“Gapapa capek dikit”, “Nanti aja istirahat, yang penting kelar”, atau “Masih kuat kok” sering kali menjadi kalimat-kalimat yang familiar di kalangan Gen Z. Terdengar penuh kepedulian, tapi sebenarnya justru paling jarang ditujukan oleh diri sendiri.
Ironisnya, kepedulian terhadap diri sendiri semacam ini sering baru muncul saat tubuh dan mental sudah benar-benar tumbang. Burnout parah, breakdown emosional, sakit fisik, atau krisis identitas, baru memunculkan kesadaran kalau kita juga butuh menjaga diri sendiri.
Fenomena ini dikenal dengan istilah self-neglect atau pengabaian diri. Lalu, kenapa banyak orang, khususnya Gen Z, harus nunggu hancur dulu baru peduli diri sendiri? Ada sederet alasan yang melatarbelakanginya.
1. Budaya “Tahan Dulu” yang Dinormalisasi
Sejak kecil, banyak dari kita diajarkan untuk kuat, sabar, dan nggak ngeluh. Capek dianggap lemah, istirahat dianggap malas. Akhirnya, self-neglect malah terasa normal.
Gen Z tumbuh di era kompetisi yang intens di mana nilai harus bagus, karier harus cepat naik, dan hidup harus kelihatan sukses di media sosial. Dalam kondisi ini, mendengarkan tubuh dan emosi sering dianggap gangguan, bukan sinyal penting.
Padahal, terus menahan diri sama saja dengan mengabaikan alarm kebakaran sampai apinya membesar. Saat sadar, semua sudah terlanjur membakar diri sendiri.
2. Self-Worth yang Diukur dari Produktivitas
Banyak Gen Z tanpa sadar menilai harga diri dari seberapa sibuk dan produktif mereka. Kalau lagi capek tapi tetap bisa kerja, itu dianggap pencapaian. Kalau butuh istirahat, malah muncul rasa bersalah.
“Aku belum pantas istirahat”, “Aku belum cukup capek”, dan “Masih ada orang lain yang lebih parah” justru muncul sebagai pembelaan yang salah. Pola pikir ini bikin self-care terasa seperti hadiah setelah hancur, bukan kebutuhan harian.
3. Overstimulasi dan Emosi yang Tertekan
Scroll media sosial tanpa henti, tuntutan respons cepat, notifikasi yang nggak ada habisnya sering membuat Gen Z jarang benar-benar "pause". Emosi negatif numpuk, tapi nggak pernah diolah.
Sedih? Distract. Cemas? Scroll lagi. Capek? Kopi dan lanjut. Sampai akhirnya, tubuh dan pikiran memaksa berhenti dengan cara yang ekstrem lewat panic attack, sakit fisik, atau kelelahan emosional berat.
4. Takut Dicap Lemah atau Drama
Masih banyak stigma soal kesehatan mental, termasuk anggapan lemah atau drama saat berontak. Peduli diri sendiri bahkan sering disalahartikan sebagai lebay, manja, atau terlalu sensitif.
Akhirnya, banyak orang memilih diam, pura-pura baik-baik saja, dan memvalidasi luka sendiri dengan kalimat, “Ini belum seberapa”. Sampai suatu titik, luka yang diremehkan berubah jadi kehancuran yang nggak bisa diabaikan.
5. Self-Care Baru Terasa “Sah” setelah Krisis
Lucunya, saat seseorang benar-benar hancur, orang lain baru bilang “Kamu harus jaga kesehatan mental” atau “Kamu butuh istirahat”.
Seolah-olah kepedulian pada diri sendiri baru valid kalau ada bukti penderitaan yang parah. Padahal, self-care bukan alat pemadam kebakaran, tapi sistem pencegahan.
6. Gen Z Terjebak Antara Sadar dan Terpaksa
Gen Z sebenarnya generasi yang paling sadar soal kesehatan mental. Tapi di saat yang sama juga hidup dalam sistem yang memaksa terus berjalan meski lelah.
Akhirnya muncul paradoks tahu pentingnya self-love, tapi tetap menunda. Tahu batasan diri, tapi sering melanggarnya sendiri. Bukan karena nggak peduli, tapi karena belum merasa “cukup rusak” untuk berhenti.
7. Belajar Peduli sebelum Hancur
Merawat diri nggak harus nunggu breakdown. Peduli diri bisa dimulai dari hal kecil, seperti berhenti saat capek, bukan saat tumbang. Kita juga perlu mengakui emosi tanpa harus membenarkannya.
Istirahat tanpa merasa bersalah dan menolak hal yang melelahkan mental jadi bentuk kepedulian pada diri sendiri. Bukan tanda kalah, justru itu bentuk keberanian paling dewasa.
Kamu Nggak Harus Hancur Dulu untuk Layak Dirawat
Kalau kamu merasa lelah tapi belum “cukup parah”, itu bukan alasan untuk mengabaikan diri sendiri. Kamu layak dirawat bahkan saat masih bisa tersenyum.
Jangan tunggu hancur untuk peduli. Karena sering kali, kehancuran terjadi justru karena terlalu lama nggak peduli.
Baca Juga
-
Luka Emosional ala Broken Strings Kuatkan Tren Marriage Is Scary, Benarkah?
-
Belajar dari Broken Strings: Kenapa Sesulit Itu Keluar dari Hubungan Toxic?
-
India Open 2026: Kemenangan Jojo Diwarnai Dugaan Kecurangan Lawan, Ada Apa?
-
Mengapa Korban Child Grooming Diam Saat Merasa Takut? Belajar dari Kisah Aurelie Moeremans
-
Broken Strings Picu Reaksi Fisik Pembaca: Normalkah Dampak Traumatis Ini?
Artikel Terkait
-
Gabung Sinetron Asmara Gen Z, Oliver Roberts Ogah Jual Nama William Roberts
-
Marsha Aruan Serukan Pentingnya Usaha dalam Cinta, Keluarga, dan Karier dalam Peran Terbaru
-
BRI Peduli Korban Bencana, Komitmen Dukung Percepatan Pemulihan via Aksi Nyata
-
Evolusi Gaya Hidup Gen Z dan Sinyal Transisi Meninggalkan Minuman Beralkohol
-
LPPOM Sasar Gen Z untuk Memperkuat Proyeksi Industri Halal Masa Depan
Kolom
-
Pemadam Kebakaran dan Kepercayaan Publik yang Tumbuh dari Pengalaman Nyata
-
Luka Emosional ala Broken Strings Kuatkan Tren Marriage Is Scary, Benarkah?
-
Tren Media Sosial Cepat Berganti: Kemampuan Adaptasi atau Mudah Melupa?
-
E WOM, FOMO dan Impulsif: Ketika Ulasan Digital Mengatur Hasrat Konsumsi
-
Deepfake dan Manipulasi Emosi: Ketika AI Memegang Kendali Realita dan Ilusi
Terkini
-
Film Penunggu Rumah: Buto Ijo, Horor Janji Lama yang Menagih Harga
-
5 Inspirasi Gaya Nerdy Boy ala Soobin TXT, Simpel tapi Charming!
-
Total 6 Hari, NCT Dream Rilis Jadwal Konser Final The Dream Show 4 di Seoul
-
3 Serial yang Dibintangi Arya Saloka, 'Algojo' Teranyar!
-
Belajar Menerima Kehilangan di Novel Setelah Dia Pergi karya Dedy Chandra