Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara (Lin, 1998). UMKM di Indonesia sangat beragam, khususnya di era modern ini yang meliputi berbagai bidang usaha.
Salah satu usaha menengah yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah kerajinan bambu. Pembahasan soal UMKM akan berkaitan dengan tantangannya khususnya persaingan bisnis.
Potensi yang dimiliki cukup tinggi melihat bahwa bambu merupakan produk ramah lingkungan. Namun kembali lagi, zaman semakin berkembang dan berubah seiring berjalannya waktu.
Pelaku usaha kian bersaing dengan memanfaatkan teknologi digital sebagai pemasaran produk. Itulah kendala utama yang dialami oleh Prinxmas, UMKM kerajinan bambu.
Desa Brajan
Prinxmas merupakan usaha kerajinan bambu yang berasal dari Desa Brajan, Sleman. Usaha ini telah berdiri selama lebih dari 10 tahun dan dijalankan secara turun temurun. Pak Sulisman, selaku pemilik usaha ini mengakui bahwa teknologi merupakan tantangan besar.
“Pemasarannya sekarang ya banyak saingannya, kita sudah tua, sudah ketinggalan masalah elektronik,” kata Pak Sulisman.
Usaha Prinxmas ini berasal dari desa kecil di wilayah Sleman yang khas dengan kerajinan bambu. Persaingan yang ada meliputi antar sesama pelaku usaha kerajinan bambu.
Usaha ini merupakan mata pencaharian utama masyarakat Desa Brajan. Lebih dari 100 perajin bambu di Desa Brajan yang siap melayani secara langsung maupun online (Atmoko, 2021).
“Sekarang agak turun, kerajinan bambu ada di mana-mana,” ungkap Pak Sulisman.
Pada era modern ini, usaha kerajinan bambu mulai turun peminat karena banyaknya inovasi yang muncul. Banyaknya pelaku usaha di desa kecil ini mempersempit peluang inovasi muncul. Namun ditengah banyaknya pendatang dan perkembangan teknologi, pelaku usaha harus bisa menghadapinya.
“Ya kita memang harus berani muncul di media sosial untuk promosi,” jawab Pak Sulisman.
Demi kelancaran usaha, Pak Sulisman mulai beradaptasi dan ikut menggunakan media sosial. Selain itu juga penting untuk selalu memiliki inovasi produk agar tetap bisa bersaing di desa kecil ini.
Jenis kerajinan bambu di Desa Brajan diawali dengan besek dan ceting. Diversifikasi menghasilkan lebih dari 110 jenis kerajinan bambu dengan mengikuti trend market export (Atmoko, 2018). Perkembangan ini terjadi karena adanya relevansi antara kebutuhan masyarakat dan inovasi produk.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Pandemi Bawa Berkah, Eks Pemain Persib Bikin Usaha Clothing hingga Ekspor ke Malaysia
-
UMKM Makin Tangguh, PaDi UMKM Jadi Andalan Tingkatkan Daya Saing
-
70 Ribu UMKM Segera Bebas Utang Bank
-
BRI Life Berikan Perlindungan Asuransi Mikro Bagi 35.224 Petani dan UMKM di Jawa Barat
-
Review Aku Tahu Kapan Kamu Mati: Desa Bunuh Diri, Sekuel yang Lebih Ngeri
News
-
Connect Community: Bergerak dari Kampus, Berdampak bagi Remaja Desa
-
Mengayuh Inspirasi ke Sekolah: Konsistensi Guru Matematika dalam Gaya Hidup Bike to Work
-
The Alana Yogyakarta Hadirkan "Alana Langgam Rasa", Destinasi Kuliner Authenthic Jawa di Yogyakarta
-
Petir Cup 2026 Usai, Semangat Menendang Masih Menggelegar
-
Tak Sekadar Riding, Begundal War Wer Tunjukkan Sisi Positif Komunitas Motor
Terkini
-
Dari Chat 5 Menit Menjadi FBI Kasur Lipat: Saat Cinta Menjadi Obsesi
-
Review Buku The Power of Sun Tzu: Panduan Taktis Menghadapi Tekanan Hidup Modern
-
Siapakah Lelaki Misterius yang Mendorong Brankar Jenazah Dini Hari Itu?
-
Soul Plate: Ketika Member Astro Berubah Jadi Malaikat Restoran, Efektifkah Promosinya?
-
Kisah Tragedi Berdarah di Apartemen Virgil dalam film, They Will Kill You