Bimo Aria Fundrika | inda safitri
Aktivitas rekonstruksi jembatan rangka baja yang membentang di atas sungai besar yang sedang berwarna cokelat keruh. (Ist.)
inda safitri

Akhir tahun ini, tanpa permisi, duka lara mendatangi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Tak ada yang menyangka tiga wilayah tersebut akan mengalami banjir yang bahkan disertai material lumpur dan pohon.

Tanah longsor pun turut memperparah kondisi. Padahal, wilayah-wilayah ini dikenal memiliki hutan yang begitu luas.

BMKG menyampaikan bahwa curah hujan yang sangat ekstrem terjadi pada 25–27 November dan menjadi pemicu utama bencana. Dalam periode tersebut, hujan diperkirakan mencapai 300 milimeter per hari.

Bahkan, di Kabupaten Bireuen, curah hujan sempat menyentuh 411 milimeter per hari, lebih tinggi dari rata-rata curah hujan bulanan di wilayah tersebut.

Jika bencana yang terjadi di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara hanya berupa banjir, mungkin hujan ekstrem dapat disebut sebagai pemicu utama. Namun faktanya, bencana yang terjadi bukan sekadar luapan air. Tanah longsor dan material yang terbawa arus menjadi bagian dari kehancuran itu.

Secara logis, bencana yang disertai longsor dan material berat menunjukkan bahwa bukan hanya hujan ekstrem yang berperan, melainkan ada kemungkinan ulah manusia yang tidak bertanggung jawab. Jika dugaan ini benar, semoga para pelaku mendapat hukuman setimpal dengan kerusakan yang ditimbulkan.

Sejak 26 November, perhatianku tak lepas dari kabar tentang mereka. Berbagai dokumentasi yang kutemukan memperlihatkan upaya warga untuk bertahan hidup. Bencana ini menimbulkan kerusakan yang teramat parah dan bahkan merenggut lebih dari 1.100 nyawa manusia.

Jika hanya air yang menggenangi permukiman, mungkin mereka bisa lebih cepat bangkit. Sayangnya, air datang membawa lumpur dan pohon-pohon besar.

Ukuran pohon yang terbawa arus mampu memporak-porandakan rumah dan infrastruktur. Lumpur tebal memperburuk keadaan. Akibatnya, kebutuhan dasar hidup terenggut sepenuhnya. Makanan dan minuman sangat terbatas, listrik padam, air bersih tak tersedia. Kondisi ini berlangsung selama berhari-hari.

Meski dilingkupi keadaan nelangsa, mereka tidak menyerah. Semangat untuk bertahan hidup begitu luar biasa. Saat tak ada air minum, mereka berusaha mengolah air banjir agar bisa dikonsumsi. Saat makanan langka, mereka mencarinya di rumah-rumah yang masih bisa dijangkau.

Ketika listrik padam, mereka mengandalkan cahaya alam. Bahkan, dengan alat dan tenaga seadanya, mereka bergotong royong membuka akses jalan. Aku tahu, aku tak akan sekuat mereka jika berada di posisi yang sama.

Upaya itu perlahan membuahkan hasil. Jalan yang mereka bersihkan mulai bisa dilalui. Bantuan pun datang sedikit demi sedikit, meski akses masih sangat terbatas.

Fakta ini membuatku ingin segera datang membantu. Sayangnya, aku belum mampu. Yang bisa kulakukan hanyalah menggalang dana dan mendoakan mereka bersama anak-anak didikku dan rekan kerja. Kami berdoa agar Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat segera pulih, serta bantuan yang dibutuhkan segera berdatangan.

Alhamdulillah, doa itu mulai terjawab. Pada 3 Desember, sejumlah ruas utama Lintas Timur Aceh kembali terhubung dan fungsional, di antaranya Lhokseumawe–Aceh Utara, Langsa–Kuala Simpang, serta Kuala Simpang–batas Provinsi Sumatera Utara. Seluruh jenis kendaraan sudah dapat melintas.

Kemudian, pada 5 Desember 2025, Kementerian Pekerjaan Umum berhasil membuka akses Tarutung–Sibolga sepanjang 38 kilometer. Jalur-jalur darat yang sebelumnya terputus akibat banjir bandang dan longsor perlahan pulih kembali.

Di sisi lain, masyarakat Indonesia turut menunjukkan solidaritas luar biasa. Bantuan disalurkan melalui Ferry Irwandi dan Kitabisa.com. Berkat dibukanya akses darat oleh Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR, bantuan dapat segera sampai ke lokasi terdampak.

Untuk wilayah yang belum dapat dijangkau jalur darat, tim Ferry dan Kitabisa.com berkolaborasi dengan TNI, Polri, Rumah Tani, serta Susi Air untuk menyalurkan bantuan melalui jalur udara. Alhamdulillah, bantuan masyarakat Indonesia telah tersalurkan seluruhnya.

Perlahan, kondisi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mulai pulih. Aktivitas jual beli kembali berlangsung, fasilitas kesehatan mulai beroperasi meski terbatas, dan warga membersihkan lumpur yang menimbun rumah mereka. Alhamdulillah, perlahan bangkit dari bencana.

Bencana ini mengajarkan satu hal penting: rasa peduli masyarakat Indonesia masih sangat kuat. Jika tak mampu membantu dengan materi, mereka membantu dengan tenaga, suara, dan doa.

Pelajaran lain yang tak kalah penting, bencana ini mengingatkan bahwa alam sedang tidak baik-baik saja. Alam Indonesia membutuhkan perhatian dan tanggung jawab bersama. Ia bukan hanya milik mereka yang tinggal di sekitarnya, melainkan milik seluruh bangsa.

Karena itu, mari bersiap dan siaga bencana. Pelajari mitigasi dengan sungguh-sungguh dan ajak orang di sekitar untuk melakukan hal yang sama. Insyaallah, dengan ikhtiar ini, kita lebih siap mencegah dan menghadapi bencana yang mungkin datang.

Akhir kata, untuk saudara-saudara sebangsa dan setanah air di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, doa dan dukungan masyarakat Indonesia akan selalu menyertai hingga pulih sepenuhnya.

Baca Juga