Kepemimpinan wanita dalam partisipasi politik sering kali mendapat stereotip akan gaya kepemimpinan yang cenderung dipengaruhi oleh fluktuasi emosional. Stigma ini dipandang negatif oleh masyarakat karena banyak anggapan bahwa seorang pemimpin dituntut untuk selalu dapat bertindak dan membuat keputusan secara logis dan rasional. Hal tersebut pada hakikatnya sangat bertolak belakang dengan berbagai keberhasilan yang mampu diraih para pemimpin wanita di sektor publik Indonesia.
Berbagai sosok pemimpin politik wanita Indonesia saat ini tengah menjadi perhatian luas bagi masyarakat karena jumlahnya yang diketahui masih jauh tertinggal di belakang oleh proporsi pemimpin laki-laki.
Pernyataan tersebut juga disampaikan oleh Peneliti LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), Sri Nuryanti, yang menyebutkan bahwa keterwakilan perempuan dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2020 masih terbilang sangat rendah jika dibandingkan dengan calon kandidat laki-laki. Bahkan, beliau menambahkan bahwa setidaknya hanya terdapat 10,6% calon kepada daerah perempuan yang terdaftar dalam Pilkada Serentak 2020.
Pada level pusat sendiri setidaknya terdapat enam pemimpin perempuan Indonesia yang menjabat sebagai kepala lembaga eksekutif kementerian yakni diantaranya: (1) Menteri Luar Negeri, Retno LP Marsudi; (2) Menteri Keuangan, Sri Mulyani: (3) Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar; (4) Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Gusti Ayu Bintang Darmavati; (5) Menteri Tenaga Kerja, Ida Fauziyah dan (6) Menteri Sosial, Tri Rismaharini.
Keenam nama tersebut merupakan hasil reshuffle kedua Kabinet Indonesia Maju yang dibentuk oleh Presiden Joko Widodo pada bulan April lalu dengan disahkannya total sejumlah 34 kementerian. Hal tersebut dapat dikatakan menjadi bukti masih rendahnya keterwakilan perempuan dalam kepemimpinan pusat pada lembaga kementerian di Indonesia.
Salah satu sosok kepemimpinan perempuan di Indonesia yang hingga saat ini telah berhasil menarik berbagai perhatian publik atas gaya kepemimpinan dan sederet keberhasilan atas kebijakannya adalah Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani Indrawati. Sri Mulyani memulai karirnya dari kalangan akademis ahli ekonom untuk selanjutnya terjun ke dunia politik dan hingga saat ini tengah menjabat sebagai Menteri Keuangan dua periode berturut-turut di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo.
Akan tetapi, karier kepemimpinan politik perempuan yang pernah menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia tahun 2010 – 2016 ini tidak dapat dikatakan selamanya mulus dan tanpa hambatan. Faktanya, Sri Mulyani seringkali mendapatkan persepsi negatif atas perannya sebagai pemimpin perempuan dalam lembaga eksekutif Indonesia.
Salah satu persepsi kurang baik yang pernah dilayangkan kepada Sri datang dari Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA), Yustinus Pratowo, saat diwawancarai pendapatnya atas kelebihan dan kekurangan Sri Mulyani menjabat sebagai Menteri Keuangan. Yustinus berpendapat bahwa gaya kepemimpinan Sri dinilai terlalu kaku dan berpotensi besar menimbulkan deadlock.
Selain itu, di akhir tahun 2020 lalu Sri Mulyani juga pernah membagikan cerita pengalamannya sebagai pemimpin perempuan melalui sebuah video saat beliau menjadi Principal Mentor pada Girls Leadership Class bertemakan “Mendorong Kepemimpinan dan Kaum Muda Perempuan Dalam Pembangunan”. Video tersebut diunggah Sri pada akun media sosial pribadinya sebagai bentuk dukungan Sri untuk menciptakan pemimpin – pemimpin perempuan yang lebih berkualitas.
"Menjadi pemimpin, terlebih lagi perempuan, tidaklah mudah. Di dalam perjalanan hidup, kalian akan banyak diuji. Bisa jadi apa yang kalian rencanakan atau cita-citakan tidak sesuai dan kalian akan dihadapkan pada seribu alasan untuk menyerah," demikian keterangan yang ditulis dalam video unggahan Sri Mulyani (20/12/2020).
