepenuhnya padam. Kondisi ini membuat potensi kebakaran susulan tetap perlu diwaspadai.
Hutan tidak hanya membutuhkan pohon untuk tetap hidup. Ada jaringan kehidupan yang saling terhubung, termasuk serangga yang membantu penyerbukan, penguraian, dan menjaga rantai makanan.
Pencegahan karhutla perlu menjadi prioritas. Masyarakat dapat ikut mencegah pembakaran lahan, melaporkan titik api, dan menjaga kawasan hutan dari aktivitas yang berisiko memicu kebakaran. Pemerintah juga perlu memperkuat pengawasan, pemadaman dini, perlindungan gambut, serta restorasi habitat setelah kebakaran.
Kita mungkin tidak selalu melihat seekor kumbang yang menguraikan kayu lapuk atau kupu-kupu yang membantu penyerbukan. Namun, pekerjaan kecil mereka menopang kehidupan yang jauh lebih besar.
Ketika hutan dibakar, yang hilang bukan sekadar pepohonan. Ada proses alam yang ikut terputus. Melindungi serangga berarti menjaga keseimbangan ekosistem, agar hutan tidak hanya kembali menghijau, tetapi juga mampu menghidupkan kembali seluruh jaringan kehidupan di dalamnya.
Baca Juga
-
Mengenal Koridor Gajah: Jalur Vital Ekosistem Hutan yang Terancam Fragmentasi
-
Kupu-Kupu Jarang Terlihat, Apa yang Terjadi pada Lingkungan?
-
Dampak Bahaya Tone Deaf, saat Ucapan Merusak Empati dan Pertemanan
-
Nasib Hutan Papua jika Burung Cenderawasih Kehilangan Habitat dan Pohon Pakan
-
Gen Z Stres Memikirkan Biaya Hidup dan Bencana Jadi Beban Baru?
Artikel Terkait
-
Polemik Spanduk Karhutla Oki Rengga: Riuh Simbolis, Korban Malah Terlupakan
-
Ria Ricis Sebut Karhutla Wahana Kidzania: Etika Menguap Demi Konten?
-
Mengapa Penurunan Populasi Siamang Bisa Ancam Regenerasi Hutan Sumatra?
-
Dituding Larang Suporter Pasang Spanduk Karhutla, Oki Rengga Ungkap Deal-dealan yang Ditawarkan
-
Gugur Saat Padamkan Karhutla di Seruyan, Kapten Nurhafiz Dimakamkan Secara Militer
Kolom
-
Maraknya Demonstrasi Mahasiswa Hari Ini dan Kenangan Masa Lalu Saya
-
Polemik Spanduk Karhutla Oki Rengga: Riuh Simbolis, Korban Malah Terlupakan
-
Ria Ricis Sebut Karhutla Wahana Kidzania: Etika Menguap Demi Konten?
-
Terkenal Tanpa Karya: Ketika Sensasi Lebih Laku daripada Prestasi
-
Jebakan Politik Belas Kasihan: Mengapa Orang Mudah Menangisi Pejabat?
Terkini
-
Penuh Kehangatan, Mark Lee Ungkap Arti Kebahagiaan Sejati di Lagu Happiest
-
The Enchanted Garden 2: Petualangan Seru Menyelamatkan Kebun Ajaib!
-
Belajar dari Ubud, I Made Gunarta Dorong Ekosistem Wellness di JCWF 2026
-
Ulasan Dear Hyeri: Saat Kepribadian Ganda Jadi Pelarian dari Realita
-
Ketika Statistik Terlihat Indah, Benarkah Pengangguran Kita Berkurang?