Kalau berbicara soal serealia, biasanya yang langsung tercetus di pikiran adalah gandum. Selama ini, gandum begitu lekat dengan kehidupan sehari-hari di dapur. Misalnya saja tepung terigu yang umum diolah menjadi mi, roti, atau gorengan.
Padahal, gandum tidak dikembangkan secara masif di Indonesia. Di sisi lain, Indonesia memiliki beberapa jenis serealia yang dibudidayakan oleh petani lokal. Beberapa di antaranya bahkan kurang dikenal oleh masyarakat Indonesia sendiri karena kalah pamor dengan gandum.
Berikut 3 macam serealia lokal hasil pertanian masyarakat Indonesia.
1. Sorgum
Sorgum merupakan salah satu serealia yang sudah lama dibudidayakan di Indonesia, terutama di wilayah yang memiliki kondisi lahan relatif kering. Karakteristik tanamannya hampir sama dengan jagung, namun memiliki biji-bijian yang saling terpisah. Warna biji sorgum bervariasi, mulai dari warna putih hingga ungu gelap yang kaya akan antioksidan.
Biji sorgum bisa diolah menjadi berbagai jenis makanan. Sorgum dapat dimasak dan dikonsumsi sebagai pengganti nasi, digiling menjadi tepung gluten free, atau popsorgum. Karenanya, sorgum bisa dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat alternatif yang lebih rendah gula namun kaya nutrisi.
2. Jewawut
Jewawut merupakan salah satu serealia berbiji kecil yang sudah lama dimanfaatkan sebagai bahan pangan di wilayah Asia Timur dan Asia Tenggara. Bahkan, serealia ini pernah menjadi makanan pokok di Nusantara sebelum beras populer dikonsumsi sebagai karbohidrat utama. Sampai saat ini, jewawut masih dimanfaatkan sebagai makanan pokok di daerah Sulawesi, Nusa Tenggara, Pulau Buru, dan Jawa Tengah.
Biji jewawut dapat dimasak seperti nasi atau diolah menjadi tepung untuk berbagai makanan. Tidak hanya bisa dikonsumsi manusia, ukuran bijinya yang kecil juga biasa digunakan sebagai pakan burung.
3. Jali-jali atau Hanjeli
Jali-jali atau hanjeli merupakan serealia yang masih dalam kelompok padi-padian. Jali-jali memiliki 2 varietas, yaitu jali batu dan jali ketan. Seperti namanya, jali batu memiliki karakteristik biji yang keras sehingga tidak bisa dimakan. Varietas ini umumnya dibuat kerajinan manik-manik.
Sementara itu, jali ketan adalah biji jali yang biasa dibudidayakan dan bisa dikonsumsi. Warnanya pun lebih beragam, seperti putih gading, kecokelatan, atau merah jambu. Cangkangnya tidak sekeras jali batu sehingga lebih mudah untuk diolah menjadi bubur hanjeli atau obat-obatan tradisional.
Gandum memang banyak digunakan dalam berbagai makanan sehari-hari, tetapi bukan berarti Indonesia tidak memiliki sumber serealia lainnya. Berbagai serealia lokal seperti sorgum, jewawut, dan jali-jali juga memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Yuk, dukung petani lokal!
Baca Juga
-
4 Fakta Unik Sayur Genjer, Kenapa Bisa Dikaitkan dengan Stigma G30S/PKI?
-
Ube Ternyata Bukan Ubi Ungu? Simak 3 Perbedaan Mendasarnya!
-
Menelusuri Jejak Patriarki di Korea dalam Novel Kim Jiyeong Born in 1982
-
7 Dekade Berlalu, Ini 4 Alasan Mengapa Kritik Novel '1984' Makin Relevan Hari Ini
-
Awas Keracunan, Perhatikan 5 Ciri Penting Ini Sebelum Menjadikan Tanaman Liar Sebagai Makanan
Artikel Terkait
-
Ketahanan Pangan Tak Bisa Diseragamkan: Saatnya Kembali ke Pangan Lokal
-
Monopoli Bahan Pangan Jadi Celah Korupsi MBG, Kortastipidkor Ingatkan SPPG
-
5 Kreasi Kimpul Viral ala Ibu Black Sheep: Dari Bungeoppang hingga Sushi!
-
Lebih dari Sekadar Pangan Lokal, Ini Kisah Nasi Oyek Selamatkan Jenderal Soedirman
-
Dari Lasagna Kimpul hingga Cheesecake Ubi: Modernisasi Pangan Lokal Agar Tak Sekadar Alternatif
Lifestyle
-
4 Fakta Unik Sayur Genjer, Kenapa Bisa Dikaitkan dengan Stigma G30S/PKI?
-
ADVAN X1 Neo Resmi Rilis: Ponsel Rp1,7 Jutaan, Usung Android 16 dan NFC
-
Auto Glowing! 5 Brightening Gel Cleanser Niacinamide Hempas Kulit Kusam
-
Bangun Auto Glowing! 5 Night Body Care untuk Kulit Cerah dan Lembap
-
Belajar Menikmati Hari Biasa, Menerima Bahwa Tidak Semua Hari Itu Istimewa
Terkini
-
Harganya Bikin Mikir Dua Kali, Kenapa Kafe Estetik Tetap Banyak Diminati?
-
Review Love Story: Saat Nama Kennedy Terlalu Besar bagi Sebuah Cinta
-
Dialog Indonesia dan Masa Depan: Antara Modernisasi vs Kemanusiaan
-
Kolektor Kisah Unik Para Pelanggan Toko Buku Bekas: Ketika Buku Menyimpan Luka dan Kenangan
-
Stop FOMO Belanja: Saatnya Beralih dari Budaya Checkout ke Mindful Shopping