Sadar nggak sih, sekarang tren minuman atau makanan kekinian semakin berinovasi? Mulai dari matcha, ube, dan masih banyak lagi. Ternyata, bahan-bahan tadi bukan muncul baru-baru ini saja. Matcha, misalnya, awalnya begitu lekat dengan budaya minum teh Jepang, tetapi kini bisa ditemukan dalam latte, cake, hingga es krim.
Fenomena serupa juga terjadi pada ube, pandan, dan berbagai bahan makanan khas Asia lainnya. Bahan yang dulunya mungkin hanya dikenal oleh masyarakat lokal sebagai bahan pangan tradisional kini justru digunakan dalam berbagai olahan kekinian di berbagai belahan dunia. Apa saja bahan pangan tradisional yang kini mendunia? Simak 5 daftarnya di bawah ini!
1. Matcha
Minuman teh berwarna hijau pekat ini dulunya dikonsumsi secara tradisional sebagai bagian dari upacara minum teh khas Jepang atau chanoyu. Bubuk matcha dimasukkan ke dalam mangkuk khusus bernama chawan, dicampur dengan air panas, lalu diaduk cepat dengan chasen. Matcha umumnya disajikan tanpa gula untuk menonjolkan rasa alaminya yang lembut dan umami.
Kini, matcha bertransformasi menjadi pelopor rasa tradisional di industri makanan kekinian. Kamu bisa menemukan matcha dalam bentuk matcha latte, es krim, cake, atau cookies.
2. Ube
Ube merupakan jenis ubi berwarna ungu yang sudah lama digunakan dalam berbagai makanan tradisional Filipina. Ube juga umum ditemui di Indonesia dikonsumsi sebagai alternatif bahan pokok dan disebut uwi ungu di beberapa wilayah. Umbi ini memiliki rasa manis yang khas dengan sedikit rasa nutty sehingga cocok digunakan dalam berbagai hidangan, terutama makanan penutup.
Belakangan ini, olahan kekinian percampuran dari ube dan matcha tengah populer. Kedua bahan makanan tradisional ini memiliki rasa yang saling melengkapi, sedikit pahit dari matcha dan manis khas ube. Selain itu, ube juga sering dipadukan dengan dessert lain, seperti kue atau cheesecake.
3. Taro
Dalam beberapa tahun terakhir, taro atau talas semakin dikenal sebagai salah satu pilihan rasa dalam makanan dan minuman modern. Kamu mungkin pernah menemukannya dalam taro milk tea, es krim, cake, pudding, hingga berbagai dessert lainnya. Warna ungu muda yang sering digunakan pada produk taro juga membuatnya mudah dikenali dan menarik secara visual.
Meskipun sama-sama berwarna ungu, taro dan ube berbeda karena berasal dari jenis umbi yang berbeda pula. Warna ungu pada taro umumnya lebih pucat dan hanya berupa semburat, tidak sepekat warna ube. Selain itu, taro memiliki rasa yang lebih ringan sehingga tidak semanis ube.
4. Gochujang
Gochujang merupakan pasta cabai fermentasi yang sudah lama menjadi bagian dari kuliner Korea. Seiring semakin populernya drama Korea dan K-pop di berbagai negara, gochujang juga ikut semakin dikenal.
Gochujang biasanya digunakan dalam berbagai makanan Korea, seperti tteokbokki, bibimbap, dan berbagai hidangan yang membutuhkan bumbu pedas. Namun, penggunaannya kini tidak lagi terbatas pada masakan tradisional Korea. Gochujang mulai dipadukan dengan hidangan kekinian, seperti burger, pasta, dan pizza. Rasanya yang tak hanya pedas, tapi juga manis dengan aroma fermentasi, menarik selera banyak orang.
5. Pandan
Pandan merupakan tanaman yang sudah lama digunakan dalam berbagai hidangan di Asia Tenggara, salah satunya Indonesia. Biasanya daunnya digunakan untuk menambah aroma wangi pada makanan, seperti kolak, klepon, bolu pandan, dan putu ayu.
Kini, aroma dan rasanya yang khas mulai diperkenalkan ke berbagai hidangan modern, seperti kopi, pastry, dessert box, hingga jajanan tradisional premium. Warna hijaunya yang alami juga membuat pandan menarik digunakan dalam berbagai kreasi dessert.
Beberapa bahan makanan di atas menjadi bukti bahwa bahan pangan tradisional juga bisa beradaptasi mengikuti perkembangan zaman. Dari minuman hingga makanan berat, bahan-bahan tersebut bisa masuk ke berbagai olahan kekinian dan menjadi tren di kalangan anak muda. Tren kuliner pun akhirnya tidak hanya membawa makanan baru, tetapi juga memperkenalkan kembali bahan-bahan tradisional dalam bentuk yang berbeda. Ada favoritmu?
Baca Juga
-
Rasisme di Like a Winding Sheet: Siapa yang Salah, Siapa yang Kena Marah?
-
Padmaavat: Saat Perempuan Memilih Lenyap daripada Jatuh ke Tangan Lelaki
-
Viral Dibikin Seblak hingga Cookie, Ini 4 Bedanya Umbi Kimpul dan Talas Biar Nggak Salah Beli
-
5 Fakta tentang Intoleransi Laktosa, Ternyata Beda dari Alergi Susu Sapi?
-
Intoleransi Laktosa? Coba 5 Alternatif Susu Nabati Ini, Lebih Aman di Perut
Artikel Terkait
-
Mati Mudanya Sebuah Tren: Ketika "Micro-Trends" Mengikis Identitas Diri
-
Mendengar 'Sambutlah' Denada: Saat Tren TikTok Bikin Lagu 90-an Candu Lagi
-
Cake Tak Lagi Identik dengan Perayaan, Harvest Bawa Kreasi Baru Bersama Reynold Poernomo
-
Dari Dubai Chocolate hingga Crookie, Alasan Tren Dessert Cokelat Terus Berubah
-
Matcha Uji Kyoto Dipadukan dengan Yogurt, Jadi Dessert Baru yang Creamy
Lifestyle
-
Rekonstruksi Mindset: Jeda Itu Ruang Istirahat, Bukan Tempat Cari Jawaban
-
Realme P4s Lite Resmi Rilis: Usung Baterai 7.000 mAh dan Ketahanan 6 Tahun
-
WhatsApp Siapkan Fitur Baru Sembunyikan Chat dari Perangkat Terhubung
-
Tak Perlu Mahal, 6 HP Rp2 Jutaan Ini Sudah Dibekali Fitur NFC
-
Productivity Guilt: Rasa Bersalah Memilih Jeda saat Semua Orang Produktif
Terkini
-
Manchuria Opium Squad Dapat Adaptasi Anime, Serialisasi Manga Berlanjut
-
Sinopsis A Taste of Life, Drama China yang Dibintangi Li Qin dan Hu Ge
-
Fangirling di Usia 20-an: Bolehkah Kita Bahagia Karena Hal Sesederhana Ini?
-
Efisiensi atau Pindah Beban? APBN Hemat di Kertas, Rakyat Mahal di Lapangan
-
Konflik Memanas di Timnas Portugal, Cristiano Ronaldo Buka Suara soal Insiden Keluar Kamp