Kepala Sekolah SD Negeri Karangmloko 1, Rr. Khoiry Nuria Widyaningrum, S.Pd., M.Pd., memandang kedekatan guru dan murid sebagai kunci utama membangun sekolah yang aman.
Dengan hubungan yang terbuka dan penuh kepercayaan, ia meyakini setiap murid dapat tumbuh tanpa rasa cemas dan berani menyampaikan apa yang mereka rasakan.
Selain memimpin sekolah, ia juga aktif sebagai Penggerak Komunitas BERGEMA KS Pusat Data dan Teknologi Informasi di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Ketua Lingkar Daerah Belajar (LDB) Sleman, pengalaman yang membuatnya memahami pentingnya hubungan yang sehat antarwarga sekolah.
Di SD Negeri Karangmloko 1, guru memulai hari dengan menyapa murid melalui salam, tos kreatif, dan percakapan singkat.
Menurut Ibu Nuri, kegiatan sederhana ini berfungsi sebagai langkah awal untuk melihat kondisi emosional anak sebelum proses belajar dimulai.
Dari interaksi singkat itulah guru dapat menangkap apakah murid datang dengan ceria, tampak murung, atau menunjukkan perubahan perilaku lain yang perlu diperhatikan.
Perubahan kecil pada murid menjadi indikator penting untuk mengenali adanya masalah, baik yang berasal dari lingkungan rumah, pertemanan, maupun potensi perundungan.
“Guru itu harus peka melihat perubahan kecil. Anak yang biasanya ceria tiba-tiba diam saja, itu tanda kita harus mendekat,” ujarnya.
Kedekatan yang dibangun melalui interaksi rutin membuat murid merasa lebih aman untuk mengungkapkan perasaan mereka.
Murid tidak lagi takut atau enggan menyampaikan pengalaman yang membuat mereka tidak nyaman. Lingkungan belajar yang aman secara emosional dinilai berperan besar dalam meminimalkan potensi terjadinya perundungan di sekolah.
Menghargai Potensi Murid dan Menjaga Profesionalisme
Ibu Nuri mendorong guru untuk mengenali potensi setiap murid melalui berbagai bentuk apresiasi, termasuk program Bintang Kebaikan.
Program ini diberikan berdasarkan perilaku positif dalam keseharian, seperti membantu teman, menunjukkan kepedulian, atau menjaga ketertiban.
“Setiap anak punya potensi dan kekuatan. Tapi potensi itu tidak akan tumbuh kalau tidak dikenali dan dihargai,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa apresiasi tersebut bertujuan agar setiap murid merasa dihargai dan tidak tersisihkan.
Guru diharapkan mampu memahami karakter murid secara menyeluruh sehingga proses pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak.
Meski kedekatan menjadi bagian penting dari interaksi di sekolah, Ibu Nuri menegaskan bahwa batas profesional tetap harus dijaga.
Guru bisa menjadi pembimbing dan tempat bercerita bagi murid, namun tetap memegang peran sebagai pendidik yang dihormati.
Menurutnya, setiap murid memiliki kebutuhan, karakter, dan cara belajar yang berbeda. Karena itu, guru perlu hadir dengan kepekaan dalam mendampingi mereka.
Dengan memahami karakter masing-masing anak, proses pembelajaran dapat berlangsung lebih tepat sasaran, sekaligus memperkuat hubungan antara guru dan murid.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Ngaku Fans Peterpan, Pasha Ungu Antusias Ditawari Jadi Vokalis
-
Ipar Dituding Numpang Hidup, Ayu Ting Ting Langsung Pasang Badan
-
Swara Prambanan 2025, Tutup Tahun dengan Nada, Budaya, dan Doa
-
Tanpa Kembang Api, Swara Prambanan 2025 Rayakan Tahun Baru dengan Empati
-
Saat Sketsa dan Tulisan Berubah Jadi Aksi Menjaga Mangrove di Pantai Baros
Artikel Terkait
-
Jule dan Na Daehoon Resmi Cerai: Hak Asuh Tiga Anak Diberikan ke Ayah
-
Hamil Anak Pertama, Susan Sameh Sering Keluhkan Asam Lambung di Malam Hari
-
Cyberbullying Bisa Lebih Kejam daripada Bullying Biasa, Mengapa?
-
Waspada! Ini Alasan Migrain Sangat Umum Menyerang Anak dan Remaja
-
Sosok 3 Anak Epy Kusnandar yang Jadi Sorotan Usai Sang Aktor Meninggal Dunia
News
-
Ichigo Ichie: Seni Menikmati Hidup di Era Distraksi Digital
-
Gebrak Jalur AKAP: Rahasia Viral Bus Listrik PO Sumber Alam di Tahun 2026
-
Tak Banyak yang Tahu, Surat Kartini Justru Pertama Kali Berbahasa Belanda
-
Bukan Sekadar Ulang Tahun, Kirab Sultan HB X Wujud Kedekatan dengan Rakyat
-
Over Tourism Mengancam, Seberapa Efektif Pembatasan di Taman Nasional Komodo?
Terkini
-
Satu Sepatu Segala Suasana: Tips Styling Sneakers Putih dari Kantor hingga Kencan
-
Seni Hidup Sederhana dalam Nasi Panas dan Ikan Asin
-
Generasi Z dan Ilusi Kesuksesan Modern: Jabatan Masih Relevan Nggak Sih?
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Mata yang Mengintip dari Dalam Air