Sebagai penulis yang karyanya kerap menjadi korban pembajakan, Tere Liye melalui Selamat Tinggal menghadirkan kritik sosial terhadap praktik pembajakan buku yang seolah tidak pernah benar-benar diberantas.
Novel ini tidak hanya menyajikan kisah personal, tetapi juga menggambarkan ironi dunia literasi, ketika penulis dirugikan sementara pembajak justru hidup berkecukupan.
Sinopsis
Tokoh utama novel ini adalah Sintong, seorang mahasiswa tingkat akhir yang telah tujuh tahun belum menyelesaikan kuliahnya hingga dijuluki “mahasiswa abadi”. Untuk membiayai kuliahnya, ia bekerja menjaga toko buku bajakan milik pamannya. Ia sadar bahwa pekerjaannya merugikan para penulis, tetapi keadaan ekonomi dan utang budi kepada keluarga membuatnya sulit keluar dari pekerjaan tersebut.
Konflik batin Sintong semakin dalam ketika ia menemukan karya seorang penulis bernama Sutan Pane, sosok penulis kritis yang berani menyuarakan kebenaran hingga akhirnya menghilang tanpa kabar.
Sintong mengetahui nama tersebut dari sebuah akun media sosial yang rutin mengucapkan ulang tahun untuk sang penulis.
Rasa penasarannya mendorongnya mencari tahu lebih jauh, hingga ia menemukan kenyataan pahit: karya Sutan Pane dibajak, sementara keluarganya hidup dalam kesulitan. Bahkan cucunya terpaksa putus sekolah karena tidak mendapat hak ekonomi dari karya sang kakek.
Di tengah pergulatan moral itu, Sintong juga menghadapi konflik percintaan. Ia dekat dengan Jess, gadis yang gemar membaca buku bajakan.
Tokoh ini sempat menjadi perbincangan karena, menurut pengakuan JS Khairen, nama “Jess” diambil dari namanya oleh Tere Liye. Namun dalam novel, Jess justru digambarkan sebagai pembaca buku bajakan, sebuah sentuhan humor yang memperlihatkan dinamika kreatif antarpenulis.
Sintong dianggap sebagai “mahasiswa abadi” karena telah menempuh pendidikan selama tujuh tahun tanpa menyelesaikan skripsinya. Penundaan itu bukan semata-mata karena kemalasan, tetapi juga karena konflik batin yang ia alami antara idealisme dan realitas hidup.
Hidupnya mulai berubah ketika ia menemukan buku karya Sutan Pane, seorang penulis hebat yang hilang tanpa kabar setelah berani menulis kritik terhadap pemerintah.
Sutan Pane bukanlah penulis terkenal. Sintong mengetahui namanya saat membuka media sosial dan menemukan sebuah akun yang selalu mengucapkan selamat ulang tahun untuk Sutan Pane.
Rasa penasaran mendorongnya melakukan pencarian tentang sosok tersebut, yang justru membawanya pada kenyataan pahit tentang kejamnya dunia pembajakan buku: para pembajak hidup kaya raya, sementara penulis aslinya tidak mendapatkan apa pun. Bahkan cucu kandung Sutan Pane harus putus sekolah karena kesulitan ekonomi.
Di sisi lain, Sintong juga terjebak dalam kisah percintaan dengan dua gadis. Pertama, Jess, yang tampak memiliki kehidupan mewah di media sosial, padahal kenyataannya tidak demikian; ayahnya terlibat dalam bisnis barang palsu.
Kedua, Mawar Terang Bintang, cinta pertamanya yang ternyata adalah putri dari seorang bos pembajakan buku yang sangat ia benci. Pilihan itu begitu berat bagi Sintong, tetapi pada akhirnya ia tetap memilih cinta pertamanya, Mawar Terang Bintang.
Mawar sendiri tidak pernah menyukai pekerjaan ayahnya karena ia tahu bahwa pembajakan buku adalah tindakan yang kejam. Suatu hari, Mawar mengajak Sintong mendaki gunung. Di puncak, mereka bertemu seorang anak kecil yang menjadi pedagang asongan. Ternyata anak tersebut adalah cucu Sutan Pane.
Ia tidak pernah merasakan kebanggaan sebagai cucu seorang penulis hebat karena buku kakeknya dibajak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Bahkan ia harus putus sekolah demi bertahan hidup. Mengetahui hal itu, Mawar merasa sangat bersalah karena ayahnya adalah pembajak buku. Sintong pun turut merasa bersalah karena ia bekerja menjaga toko buku bajakan.
Akhirnya, Sintong memutuskan meninggalkan pekerjaannya sebagai penjaga toko buku bajakan. Keputusan itu tidak mudah. Ia harus menjelaskan kepada orang tuanya bahwa pekerjaan tersebut bukanlah hal yang baik dan menghadapi konflik dengan pamannya.
Namun usahanya tidak sia-sia. Ia berhasil keluar dari lingkaran pembajakan dan berani mengucapkan “Selamat Tinggal” pada masa lalunya. Sintong pun akhirnya menyelesaikan skripsinya, memperoleh beasiswa ke Belanda karena kepintarannya, dan memilih menjalani hidup yang lebih baik.
Novel ini kuat dalam menyampaikan pesan moral tentang pentingnya menghargai hak cipta dan jerih payah penulis. Isu pembajakan dikemas melalui konflik personal tokoh sehingga terasa lebih emosional dan menyentuh, serta relevan dengan realitas literasi di Indonesia. Namun, di beberapa bagian alur cerita lambat akibat perenungan batin yang cukup panjang, dan ada momen yang kurang memberi efek kejutan sehingga ketegangan cerita tidak konsisten.
Identitas Buku
Judul: Selamat Tinggal
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2020), Sabak Grip (2023)
Tahun Terbit: 2020
ISBN: 9786020647821
Genre: Fiksi, Inspiratif
Baca Juga
-
Penghakiman Sosial dalam Cerpen Malam Terakhir Karya Leila S. Chudori
-
Self Healing: Menyembuhkan Luka Masa Kecil dan Belajar Menerima Diri
-
Satire atas Agama, Sosial, Budaya, dan Politik dalam 'Robohnya Surau Kami'
-
Dinamika Emosi Remaja dalam Konflik Cinta dan Keluarga pada Novel Rasa
-
Yang Telah Lama Pergi: Persatuan Perompak di Balik Runtuhnya Sriwijaya
Artikel Terkait
Ulasan
-
Frieren: Beyond Journey's End Season 2, Musim yang Lebih Emosional dan Sepi
-
Buku American Born Chinese, Krisis Identitas Generasi Kedua
-
Review Film Iron Lung: Markiplier Sukses Hadirkan Ketegangan Tanpa Jumpscare Berlebih
-
Smoke Screen: Thriller Psikologis tentang Manipulasi dan Pengkhianatan
-
Bedah Buku Quiet Impact: Menguak Rahasia Orang Introver
Terkini
-
4 Hybrid Sunscreen SPF 35, Penyelamat Kulit Berminyak Atasi Jerawat dan PIE
-
5 Jajanan Korea Favorit untuk Buka Puasa, Manis dan Menggoda Selera
-
Minimalist Boy Style! 4 Daily Outfit ala Jinyoung GOT7 yang Wajib Ditiru
-
Dandelion, Manga Debut Kreator Gintama, Resmi Dapat Adaptasi Anime Netflix
-
Dilema 'Tidurnya Orang Berpuasa', Sebuah Alibi atau Kompensasi Energi?