Bimo Aria Fundrika | Oktavia Ningrum
Ilustrasi Alam dan Manusia yang Sakit (Gemini AI)
Oktavia Ningrum

Aku jatuh sakit di hari Senin, jenis sakit yang tidak heroik sama sekali.

Tidak dramatis, tidak masuk berita, dan tidak membuat siapa pun berkata, “Wah, kamu kuat”.

Hanya demam ringan, tenggorokan gatal, kepala seperti diisi kapas bekas boneka, dan badan pegal seolah semalam aku diam-diam ikut panjat tebing padahal tidak. Tapi tetap saja rasanya tubuhku seperti susunan lego yang lepas satu persatu. 

“Masuk angin kali,” kata ibuku lewat telepon.

“Minum obat aja,” kata temanku.

“Kurang vitamin,” kata internet, dengan penuh keyakinan seolah dia dokter dengan jas putih dan gelar lima baris. Di era ini semua orang punya konsultan pribadi di ponsel mereka sendiri.

Tapi entah memang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya atau tidak. 

Tapi aku tetap patuh. Minum obat. Tidur. Bangun. Masih sakit.

Di hari ketiga, tubuhku melakukan sesuatu yang tidak tercantum di buku kedokteran manapun. Ia berbicara. Baiklah, ini mungkin terdengar tidak masuk akal. Tapi suara itu menggema di dinding-dinding kamar kosku yang sempit. Tak ada siapapun lagi, kecuali... aku. 

“Boleh nggak kamu dengerin sebentar?” kata tubuhku, dengan suara capek tapi sopan.

Aku terbangun, duduk di kasur, menatap kamar yang berantakan. Tentu saja, tak ada yang bisa kulakukan lagi karena rasanya semua badanku remuk. 

“Halusinasi karena demam,” gumamku berusaha meyakinkan diri sendiri. 

“Bukan,” katanya. “Ini rapat darurat. Aku capek.”

Aku menelan ludah, menatap diri di pantulan cermin yang menampilkan sosok dengan rambut berantakan karena tiga hari tidak keramas.

“Capek kenapa?” Ah, ternyata aku refleks membalas suara yang tadi kudengar. 

“Capek jadi tempat pembuangan akhir,” jawab suara itu lagi.

Aku diam. Kudengar lawan bicaraku berdehem, lalu melanjutkan seperti dosen yang akhirnya dapat perhatian kelas.

“Kamu ingat sungai kecil di dekat kosmu?” Aku memutar bola mataku ke kiri dan kanan, masih berusaha mencari asal suara. 

“Yang bau itu?” tanyaku sekenanya. 

“Bau itu kontribusi kamu juga,” katanya dingin. “Sampah plastikmu, air sabunmu, sikap ‘ah cuma sedikit’ kamu.”

Aku hendak membela diri, tapi tubuhku mengangkat tangan. “Belum selesai.”

“Paru-parumu,” lanjutnya, “tiap hari kerja lembur. Kamu marah kalau aku sesak napas, tapi kamu tidak pernah marah pada polusi yang kamu anggap normal.”

Aku menggaruk kepala. Menyadari dengan pasti bahwa yang bicara adalah tubuhku sendiri. “Aku kan cuma satu orang.”

Tubuhku tertawa pendek. “Dan semua orang bilang itu. Itulah kenapa aku capek.”

Aku terdiam. Di luar jendela, suara motor meraung seperti batuk yang tidak sembuh-sembuh. Hari itu aku mulai memikirkan percakapan singkat pada tubuhku. Entah ini karena aku yang gila, atau memang tubuhku benar-benar bicara padaku. Aku bahkan bertanya pada konsultan pribadiku di HP, ia malah menyarankanku untuk segera ke psikiater. 

Hari keempat, aku memutuskan ke dokter. Bukan dokter kejiwaan, tapi dokter umum. Aku masih cukup yakin bahwa aku tidak sedang gila. 

Dokternya ramah, cek tenggorokan, dengar paru-paru, lalu berkata, “Radang ringan. Istirahat. Jangan stres.”

Aku hampir bertanya, ‘Dok, kalau stres karena bumi rusak, obatnya apa?’ tapi kupikir dokter tidak digaji untuk krisis eksistensial.

Di perjalanan pulang, aku turun di terminal terdekat dari kosku. Aku bersandar di tiang lampu dekat kosku. Entah kenapa aku tak ingin masuk ke kamar sumpek itu. Dan saat itulah tubuhku kembali bicara.

“Lihat pohon itu,” katanya.

Aku menoleh. Sebatang pohon kurus berdiri di pinggir jalan, diapit beton dan baliho diskon.

“Dia sakit,” lanjut tubuhku.

“Kelihatan kokoh,” bantahku.

“Karena kamu baru kenal dia hari ini. Aku kenal dia sejak akarnya dicekik semen.”

Aku menghela napas. “Terus aku harus apa? Berenti hidup?”

“Enggak,” katanya cepat. “Cuma berhenti hidup sembarangan.”

