Arif, seorang teman tuli dari komunitas Bawayang berhasil mengukir prestasi dibidang seni dalam negeri hingga luar negeri. Arif menjadi tokoh inspiratif yang mendapatkan dukungan serta apresiasi dari masyarakat. Ia mampu membuktikan bahwa keterbatasan yang ada bukan menjadi penghalang untuk meraih mimpi.
Komunitas Bawayang menjadi rumah bagi Arif dalam mengembangkan potensi di dunia seni. Bawayang merupakan komunitas yang mendukung dan mengembangkan kemampuan seni teman-teman difabel. Pada awalnya komunitas ini dikenal dengan nama Deaf Art Community yang terbentuk sekitar tahun 2004. “Aku telah bergabung sejak tahun 2005” ungkap Arif melalui bahasa isyarat yang diterjemahkan oleh juru bahasa isyarat.
Pada tahun 2018, Broto Wijayanto atau yang dikenal dengan Mas Broto sebagai pendiri komunitas Bawayang mengubah Deaf Art Community menjadi komunitas Bawayang. Beliau mengungkapkan bahwa ia ingin memperkenalkan budaya teman bisu kepada masyarakat melalui karya seni, seperti tari, pantomim, puisi isyarat, dan sebagainya.
Arif menekuni seni gerak tubuh yang ekspresif atau yang disebut dengan pantomim. Ia mengembangkan kemampuan serta potensi dalam dirinya dibawah bimbingan mas Broto serta mentor lainnya yang ada di Bawayang. Seiring berjalannya waktu, Arif sebagai bagian dari komunitas Bawayang turut berpartisipasi dalam berbagai kegiatan pentas seni.
Arif memulai pertunjukan seni pantomime sejak tahun 2019 bersama dengan teman-teman bisu tuli dari Bawayang dengan tema “Jangan Lihat Aku Dengan Matamu, Lihatlah Aku Dengan Hatimu”. Hal ini menjadi langkah awal untuk Arif menjadi seorang seniman hebat dengan gerak tubuh yang ekspresif di atas panggung.
Dengan semangat dan tekad, Arif mampu menampilkan karyanya di ranah Internasional. Ia menjadi salah satu teman tuli dari Bawayang yang terlibat dalam acara PBB terkait kebencanaan di Swiss. Arif dikirim sebagai perwakilan dari Indonesia yang mengajarkan terkait kebencanaan melalui seni pantomim. Pertunjukan ini didukung oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bekerja sama dengan komunitas Bawayang.
“Kita juga pernah ke Australia, disana kita bikin film pendek” ungkah Arif melalui bahasa isyarat yang diterjemahkan oleh juru bahasa isyarat. Kesuksesan Arif di ranah Internasional tidak hanya membanggakan dirinya, namun dapat menjadi motivasi bagi masyarakat, khususnya difabel. Penghargaan yang diberikan oleh Arif bukan sebuah piala atau penghargaan lainnya, namun bagaimana ia bisa membuktikan dan menggapai cita-citanya.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Artikel Terkait
-
6 Komunitas Womenpreneur Indonesia, Wadah Pemberdayaan Perempuan Pengusaha
-
Ramadan di Jepang: Komunitas Muslim Berbagi dengan Tunawisma dan Ubah Stigma Islam
-
Pengalaman Lari Unik Melintasi Hidden Gem di Jakarta
-
Keseruan Voluntrip Ramadhan: "GELORA" Teman Berjalan di Kampung Piyungan
-
Tanamkan Nilai Sosial, Komunitas SWA Hadirkan Rumah Layak bagi Keluarga yang Membutuhkan
News
-
Kode Redeem Genshin Impact Hari Ini, Hadirkan Hadiah Menarik dan Seru
-
Pasar Literasi Jogja 2025: Memupuk Literasi, Menyemai Budaya Membaca
-
Bukan Hanya Kembali Suci, Ternyata Begini Arti Idulfitri Menurut Pendapat Ulama
-
Contoh Khutbah Idul Fitri Bahasa Jawa yang Menyentuh dan Memotivasi
-
Hikmat, Jamaah Surau Nurul Hidayah Adakan Syukuran Ramadhan
Terkini
-
Review Novel 'Kerumunan Terakhir': Viral di Medsos, Sepi di Dunia Nyata
-
Bertema Olahraga, 9 Karakter Pemain Drama Korea Pump Up the Healthy Love
-
Fenomena Pengangguran pada Sarjana: Antara Ekspektasi dan Realita Dunia Kerja
-
Menelaah Film Forrest Gump': Menyentuh atau Cuma Manipulatif?
-
Krisis Warisan Rasa di Tengah Globalisasi: Mampukah Kuliner Lokal Bertahan?