Seni adalah salah satu unsur kebudayaan yang melekat dengan kehidupan manusia. S.Sudjojono, pelukis ternama Indonesia, dalam buku Seni dan Budaya (2006) karya Harry Sulastianto, dkk, mengungkapkan bahwa seni adalah jiwa tampak.
Setiap orang memiliki kebebasan dalam mengekspresikan segala emosi atau perasaannya melalui karya seni. Namun, bagi komunitas difabel, pentas seni bukan hanya sebagai bentuk ekspresi diri, melainkan sebagai sarana untuk mendapatkan pengakuan dan apresiasi dari masyarakat luas.
Broto Wijayanto atau yang dikenal dengan Mas Broto hadir menjadi tokoh inspiratif bagi masyarakat. Beliau membentuk komunitas yang yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan seni teman-teman difabel.
Komunitas ini dikenal dengan komunitas Bawayang. Komunitas ini menjunjung tinggi nilai inklusif sehingga menjadi rumah bagi teman-teman difabel untuk berkarya. Mas Broto memiliki misi utama yaitu untuk menunjukkan tentang budaya dari teman-teman difabel melalui seni.
Pada awalnya komunitas ini dikenal dengan nama Deaf Art Community, namun pada tahun 2019, Mas Broto mengubah Deaf Art Community menjadi komunitas Bawayang.
Beliau mengungkapkan bahwa teman-teman difabel yang bergabung dalam komunitas ini mengibaratkan sebuah pesawat terbang yang memiliki pilot dan co-pilot. Mereka membayangkan pesawat yang mereka bawa akan terbang tinggi dan meninggalkan bumi.
Artinya, difabel sering kali dianggap sebagai kelompok minoritas yang memiliki keterbatasan di lingkungan masyarakat. Oleh karena itu, mereka mempunyai keyakinan bahwa mereka mampu berkarya serta berharap masyarakat dapat mengapresiasi keterampilan dalam diri mereka.
Bawayang hadir sebagai wadah untuk mengembangkan potensi seni melalui keterampilan seni yang ada, salah satu contohnya adalah pantomim.
Sebelum komunitas ini terbentuk, Mas Broto mengungkapkan bahwa komunitas ini terbentuk dari semangat teman-teman bisu tuli untuk mengadakan pentas seni pertama kalinya.
Dengan adanya pentas seni, mereka merasa bahwa karya serta keterampilan mereka dapat dilihat dan diapresiasi oleh banyak orang. Tidak hanya itu, teman-teman difabel juga merasa lebih percaya diri dan memiliki motivasi untuk terus berkarya.
Pantomim menjadi cara teman-teman Bawayang untuk mewujudkan cita-cita mereka. Sejak tahun 2019, mereka sudah mengadakan pentas seni melalui karya pantomime yang mengangkat tema “Jangan Lihat Aku Dengan Matamu, Lihatlah Aku Dengan Hatimu”.
Kesuksesan mereka dalam bermain peran melalui bahasa isyarat menjadi langkah untuk memperkenalkan budaya teman bisu tuli kepada masyarakat.
Seiring berjalannya waktu, komunitas Bawayang turut berpartisipasi dalam berbagai kegiatan pentas seni seperti pekan budaya difabel Yogyakarta pada tahun 2021.
Tidak hanya itu, masyarakat juga mulai mengenal dan turut mendukung teman-teman Bawayang melalui kolaborasi seni antarkomunitas yang ditampilkan secara umum.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Artikel Terkait
-
AI Mengguncang Dunia Seni: Kreator Sejati atau Ilusi Kecerdasan?
-
Ulasan Buku Seni Mengelola Waktu: Pentingnya Perencanaan Waktu yang Cermat
-
6 Komunitas Womenpreneur Indonesia, Wadah Pemberdayaan Perempuan Pengusaha
-
Ramadan di Jepang: Komunitas Muslim Berbagi dengan Tunawisma dan Ubah Stigma Islam
-
Pengalaman Lari Unik Melintasi Hidden Gem di Jakarta
News
-
Kode Redeem Genshin Impact Hari Ini, Hadirkan Hadiah Menarik dan Seru
-
Pasar Literasi Jogja 2025: Memupuk Literasi, Menyemai Budaya Membaca
-
Bukan Hanya Kembali Suci, Ternyata Begini Arti Idulfitri Menurut Pendapat Ulama
-
Contoh Khutbah Idul Fitri Bahasa Jawa yang Menyentuh dan Memotivasi
-
Hikmat, Jamaah Surau Nurul Hidayah Adakan Syukuran Ramadhan
Terkini
-
Menang 0-1 Atas Korea Selatan, Jadi Modal Penting Bagi Timnas Indonesia U-17
-
Bangkit dari Kematian, 4 Karakter Anime Ini Jadi Sosok yang Tak Tertandingi
-
Review Pulse: Series Medis Netflix yang Tegang, Seksi, dan Penuh Letupan
-
Tuhan Selalu Ada Bersama Kita dalam Buku "You Are Not Alone"
-
Women in STEM, Mengapa Tidak?