Komunikasi politik yang dijalankan oleh Sri Mulyani melalui akun media sosialnya tersebut membuktikan tekad kuat beliau untuk menghapuskan bias atau diskriminasi gender di tengah – tengah masyarakat. Sri Mulyani menekankan bahwa kualitas kepemimpinan seseorang tidak dapat didefinisikan berdasarkan gender orang tersebut. Akan tetapi, bagaimana cara ia untuk menghadapi kegagalan adalah tolak ukur terbaik dalam menilai seorang pemimpin.
Terlepas dari berbagai stigma negatif atas kepemimpinannya dalam dunia politik, Sri Mulyani selaku Menteri Keuangan diketahui telah menunjukkan keberhasilannya dengan berbagai penghargaan internasional yang diraihnya dengan sekaligus mengharumkan nama bangsa.
Sri Mulyani setidaknya berkesempatan mendapatkan penghargaan Finance Minister of the Year for East Asia Pacific oleh Majalah Global Markets di tahun 2018 dan 2020. Selain itu, beliau juga termasuk ke dalam jajaran ‘The World’s 100 Most Powerful Women 2020’ versi Forbes dengan urutan posisi ke-78.
Sederet daftar penghargaan yang diraih Sri Mulyani selama masa kepemimpinannya sebagai Menteri Keuangan Republik Indonesia telah menunjukkan sekaligus mematahkan berbagai persepsi negatif yang melekat pada kepemimpinan perempuan dalam suatu negara. Pada hakikatnya, sangat penting bagi kepemimpinan suatu organisasi baik sektor publik maupun privat untuk mengakui nilai diversifikasi gender tanpa adanya stereotip tentang perilaku maskulin yang mengarah ke bias gender yang tidak disadari (unconscious gender bias) untuk tetap mengedepankan efisiensi dan efektivitas kinerja organisasi.
Referensi:
Baker, C. (2014). Stereotyping and women’s roles in leadership positions. Industrial and Commercial Training, 46(6), 332–337.
BBC. (2021). Why Do We Still Distrust Women Leaders?
CNBC Indonesia. (2021). Sederet Penghargaan Internasional Sri Mulyani, Bikin Bangga!
Hana, O. D. (2020). Menkeu Sri Mulyani: Jadi Pemimpin, Terlebih Perempuan, Tak Mudah.
Tempo.co. (2016). Tiga Plus Minus Sri Mulyani di Menteri Keuangan.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Belum Kering Lisan Sri Mulyani, Kini S&P Sudah Pasang Alarm Bahaya buat Fiskal RI
-
Sri Mulyani Tak Ingin Indonesia Khianati Disiplin Fiskal
-
Takut Bernasib Sama dengan Sri Mulyani, Purbaya Langsung Buru-buru Klarifikasi soal Guru Honorer
-
Kekayaan Jokowi dan Sri Mulyani yang Namanya Muncul di Epstein Files
-
Tiba-tiba Purbaya Singgung Demo Besar dan Penjarahan Rumah Sri Mulyani
News
-
Jangan Ada Lagi "Asal Bapak Senang": Menguji Nyali Kejujuran Birokrasi
-
Dia yang Berdehem Tiga Kali
-
Bye-bye Velocity! Mengapa Tren "Natural" D'Masiv Gantikan "Dung Tak Dung" di Momen Ramadan 2026
-
Terhindar dari Macet dan Polusi: Alasan Mal Jadi Tempat Ngabuburit Paling Nyaman
-
Fenomena Shower Thoughts: Kenapa Ide Cemerlang Muncul Pas Lagi Sabunan?
Terkini
-
Sial! Lagu 'So Asu' Naykilla Menjadi Candu yang Menghina Selera Musik Saya
-
Through the Olive Trees: Karya Agung Sinema Iran yang Puitis dan Modern
-
Alami Masalah Vokal, 10CM Kembalikan 100% Uang Penonton Konser di Singapura
-
Review Novel Pion Memorabilia: Bagaimana Bidak Kecil Mengubah Nasib Seorang Anak yang Dianggap Gagal
-
Sepupuku Seorang Ahli Matematika: Menghitung Angka di Bumi Hingga Antariksa