Hutan rimbun, luas dan semua hewan hidup Bahagia di dalamnya. Tapi, aku hanyalah seekor semut kecil bahkan di antara bangsaku sendiri, aku bukan siapa-siapa, hanya semut pekerja yang terus menerus berjuang bertahan hidup.
Tubuhku kurus, kakiku pendek, dan rahangku tidak cukup kuat untuk mengangkat biji gandum yang biasa dibanggakan para pekerja tangguh. Jika dunia diukur dari suara dan ukuran, maka aku nyaris tak terdengar, nyaris tak terlihat bahkan mungkin jadi makhluk yang terinjak.
Namun justru dari tempat yang paling rendah inilah aku menyaksikan bagaimana kebaikan sekecil pasir pun dapat menjelma menjadi kekuatan yang dapat mengubah segalanya.
Meski aku seekor semut, aku juga percaya kebaikan bisa mendatangkan keberkahan dan kebahagiaan hidup.
Hutan tempatku hidup dikenal sebagai Lembah Rindang, sebuah wilayah yang subur, hijau, dan Makmur, setidaknya bagi mereka yang kuat. Bagiku, ini dunia yang sangat besar.
Di sana, rusa-rusa memimpin padang rumput, burung elang menguasai birunya langit, para buaya merajai wilayah air dan kawanan serigala mengatur batas-batas wilayah dengan taring dan auman.
Kami, para semut, hidup di pinggir-pinggir dunia itu. Kami tidak menentukan arah, tidak memberi perintah, hanya bekerja keras mengumpulkan sisa-sisa yang ditinggalkan makhluk besar.
Sejak kecil aku diajarkan satu hal yakni bertahan hidup berarti tidak berharap pada kebaikan siapa pun. Dunia tidak pernah ramah pada makhluk yang kecil.
Aku mempercayainya sampai suatu hari aku bertemu Kura-Kura Tua bernama Bala.
Bala bukan siapa-siapa di mata hutan. Jalannya lambat, tempurungnya sedikit retak, dan suaranya nyaris tenggelam oleh gemerisik dedaunan. Ia tinggal di dekat sungai kecil yang jarang dikunjungi karena dianggap tidak penting.
Suatu sore, saat oranye menghiasi langit aku terjatuh ke dalam aliran air kecil, tapi bagiku yang memiliki badan mini arusnya cukup deras untuk menyeret hidupku. Aku tak bisa melakukan apapun, selain pasrah. Tak ada yang menolong seekor semut.
Namun bayangan besar tiba-tiba menghalangi cahaya. Sebuah tempurung tua berhenti tepat di hadapanku. Bala menurunkan kepalanya perlahan, lalu menjulurkan sepotong ranting.
“Pegang ini, Semut” katanya singkat.
Aku selamat.
Ia melanjutkan jalannya.
Tidak ada pidato. Tidak ada nasihat.
Baginya, mungkin itu hanya satu gerakan kecil.
Bagiku, itu adalah perubahan pertama dalam hidup. Setidaknya, aku masih diberikan kesempatan untuk tetap hidup dan menjalani hari.
Sejak hari itu, aku mulai memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya kuabaikan.
Bala sering menyingkirkan batu dari jalur semut agar kami tidak terhimpit. Ia membiarkan lumut tumbuh di tempurungnya agar kumbang kecil bisa berlindung dari panas. Ia tak pernah memamerkan apa pun, bahkan tidak menyadari bahwa ia sedang menanam sesuatu.
Aku mulai meniru caranya, meski hanya dengan kemampuanku yang terbatas.
Aku membantu larva yang terjatuh kembali ke sarang.
Aku membagi remah makanan, meski itu berarti porsi makananku berkurang.
Aku memberi arah pada semut-semut muda yang tersesat.
Tidak ada yang memuji. Bahkan banyak yang menertawakan.
“Kebaikan tidak membuatmu besar, kau tetap menjadi binatang kecil yang tak berguna bagi para hewan besar” kata mereka.
“Hei, sadarlah, kebaikanmu itu justru membuatmu mudah diinjak.” tambah seekor ulat bulu hijau yang nyaris membuatku kesal.
Mungkin mereka benar. Tapi aku sudah terlanjur menanam benih.
