"Mau kemana malam ini, Tobito? Jangan bilang lagi ke perpustakaan itu," tanya Mia, kucing hitam yang duduk di atas pagar kayu, matanya menyipit curiga.
Tobito, kucing oranye berbulu lebat, menggelengkan kepalanya sambil menyeringai.
"Kenapa tidak? Di sana ada rahasia yang belum kugali. Kamu tahu, Mia, perpustakaan tua di Kyoto itu seperti portal ke dunia lain. Malam ini, aku akan mencari buku tentang bintang-bintang."
Mia menghela napas. "Kau ini aneh. Kucing biasa tidur atau berburu tikus, bukan membaca buku manusia. Hati-hati, Tobito. Konon, perpustakaan itu berhantu."
Tobito tertawa pelan. "Hantu? Itu justru membuatnya menarik!" Dengan itu, ia melompat dari pagar dan berlari menuju jalanan Kyoto yang diterangi lentera merah. Angin malam musim semi membawa aroma sakura yang mekar, tapi Tobito tak peduli. Tujuannya adalah Perpustakaan Kuno Nishiki, sebuah bangunan kayu tua yang tersembunyi di antara kuil-kuil Shinto. Pintu depannya selalu terbuka untuk makhluk seperti dia—kucing liar yang haus pengetahuan.
Malam itu, perpustakaan sepi seperti biasa. Rak-rak tinggi menjulang hingga langit-langit, dipenuhi buku-buku kuno dari berbagai era. Cahaya bulan menyusup melalui jendela kertas washi, menciptakan bayangan menari di lantai tatami.
Tobito menyelinap masuk, hidungnya mengendus bau kertas tua dan tinta. Ia melompat ke rak fisika, tempat favoritnya. Di sana, matanya tertuju pada sebuah buku tebal berjudul "Relativitas: Teori Khusus dan Umum" karya Albert Einstein.
Sampulnya berdebu, tapi ada sesuatu yang memikat—sebuah gambar pria berambut acak-acakan dengan mata penuh mimpi.
"Albert Einstein," gumam Tobito.
"Siapa dia? Mengapa bukunya terasa... hidup?" Ia membuka halaman pertama dengan cakarnya. Kata-kata rumit melompat ke matanya: ruang, waktu, cahaya. Tobito bukan kucing biasa; sejak kecil, ia belajar membaca dari seorang profesor tua yang sering mengunjungi taman. Tapi ini berbeda. Ini seperti teka-teki yang tak terpecahkan.
Saat ia membaca, sesuatu aneh terjadi. Ruangan mulai bergetar pelan. Buku itu bercahaya samar, dan tiba-tiba, Tobito merasa tubuhnya ringan. "Apa ini?" bisiknya. Dalam sekejap, ia tersedot ke dalam halaman-halaman buku, seperti jatuh ke lubang kelinci.
Ketika Tobito membuka mata, ia berada di tempat asing. Bukan Kyoto lagi, tapi sebuah laboratorium kuno di Swiss, sekitar tahun 1905. Di depannya, seorang pria berambut liar sedang menulis rumus di papan tulis. "Albert Einstein?" tanya Tobito, suaranya bergema aneh.
Einstein berbalik, tersenyum. "Ah, pengunjung dari masa depan? Atau... seekor kucing? Menarik. Apa yang membawamu ke sini, teman berbulu?"
Tobito tergagap. "Aku... membaca bukumu. Dan sekarang aku di sini. Apa ini mimpi?"
Einstein tertawa. "Bukan mimpi, tapi relativitas. Waktu dan ruang bukan garis lurus; mereka melengkung seperti sungai. Kau telah melompat melalui halaman, karena pikiranmu terbuka. Duduklah, mari kita bicara."
Mereka berdua duduk di meja kayu. Einstein menjelaskan teorinya dengan sederhana, menggunakan analogi yang bahkan kucing bisa pahami. "Bayangkan kau mengejar cahaya," kata Einstein. "Semakin cepat kau berlari, waktu melambat. Itu rahasia alam semesta."
