M. Reza Sulaiman | Frans Leonardi Sihotang
Ilustrasi tumpukan sampah. (pixabay.com/Hans)
Frans Leonardi Sihotang

Kamu mungkin sudah terbiasa melihatnya setiap hari: plastik bekas minuman di pinggir jalan, sisa makanan di selokan, tumpukan sampah di sudut pasar, atau puntung rokok yang berserakan di trotoar. Semua itu begitu akrab di mata kita, sampai-sampai pemandangan itu tidak lagi mengganggu.

Hal yang lebih ironis, banyak orang tahu bahwa membuang sampah sembarangan adalah perbuatan salah, tetapi tetap melakukannya seolah hal itu tidak berarti apa-apa. Membuang sampah kini bukan sekadar perilaku, melainkan gaya hidup yang diam-diam mengakar dalam keseharian masyarakat.

Wajah Kota yang Kian Sesak oleh Sampah

Setiap kali hujan datang dan banjir menggenangi jalanan, kita sering buru-buru menyalahkan sistem drainase. Padahal, di balik saluran air yang mampet, ada potongan plastik, bungkus makanan, dan botol minuman yang diselipkan oleh tangan-tangan yang merasa tak berdosa. Kota-kota besar di Indonesia kini menghadapi krisis kebersihan yang bukan hanya akibat keterbatasan fasilitas, melainkan karena pola pikir warganya yang masih menganggap sampah sebagai urusan orang lain.

Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan bahwa Indonesia menghasilkan lebih dari 60 juta ton sampah per tahun, dan sekitar 40 persennya tidak terkelola dengan baik. Artinya, jutaan ton sampah berakhir di sungai, laut, atau dibakar secara terbuka yang kemudian menambah polusi udara. Dalam konteks urban, masalah ini menjadi semakin kompleks karena padatnya populasi tidak diimbangi dengan sistem pengelolaan limbah yang efisien.

Namun, di balik angka-angka itu, ada cerita keseharian yang lebih dekat. Di warung kopi pinggir jalan, seorang pembeli membuang bungkus rokoknya begitu saja ke tanah. Di terminal, seorang ibu muda membuang tisu bekas tanpa berpikir dua kali. Di taman kota, sekelompok remaja selesai makan dan meninggalkan plastik di bangku tempat mereka duduk. Semua itu terlihat sepele, tetapi saat jutaan orang melakukan hal yang sama, terciptalah tumpukan masalah yang tidak lagi bisa disapu begitu saja.

Budaya Instan dan Hilangnya Rasa Kepemilikan

Kita hidup di era yang serba cepat. Semua serba praktis, serba instan, dan serba sekali pakai. Gaya hidup seperti ini tidak hanya mengubah cara kita bekerja atau berbelanja, tetapi juga memengaruhi cara kita memperlakukan lingkungan. Ketika segalanya bisa dibuang dan diganti, muncullah mentalitas disposable society: masyarakat yang terbiasa membuang, bukan memperbaiki atau menjaga.

Masalahnya bukan hanya pada benda yang dibuang, melainkan pada nilai-nilai yang ikut terbuang. Pada masa lalu, banyak keluarga menanamkan disiplin kebersihan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Orang tua mengajarkan anaknya untuk membuang sampah di tempatnya, menjaga halaman tetap rapi, dan menghargai ruang publik. Kini, dengan segala kesibukan dan distraksi digital, kebiasaan itu perlahan menghilang.

Kamu mungkin pernah mendengar kalimat, "Toh, cuma satu bungkus kecil, tidak akan berpengaruh." Padahal, justru dari pikiran kecil itulah gunung sampah terbentuk. Ketika rasa kepemilikan terhadap lingkungan hilang, maka tanggung jawab pun ikut menguap. Masyarakat seakan hidup di ruang yang bukan miliknya sehingga merasa tidak perlu menjaganya. Padahal, lingkungan yang bersih adalah hak dan tanggung jawab bersama.

Keteladanan yang Pudar di Tengah Kepedulian Semu

Banyak program kebersihan yang lahir dari niat baik, tetapi gagal karena tidak dibarengi keteladanan. Pemerintah membuat aturan, tetapi pelanggarannya dibiarkan. Sekolah menggelar lomba kebersihan, tetapi tidak menanamkan kebiasaan jangka panjang. Komunitas mengadakan aksi bersih-bersih, namun seminggu kemudian tempat yang sama kembali kotor.

Keteladanan menjadi hal yang langka. Kita sering menuntut orang lain untuk tertib, tetapi lupa menertibkan diri sendiri. Seorang pejabat bisa berpidato panjang tentang lingkungan, namun membuang sampah dari jendela mobil. Warga bisa menulis keluhan tentang sungai yang kotor, tetapi masih membuang sisa makanan ke saluran air.

Kepedulian semu ini menjelma dalam banyak bentuk. Banyak orang aktif berkomentar di media sosial tentang isu lingkungan, tetapi jarang yang benar-benar melakukan tindakan nyata. Padahal, perubahan besar sering kali dimulai dari langkah kecil. Keteladanan yang konsisten, bukan sekadar kata-kata indah, adalah bahan bakar utama untuk mengubah perilaku masyarakat.

Dampak Nyata yang Terlalu Lama Diabaikan

Masalah sampah bukan hanya soal pemandangan yang tidak sedap. Ia membawa dampak nyata bagi kehidupan. Sampah plastik yang menumpuk di laut telah menjerat ribuan biota laut. Sungai yang kotor menjadi sarang penyakit dan memperparah banjir pada musim hujan. Udara yang tercemar akibat pembakaran sampah terbuka menambah beban kesehatan masyarakat.

Indonesia bahkan dinobatkan sebagai salah satu penyumbang sampah plastik ke laut terbesar di dunia. Angka itu bukan sekadar statistik memalukan, melainkan alarm keras tentang cara kita hidup. Jika tidak ada perubahan, dalam beberapa dekade mendatang laut kita mungkin akan lebih banyak berisi sampah daripada ikan.

Saatnya Menata Ulang Cara Kita Hidup

Sampah bukan sekadar hasil dari apa yang kita konsumsi, melainkan cermin dari bagaimana kita hidup. Membuang sampah sembarangan adalah tanda bahwa kita belum berdamai dengan lingkungan. Saatnya berhenti menganggap kebersihan sebagai urusan pemerintah atau petugas kebersihan semata. Ini tentang gaya hidup, kesadaran, dan rasa hormat terhadap tempat kita berpijak.

Kamu bisa memulai dari hal sederhana: membawa botol minum sendiri, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah rumah tangga, dan tentu saja membuang sampah di tempatnya. Kecil, tetapi jika dilakukan banyak orang, dampaknya luar biasa besar. Perubahan itu dimulai dari diri sendiri, dari keputusan sederhana untuk berhenti menutup mata pada sampah di depan mata.

Baca Juga