Tahun itu, kemarau datang lebih panjang dari biasanya. Sungai mengering. Padang rumput berubah cokelat. Hewan-hewan besar mulai berebut wilayah dan makanan.
Hutan yang dulu tampak kuat, ternyata rapuh. Saat itulah aku melihat sesuatu yang mengejutkan.
Kura-Kura, temanku, Bala yang selama ini dianggap lemah kini menjadi pusat pertemuan. Burung-burung kecil berlindung di sekitarnya. Serangga berkumpul di bawah bayangannya. Bahkan beberapa kelinci datang meminta perlindungan dari panas.
Dan yang paling mengejutkan bagi kami, para semut, sudah siap.
Karena kebiasaan berbagi kecil-kecilan selama bertahun-tahun, kami memiliki cadangan makanan tersebar di banyak tempat. Kami tahu jalur rahasia, sumber air tersembunyi, dan cara bekerja sama tanpa perintah.
Ketika hewan besar bertikai, makhluk kecil justru bertahan.
Suatu hari, badai besar datang tiba-tiba. Angin merobohkan pohon tua. Sarang burung hancur. Sungai kecil kembali meluap, menyeret siapa pun yang lengah.
Bala terjebak.
Tubuhnya terbalik, tempurungnya tersangkut akar. Ia tak bisa bergerak.
Tak ada rusa. Tak ada serigala. Mereka terlalu sibuk menyelamatkan diri.
Yang datang, hanyalah kami.
Ratusan semut kecil memanjat, menggigit akar, memberi isyarat. Kumbang, burung kecil, dan serangga lain ikut membantu. Butuh waktu lama, tapi akhirnya Bala bebas.
Untuk pertama kalinya, aku melihat matanya berkaca-kaca.
“Kenapa kalian kembali? Hujan ini berbahaya bagi sekelompok semut” tanyanya pelan.
Aku menjawab jujur,
“Karena dulu kau tidak bertanya apakah aku penting atau tidak. Tapi, kau tetap menyelamatkanku dengan potongan kayu itu.”
Musim berganti. Hutan perlahan pulih. Tapi ada yang berubah.
Kini, jalur-jalur kecil diperhatikan. Makhluk besar mulai belajar bahwa kekuatan tidak selalu datang dari ukuran. Bala dihormati, bukan karena tempurungnya, tapi karena jejak kebaikan yang telah lama ditanamnya.
Dan aku?
Aku tetap menjadi seekor semut kecil. Aku masih mudah terinjak. Tapi aku tidak lagi merasa kecil. Karena aku tahu, kebaikan tidak tumbuh seperti petir tetapi ia tumbuh seperti akar. Diam, lambat, tapi menghancurkan batu.
Cerita ini bukan tentang menjadi besar, melainkan tentang tidak menyepelekan yang kecil. Satu tindakan baik, sekecil apa pun, bisa menjadi benih dan benih yang dirawat dengan konsisten akan tumbuh menjadi pohon yang buahnya dinikmati oleh lebih banyak makhluk daripada yang pernah kita bayangkan.
Baca Juga
Artikel Terkait
News
-
Fleksibilitas atau Eksploitasi? Menakar Nasib Pekerja Gig di Indonesia
-
Lingkaran Setan Side Hustle: Antara Tuntutan Hidup dan Ancaman Burnout Anak Muda
-
Darurat Arogansi Aparat: Menilik Dampak Kerugian Pedagang karena Es Gabus Dikira Spons
-
Fresh Graduate Jangan Minder! Pelajaran di Balik Fenomena Open To Work Prilly Latuconsina
-
Transformasi AI dalam Ekonomi Kreatif Indonesia: Peluang Emas atau Ancaman?
Terkini
-
Mimpi Financial Freedom di Tengah Realitas Ekonomi yang Tidak Ramah
-
Di Bawah Bayang Menara Pisa
-
Buku Bisikan Hati yang Tersembunyi: Merawat Harapan dan Keberanian Bermimpi
-
4 Sepeda Lipat yang Praktis dan Nyaman untuk Aktivitas Sehari-hari
-
5 Rekomendasi Game Mirip TheoTown, Seru Dimainkan di Android Hingga PC