Tobito mendengarkan dengan mata berbinar. Ia bertanya tentang bintang, gravitasi, dan mimpi. Einstein bercerita tentang masa kecilnya: bagaimana ia sering dianggap bodoh di sekolah, tapi rasa ingin tahunya tak pernah padam.
"Hal kecil yang mengubah segalanya," kata Einstein sambil mengedipkan mata. "Sebuah pertanyaan sederhana: apa jika aku naik sinar cahaya? Itu memulai revolusi."
Tobito terinspirasi. "Aku juga sering dianggap aneh oleh kucing lain. Mereka bilang membaca buku manusia sia-sia. Tapi sekarang, aku paham. Pengetahuan seperti cahaya—itupun bisa mengubah dunia."
Einstein mengangguk. "Benar. Dan kau, Tobito, adalah penjelajah. Gunakan apa yang kau pelajari untuk menginspirasi yang lain."
Tiba-tiba, ruangan berputar lagi. Tobito kembali ke perpustakaan Nishiki, buku Einstein terbuka di depannya. Malam sudah larut, tapi ia merasa berbeda. Tubuhnya penuh energi, pikirannya penuh ide.
Keesokan harinya, Tobito berkumpul dengan kucing-kucing di taman Kyoto. Mia dan yang lain menunggu. "Kau terlihat berbeda," kata Mia. "Apa yang terjadi?"
Tobito tersenyum. "Aku bertemu Albert Einstein—dalam buku. Ia ajarkan bahwa hal kecil yang mengubah bisa jadi awal besar. Sebuah pertanyaan, sebuah buku, bisa melengkung waktu dan ruang dalam hidup kita."
Kucing-kucing lain tertawa awalnya, tapi Tobito tak menyerah. Ia mulai bercerita: tentang relativitas, tentang mimpi. Lambat laun, mereka mendengarkan. Mia bahkan bertanya, "Bagaimana cahaya bisa membungkuk?"
Tobito membawa mereka ke perpustakaan malam itu. Mereka menyelinap masuk, membaca bersama. Perpustakaan Nishiki menjadi tempat rahasia mereka. Tobito mengajarkan bahwa membaca bukan hanya hobi, tapi petualangan. Sebuah buku bisa membawa ke masa lalu, ke mimpi Einstein, ke pemahaman baru.
Waktu berlalu. Tobito menjadi legenda di kalangan kucing Kyoto. Ia tak lagi sendirian; kini ada kelompok "Penjelajah Buku" yang ia bentuk. Mereka menjelajahi rak-rak, belajar tentang samurai, haiku, hingga fisika kuantum. Satu kucing, bernama Miko, bahkan menemukan cara baru berburu tikus menggunakan prinsip gravitasi—melempar batu dengan sudut tepat.
Suatu malam, saat sakura gugur, Tobito duduk sendirian di perpustakaan. Ia membuka buku Einstein lagi. "Terima kasih, Albert," bisiknya. "Hal kecil yang mengubah—membaca bukumu—telah mengubah segalanya bagiku."
Dari bayangan, suara samar terdengar: "Teruslah bertanya, Tobito." Apakah itu angin? Atau Einstein? Tobito tersenyum. Alam semesta penuh misteri, dan ia siap menjelajah.
Cerita ini mengajarkan: Jangan meremehkan hal kecil. Sebuah buku dan sebuah pertanyaan, bisa mengubah hidupmu. Tobito si kucing biasa, membuktikannya. Jadilah seperti dia—berani membaca, berani bermimpi. Maka alam semesta akan menunggumu!
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Cara Ekstrem Ros BLACKPINK Hindari Paparazi: Pakai Wig Nenek Selama 6 Bulan
-
Belajar Memaknai Kehilangan di Novel Remember When Karya Winna Efendi
-
Gugat Cerai Rully, Pengacara Pastikan Boiyen Tak Terlibat Kasus Penggelapan
-
Dilema Kehidupan Dewasa yang Menyesakkan di Novel Ode to the Stars
-
Malas Mix and Match OOTD? Intip 4 Gaya One Tone Outfit ala Roh Jeong Eui Ini