Di dasar lembah yang dulu hijau subur, mengalir Sungai Lembah Biru. Kini, namanya hanya tinggal kenangan. Airnya tinggal genangan-genangan keruh di antara batu retak dan lumpur kering. Pohon-pohon di tepiannya meranggas; akarnya mencakar udara seperti tangan yang memohon. Burung tidak lagi bernyanyi. Ikan-ikan sudah lama mengapung dengan perut menghadap ke atas. Hewan-hewan besar pergi mencari tempat lain. Yang tersisa hanyalah seekor tikus air tua bernama Sero, seekor tikus kecil yang tidak punya tempat lain untuk pergi.
Setiap pagi, Sero naik ke batu tertinggi di tepi sungai, menatap aliran yang sudah mati. “Kau dulu memberi kami hidup,” katanya pelan. “Sekarang, kau bahkan tidak bisa memberi untuk dirimu sendiri.” Ia sering mendengar cerita lama dari neneknya bahwa sungai ini pernah lahir dari satu tetes air pertama yang jatuh dari awan ribuan tahun lalu. Namun, itu hanya dongeng bagi Sero. Realitasnya adalah kekeringan yang tidak kenal ampun.
Suatu malam, angin dingin membawa bau garam dan debu. Langit gelap tanpa bintang. Sero terbangun oleh suara kecil—seperti bisikan yang jatuh ke batu. Ia mendekat. Di celah bebatuan yang paling dalam, di tempat yang bahkan matahari siang tidak pernah menyentuh, ada setetes air tunggal. Bukan genangan, hanya satu tetes. Jernih, bulat sempurna, dan entah bagaimana masih bergetar pelan meski tidak ada angin.
Sero menatapnya lama. “Kau datang dari mana?” tanyanya. Tetes itu tidak menjawab, hanya memantulkan bayangan bulan samar-samar. Sero tahu betul bahwa satu tetes tidak akan cukup mengisi sungai yang panjangnya tiga hari perjalanan tikus. Namun, ia juga tahu, jika ia membiarkannya menguap di udara malam yang kering, besok tidak akan ada apa-apa lagi.
Dengan hati-hati, ia menjilat tetes itu ke lidahnya—bukan untuk diminum, melainkan untuk dibawa. Rasanya dingin menusuk, seperti kenangan masa kecil yang tiba-tiba hidup kembali. Ia lalu berlari menyusuri tepian sungai yang retak, mencari tempat paling rendah, paling gelap, dan paling terlindung dari matahari. Di sana, terdapat sebuah lubang kecil di antara akar pohon mati—lubang yang dulu merupakan mata air kecil sebelum semuanya kering.
Sero membungkuk, membiarkan tetes itu jatuh tepat ke dasar lubang. Satu tetes. Hanya itu. Lalu, ia duduk di mulut lubang, menjaga agar tidak ada debu atau daun kering yang masuk. Malam berganti pagi. Matahari terbit ganas seperti biasa. Sero tidak bergerak.
Hari kedua, lubang itu masih kering. Namun, di dasarnya terlihat kilau samar—seperti ada sesuatu yang mulai berkumpul. Hari ketiga, muncul tetes kedua. Bukan dari langit, melainkan dari dalam tanah. Seolah-olah tetes pertama memanggil teman-temannya yang tersembunyi di lapisan batu yang dalam. Hari keempat, genangan kecil terbentuk. Hari kelima, genangan itu mulai merembes ke celah-celah tanah di sekitarnya.
Sero tidak pernah pergi jauh. Ia membawa daun kering untuk menutupi lubang dari panas, mengusir semut yang ingin minum, bahkan melawan burung kecil yang haus. Ia tidak makan banyak; ia hanya menjaga.
Pekan berikutnya, air mulai mengalir tipis dari lubang itu—seperti benang perak yang merayap pelan di permukaan tanah kering. Benang itu menyentuh genangan pertama yang sudah mengering bertahun-tahun. Genangan itu hidup kembali. Lalu, ia menyentuh genangan berikutnya. Satu demi satu, seperti lampu yang dinyalakan dalam kegelapan, genangan-genangan lama mulai berkilau lagi.
Burung kecil yang pergi dulu mulai kembali. Mereka minum, lalu bernyanyi pelan. Katak-katak yang bersembunyi di bawah batu keluar dan bernyanyi bersama. Ikan kecil—yang entah bagaimana bertahan di genangan tersisa—mulai berenang lebih lincah. Akar-akar pohon yang hampir mati merasakan kelembapan. Daun baru muncul, kecil tetapi hijau terang.
Sungai belum pulih sepenuhnya. Masih tipis dan lemah. Namun, ia mulai mengalir lagi. Setiap hari alirannya bertambah. Setiap minggu warnanya semakin jernih. Hewan-hewan besar yang pergi mulai mencium bau air dari kejauhan dan kembali; ragu-ragu tetapi penuh harap.
Suatu pagi, ketika matahari baru terbit, Sero berdiri di batu yang sama seperti biasa. Sungai di bawahnya sudah mengalir lagi—tidak deras, tetapi cukup untuk mencerminkan langit. Seekor burung kecil hinggap di dekatnya.
“Kau yang memulai?” tanya burung itu.
Sero menggeleng. “Bukan aku. Satu tetes yang jatuh di tempat yang tepat. Aku hanya menjaganya.”
Burung itu terdiam sejenak, lalu berkata, “Hal kecil yang mengubah segalanya sering kali tidak terlihat sampai sungai mulai bernyanyi lagi.”
Sero tersenyum tipis. Ia tidak pernah mengira dirinya—tikus kecil yang tidak memiliki cakar tajam, tidak punya sayap, tidak punya suara besar—bisa melakukan sesuatu yang berarti. Namun, ia melakukan satu hal: tidak membiarkan tetes itu hilang begitu saja.
Bertahun-tahun kemudian, anak-anak hewan mendengar cerita tentang Sungai Lembah Biru yang bangkit dari kematian. Mereka bertanya, “Siapa yang menyelamatkannya?”
Jawabannya selalu sama, disampaikan dengan suara pelan tetapi pasti:
“Bukan gajah yang membawa air dalam belalainya. Bukan burung yang membawa awan. Bukan hujan yang turun deras. Yang menyelamatkan sungai adalah seekor tikus kecil bernama Sero… dan satu tetes air yang ia lindungi sampai akhir.”
Dan setiap kali cerita itu diceritakan, sungai seolah-olah berbisik pelan di antara batu-batu: "Terima kasih."
Sebab terkadang, yang terbesar dimulai dari yang terkecil—dan yang paling berharga adalah keputusan untuk tidak menyerah pada satu tetes harapan.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Rigen Nyanyikan Lagu Samsons: Netizen Sebut Lebih Bams dari Vokalis Asli
-
4 Ide Outfit Blazer ala Prilly Latuconsina, Tampil Rapi Tanpa Terlihat Kaku
-
Review Novel Kubah Ahmad Tohari: Kisah Menyentuh Tentang Kesempatan Kedua
-
Review Film It Was Just an Accident: Kritik Rezim Lewat Thriller yang Tajam
-
Sinopsis Pavane, Film Korea Romansa Baru Moon Sang Min dan Go Ah Sung