Minuman keras dianggap tidak diminati lagi saat ini. Industri miras global mengalami penurunan drastis ketika populasi remaja di dunia didominasi oleh Generasi Z. Saham perusahaan bir yang anjlok hingga 830 miliar dolar AS menjadi pertanda buruk bagi para produsen alkohol. Tren minuman nonalkohol yang populer di kalangan Generasi Z menjadi salah satu pemicunya.
Menurut Bloomberg, angka penurunan tersebut diperburuk oleh tarif Amerika Serikat, suku bunga, dan harga komoditas yang tinggi. Hal ini didukung pula dengan hilangnya daya tarik Generasi Z terhadap alkohol akibat banyaknya selebriti yang memopulerkan tren nonalkohol. Alhasil, terjadi perubahan struktural di dalam lingkungan masyarakat.
Perubahan tren minum ini disebabkan oleh budaya "sober curious", yaitu kondisi ketika orang-orang mulai sadar untuk menerapkan gaya hidup tanpa alkohol demi menjaga kesehatan. Akhirnya, industri miras secara tidak langsung terpaksa memproduksi minuman rendah alkohol hingga nonalkohol demi bertahan dari potensi gulung tikar.
Salah satu contohnya adalah produsen Bir Bintang yang mencoba menarik minat masyarakat dengan memproduksi minuman nonalkohol, yakni Bintang 0,0%, meski tidak mencantumkan logo halal. Walaupun begitu, penjualan produk ini tetap berjalan karena memiliki pangsa pasar sendiri. Pergeseran gaya hidup yang lebih sehat juga tercermin dari meningkatnya tren olahraga Pilates di kalangan Generasi Z untuk memperkuat otot perut hingga memperbaiki postur tubuh.
Oleh sebab itu, industri miras merugi dan terancam bangkrut karena budaya pola hidup sehat makin banyak diterapkan oleh generasi saat ini. Generasi Z dikenal sebagai generasi yang memiliki kesadaran tinggi terhadap kesehatan fisik dan mental. Budaya "sober curious" sebagian besar melekat pada generasi ini, sehingga mereka lebih memilih bersantai (nongkrong) tanpa miras. Minuman seperti kopi, matcha, mocktail, dan air detoks menjadi pilihan yang sering dikonsumsi.
Satu dari sekian banyak minuman, kopi gula aren sering kali dinikmati oleh Generasi Z. Namun, mengonsumsi kopi gula aren secara berlebihan perlu dihindari karena setiap hari manusia hanya membutuhkan 50 gram gula atau setara dengan empat sendok makan. Kopi gula aren sendiri mengandung sekitar 14–30 gram gula yang setara dengan 1 hingga 2,5 sendok makan. Untuk itu, Generasi Z perlu menentukan batasan dalam konsumsi gula harian agar terhindar dari risiko penyakit.
Bagi mereka yang mengonsumsinya, pilihan ini secara tidak langsung berkontribusi dalam menjaga lingkungan. Emisi karbon yang dihasilkan pohon aren jauh lebih minim dibandingkan industri minuman keras. Bahkan, pohon aren memiliki peran sebagai penyerap karbon dioksida dari udara yang tergolong ramah lingkungan. Selain itu, pohon aren memiliki banyak manfaat lainnya; getahnya diambil tanpa perlu menebang pohonnya sehingga menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Tanaman ini pula dinilai istimewa karena dapat menahan tanah dari bencana longsor saat terjadi hujan deras, sehingga cocok digunakan sebagai tanaman konservasi tanah dan air.
Sementara itu, produksi alkohol memerlukan sejumlah besar energi, mulai dari sektor pertanian sampai pembotolan. Dibutuhkan sekitar 800 liter air hanya untuk menghasilkan 1 liter minuman anggur (wine). Pengolahan ini dapat membuat air limbah terkontaminasi yang selanjutnya mencemari tanah dan saluran air.
Emisi karbon dalam produksi 1 liter bir menghasilkan antara 510 hingga 842 gram karbon dioksida. Hal ini setara dengan emisi karbon yang dihasilkan dari membiarkan AC kamar menyala hampir satu jam atau menonton serial seharian. Produksi minuman keras lainnya bahkan bisa menghasilkan emisi GHG tiga kali lebih tinggi.
Oleh karenanya, dapat disimpulkan bahwa produk seperti kopi gula aren memiliki banyak manfaat, baik dari segi produksi maupun kesehatan tubuh. Sementara itu, miras adalah produk yang dapat merugikan lingkungan hingga menimbulkan berbagai penyakit, meski menawarkan kesenangan sesaat. Tren mengonsumsi kopi gula aren yang diminati Generasi Z menjadi pertanda positif bahwa mereka mengerti pentingnya menjaga kesehatan sejak dini.
Baca Juga
-
Fakta Hukum Mengejutkan: Mengapa Menteri Korupsi, Presiden Tetap 'Kebal Hukum'?
-
Nasihat Bahlil Soal Matikan Kompor: Ketika Urusan Dapur Naik Kelas Jadi Isu Energi Nasional
-
Aplikasi GPS vs Realita: Ketika Google Maps Anggap Jalur Sapi sebagai Jalan Tol
-
Diskon Tol Pilih Kasih: Ketika PNS Senyum, Anak Swasta Gigit Jari
-
Kritik Dibungkam atas Nama HAM: Salahkah Rakyat Menentang MBG?
Artikel Terkait
-
Lebih dari Sekadar Fun Run: Ini Konsep "Running Date" Pertama yang Viral di Kalangan Gen Z
-
Apa Itu Food Genomics, Diet Berbasis DNA yang Lagi Tren
-
Self-Neglect Era Gen Z: Saat Kita Baru Peduli Diri Sendiri setelah Burnout
-
Gabung Sinetron Asmara Gen Z, Oliver Roberts Ogah Jual Nama William Roberts
-
Marsha Aruan Serukan Pentingnya Usaha dalam Cinta, Keluarga, dan Karier dalam Peran Terbaru
News
-
Bukan Visual Mewah, Justin Bieber Viral di Coachella Hanya Gara-gara Putar Video YouTube Lama!
-
Kasta Oren hingga Bangsa Mujaer: Rahasia Kucing Bisa Jadi Penawar Penat Kantor
-
Kampus Darurat Kekerasan Seksual: Menggugat Budaya Diam di Lingkungan Akademik
-
Yoursay Class: Ubah Cerita Pengalaman Jadi Ulasan Jurnalistik yang Kuat
-
River Ranger Jakarta Pilih Tersesat di Pedalaman Demi Solusi Warga, Kenapa?
Terkini
-
Senyum Karyamin: Menelusuri Jejak Kemanusiaan di Balik Ironi Desa
-
Paradoks Kemiskinan: Mengapa Biaya Hidup Orang Kecil Jauh Lebih Mahal?
-
6 HP Realme dengan Kamera Terbaik dan RAM Besar 2026, Harga Mulai Rp1 Jutaan
-
Jatuh Cinta Lagi oleh Nadhif, Teror Manis bagi Hati Saya yang Belum Sembuh
-
Beda Frekuensi: Ketika Cinta Tak Harus Selalu Sejalan