Kalimat itu singkat. Tapi membuatku berpikir cukup lama. Dan tanpa sadar, matahari pun tergantikan oleh bulan. Aku bahkan tidak sadar kapan aku berjalan di antara gang sempit dan tangga menuju kamar kecil ini. Malam itu aku minum jamu. Rasanya pahit, seperti pengakuan dosa cair.

“Kamu tahu,” kata tubuhku sambil aku meringis, mulai terbiasa dengan tubuhku yang suka bicara di saat tak terduga. “Leluhurmu dulu kalau sakit, bukan nanya obat apa.”

“Terus nanya apa?” aku mengunyah biskuit sisa demi menghilangkan rasa pahit di lidah. 

“Mereka nanya, siapa yang tersakiti.”

Aku terdiam. Loh, serius udah? Siapa yang tersakiti? Bukannya aku ya, yang lagi sakit. Memangnya aku sedang menyakiti siapa? Tapi sayangnya, suara itu lenyap. Merasa cukup untuk hari itu. 

Hari kelima, aku duduk di taman kecil dekat rumah. Tidak ada yang istimewa, cuma rumput, bangku besi, dan seorang bapak-bapak memberi makan burung. Aku mendekat karena orang itu menjulurkan jagung ke arahku. Aku jadi ikut memberi makan burung di sebelahnya. 

“Pak,” tanyaku iseng, “kalau sakit, Bapak biasanya ngapain?”

Dia tertawa. “Istirahat. Minum yang anget. Sama… ya minta maaf.”

“Ke siapa?”

“Ke diri sendiri. Ke alam. Ke istri juga kadang,” katanya sambil terkekeh.

Tubuhku bertepuk tangan pelan. Seolah ada saklar yang baru saja ditekan dengan sengaja. 

Di hari ketujuh, demamku turun. Tapi ada yang naik. Yaitu kesadaranku. Aku mulai mematikan lampu yang tak perlu. Membawa botol minum sendiri. Menyapa pohon di depan rumah, walau tetangga melihatku aneh. Menyiramnya dan memeluknya erat. Aku bahkan merobek baliho yang sudah usang itu ke tempat sampah. 

“Cieee, akhirnya kamu sadar juga nih?” tanya tubuhku. Lebih tepatnya meledek daripada bertanya. 

“Aku cuma gak mau sakit lagi,” jawabku.

“Udah sembuh?” tanyanya seolah ia tidak bisa merasakan apa yang aku rasakan. 

“Tubuhku iya,” balasku. “Pikiranku belum.”

Tubuhku tersenyum.

“Ini bukan soal mistis,” katanya. “Ini soal hubungan.”

“Hubungan kita?” tanyaku.

“Hubunganmu dengan semua yang kamu anggap ‘bukan urusanmu’.”

Aku termenung, mengingat bungkus permen setiap pagi yang kubuang sembarangan dan berkilah bahwa itu kecil. Jika 365 hari ia melakukannya, itu bukan sekadar sampah kecil. Dan aku juga yakin, bahwa dirinya bukanlah satu-satunya orang yang melakukan itu. Bahkan tadi pagi, ia sempat melihat ada kasur mengambang dan tersangkut akar pohon di pinggir sungai. Bahkan ada yang setega itu membuang kasur ke sungai yang mengenaskan ini. 

Aku tertawa kecil, lebih ke miris. “Berat amat kamu.”

“Aku memang berat,” katanya.

“Aku menanggung dunia yang kamu injak tiap hari” Dan aku tak lagi bisa menyangkal. Hanya bisa mengangguk dengan prihatin. 

Di hari kesepuluh, aku sembuh total. Badanku terasa lebih segar. Hanya sedikit nyeri di leher, mungkin salah bantal. 

“Aku mau pamit,” katanya.

“Kemana?” Entah kenapa aku jadi tidak ikhlas, mengingat dia yang selalu jadi temanku mengobrol beberapa hari ini. Seolah tau perasaanku, ia kembali bersuara. 

“Tenang. Aku tetap di sini,” ujarnya. “Aku cuma berhenti berteriak.”

Aku mengangguk.

Sebelum benar-benar diam, tubuhku berbisik, “Kalau nanti kamu sakit lagi, jangan cuma cari obat.”

“Terus?”

“Tanya dulu,” katanya lembut.

“Siapa yang sedang kamu lukai, sampai aku harus mengingatkanmu begini.”

Aku menatap jendela. Langit sore tampak lelah, tapi masih biru.

Dan untuk pertama kalinya, aku merasa sehat. Bukan karena tidak sakit, tapi karena akhirnya mendengarkan.

Dia... bukan hanya suara dari tubuhku.

Dia, adalah sisa-sisa terakhir dari kesadaran dan nuraniku.

Dia, adalah suara alam yang selama ini menjerit tapi kuabaikan ketika aku memakai banyak tisu, membeli kopi setiap hari yang dikemas plastik sekali pakai, dan bungkus permen yang mungkin kecil. Tapi tiap hari kulakukan. Mungkin, tumpukannya sudah memenuhi meja kerjaku jika dikumpulkan. 

Ternyata... ketika alam terluka, tubuhku pun juga ikut berdarah.

Tubuhku menjadi arsip luka bagi alam.