Pembagian rapor yang dilakukan wali kelas di sekolah biasanya hanya memberikan arahan dan sambutan kepada orang tua lalu setelahnya sesi pembagian rapor. Berbeda halnya dengan cara yang digunakan oleh Angga Fuja Widiana, seorang pengajar Matematika di SMP Pupuk Kujang yang sekaligus mendampingi siswa kelas 7 sebagai wali kelas.
Beliau mempersiapkan proyektor untuk menampilkan layar presentasi, laptop, pengeras suara dan bahkan piano di dalam kelas saat kegiatan pembagian rapor di hari Kamis (26/6/2025) sekitar pukul 09.10 WIB - 10.30 WIB. Sebagai wali kelas, Angga memberikan penjelasan secara umum dan akademik.
Dengan menyampaikan saran dan apresiasi terhadap siswanya dalam proses kegiatan belajar mengajar yang telah diikuti dalam 1 tahun, baik dari segi keaktifan dan perkembangan sosial yang terjadi. Ia juga menyampaikan bahwa dalam isi rapor terdapat laporan hasil belajar siswa, laporan pencapaian pembelajaran keagamaan, dan sertifikat native speaker dalam presentasinya.
Kemudian ada hal yang tak biasa dalam pembagian rapor yakni Reflection Session berupa muatan positif ketika siswa harus berkembang di usianya, berkarakter, dan sukses di masa depan. Angga memaparkan tayangan video yang berisi nasihat dan motivasi kepada orang tua bahwa nilai rapor bukan segalanya.
Bahkan diberikan analogi bahwa orang yang menjadi direktur saja bukan orang yang dahulunya mendapatkan peringkat 1 di kelas, malahan orang yang mendapatkan peringkat 1 di kelas itu bisa saja di bawah mereka. Tentu saja ini tidak menghentikan semangat bagi siswa yang sudah mendapatkan peringkat pertama di kelas, tetapi justru dijadikan sebagai sebuah pengingat dan nasihat.
Angga mengupayakan siswanya untuk selalu memiliki rasa percaya diri, berkarakter dan berakhlak mulia, jujur, pantang menyerah, bertanggung jawab, mencoba hal baru, disiplin, berani, adaptif dan kolaboratif. Beliau menekankan kepada seluruh siswa bahwa dirinya sangat tidak suka bila menemukan siswa yang menyontek, karena jujur merupakan bagian dari upaya yang diutamakan dalam pembelajaran karakter siswa.
Setelah menyampaikan presentasi, siswa kelas 7 tersebut akan mempersembahkan lagu berjudul Yang Terbaik Bagimu - Ada Band dan Selalu Ada di Nadimu - Bunga Citra Lestari di hadapan seluruh orang tua dengan wali kelas mengiringinya melalui piano. Mereka semua berlatih sekitar 1 - 2 hari untuk mempersiapkannya, hal itu ditujukan untuk memeriahkan hari terakhir pembagian rapor bersama wali kelasnya yang telah membimbing selama ini.
Selanjutnya, Angga juga menyoroti makna lirik lagu yang telah dinyanyikan dengan menghubungkannya pada orang tua dan anak. Seketika tujuannya semata-mata untuk mendidik anak agar selamat dan bertahan dalam kehidupannya. Inilah pesan terakhir yang disampaikan oleh beliau kepada hadirin yang telah menyempatkan datang dalam pembagian rapor.
Sebelum mengakhiri kegiatan tersebut, setiap siswa diminta untuk mengambil pensil untuk dipatahkan menggunakan kelingking atau tangan. Sebagai bentuk tantangan membangun kepercayaan diri dan dukungan kepada anak dari orang tua, pastinya pensil tersebut dapat terpatahkan melalui dasar keyakinan yang dimiliki. Akhirnya, seluruh siswa berhasil untuk mematahkan pensil tersebut menggunakan tangan.
Uniknya, dalam sesi pembagian rapor ini diserahkan kepada siswa dan langsung diberikan kepada orang tua. Setelah menerima rapor, orang tua bisa melihat hasil rapor dan menyampaikan wejangan atau nasihat untuk anaknya. Apabila jika ada konsultasi, maka dapat dilakukan setelah rangkaian kegiatan selesai.
"Saya tidak ingin sesi ini hanya formalitas, tetapi ingin meninggalkan pesan bahwa setiap anak punya potensi, dan tugas kita sebagai orang tua dan guru adalah mendukung serta mempercayainya," ucap Angga Fuja Widiana dalam kegiatan pembagian rapor di kelas 7.3.
Kegiatan pembagian rapor bersama Angga Fuja Widiana bukan hanya menjadi evaluasi hasil belajar, tetapi juga momentum reflektif. Dengan pendekatan yang inspiratif dan penuh makna, ia membuktikan bahwa pendidikan sejatinya bukan sekadar angka, melainkan tentang membentuk manusia yang utuh dan berkarakter.
Baca Juga
-
Peluncuran Buku demi Pencitraan: Efektifkah di Tengah Krisis Kepercayaan?
-
Anak Krakatau Meletus, Kenapa Bandara Soetta Ditutup tapi Kapal Penyeberangan Tetap Buka?
-
Kuliah Umum FPIPS UPI Gebrak Semangat Mahasiswa: Jangan Jadi Mahasiswa Kupu-Kupu!
-
Solusi Pamungkas Masalah Bangsa: Ganti Pemimpin atau Tukar Tambah Rakyat?
-
Esai 1.000 Kata Wajib 10 Sumber: Ketika Kuantitas Membunuh Analisis Kritis
Artikel Terkait
-
45 Contoh Catatan Wali Kelas untuk Kenaikan dan Tinggal Kelas Guru SD & SMP
-
Refleksi Idul Qurban: Jejak Keteladanan Nabi Ibrahim dalam Kehidupan Umat Muslim
-
Di Balik Pintu Kelas: Refleksi Pembelajaran di Hari Pendidikan Nasional
-
Hardiknas: Bukan Sekadar Upacara, Tapi Tentang Kita Percaya pada Pendidikan
-
Menyambut Hari Buruh dengan Refleksi dan Harapan untuk Perubahan
News
-
Jamuan Puan Rimba, Membawa Cerita Perempuan Penjaga Hutan Lewat Pangan Lokal
-
Jangan Tunggu Akun Kebobolan! Kenali 8 Tanda HP Disadap dan Disusupi 'Malware'
-
The Veil Club Layer 2 Gaet Trinkieland, Hadirkan Eksplorasi Modest Wear Lewat Main Character Weekend
-
Mengupas Kekuatan Ombudsman Law: Senjata Ampuh Bongkar Fasilitas Mewah Lapas Cibinong!
-
Kisah Pilu Tragedi KMP Virgo: Saat Firasat Saudara Kembar Terjawab di Balik Kantong Jenazah
Terkini
-
Ulasan Minggat: Lima Sekawan Hadapi Penyeludup Misterius di Pulau Kirrin!
-
Review Lagu 'Sederhana' Sheila On 7: Sindiran Buat si Paling Hobi Pamer
-
Kita Tak Bisa Menyelamatkan Satwa Sambil Menghancurkan Habitatnya
-
Otomatisasi Kreativitas: Apakah Seni dan Tulisan Kita Masih Berjiwa?
-
Jari ke Janji, saat Pena Menjadi Pedang dan Kata Kehilangan Makna