Di saat sebagian besar orang menghabiskan waktu luang dengan menggulir layar tanpa tujuan, beberapa tokoh dunia justru memilih arah yang berlawanan: mereka mengisi waktu kosong dengan belajar.
Marc Andreessen, investor teknologi dan pendiri firma modal ventura Andreessen Horowitz, mengungkapkan bahwa kebiasaan mendengarkan podcast dan buku audio bukan sekadar rutinitas, melainkan cara hidup. Dalam wawancara dengan podcast How I Write, ia mengatakan hampir setiap menit waktu luangnya diisi dengan mendengarkan sesuatu yang bermakna.
Awalnya, Andreessen hanya menyediakan dua jam per hari. Namun, seiring berkembangnya aktivitas bisnis, durasi itu meningkat menjadi sekitar tiga jam sehari. Topik yang ia konsumsi pun bukan sembarangan: sejarah, biografi, teknologi, hingga kecerdasan buatan.
Baginya, perangkat sederhana seperti AirPods justru menjadi “lompatan teknologi besar” karena memungkinkan proses belajar terjadi di mana saja—saat berjalan, berkendara, bahkan ketika melakukan pekerjaan ringan.
“Pada era scrolling tanpa henti, kebiasaan mendengar audiobook selama perjalanan justru terasa seperti bentuk perlawanan kecil terhadap distraksi," katanya.
Jika dihitung, dalam seminggu Andreessen bisa menghabiskan lebih dari 20 jam hanya untuk belajar melalui audio. Menariknya, penelitian juga menunjukkan bahwa daya serap informasi dari buku audio (audiobook) dapat setara dengan membaca teks, terutama jika dilakukan secara konsisten dan fokus.
Bukan Hanya Andreessen: Gates dan Cuban Punya Pola Serupa
Kebiasaan belajar para miliarder ternyata bukan fenomena tunggal. Bill Gates, pendiri Microsoft dan filantropis global, dikenal luas sebagai pembaca fanatik. Ia menyelesaikan sekitar 50 buku setiap tahun dan secara rutin membagikan daftar bacaannya kepada publik. Menurut Gates, membaca memperluas rasa ingin tahu dan membantu membentuk cara berpikir yang lebih jernih dalam mengambil keputusan.
Sementara itu, Mark Cuban, pengusaha dan pemilik Dallas Mavericks, bahkan mengakui bahwa dirinya tidak akan berada di posisi sekarang tanpa kebiasaan membaca. Dalam tulisannya, Cuban menyebutkan bahwa ia menghabiskan lebih dari tiga jam per hari untuk membaca dan belajar. Ketiganya berbeda bidang dan berbeda generasi, tetapi memiliki satu kesamaan: mereka menganggap belajar sebagai kebutuhan, bukan pilihan.
Kontras dengan Realitas Anak Muda Hari Ini
Kebiasaan ini terasa semakin kontras ketika dibandingkan dengan realitas digital generasi muda. Berbagai laporan menunjukkan bahwa anak muda Indonesia rata-rata menghabiskan 4–6 jam per hari di media sosial. Platform hiburan dan aplikasi scrolling menjadi konsumsi utama waktu luang. Padahal, akses terhadap sumber belajar hari ini justru semakin terbuka:
- Podcast edukatif tersedia gratis di berbagai platform.
- Aplikasi perpustakaan digital menyediakan ribuan buku gratis.
- Platform baca daring memungkinkan siapa pun belajar tanpa biaya.
Artinya, hambatannya bukan lagi akses, melainkan pilihan.
Membaca dan Mendengar: Investasi Kecil dengan Dampak Panjang
Menurut Brooke Vuckovic, profesor di Kellogg School of Management Northwestern, membaca tetap menjadi komponen penting dalam membuka wawasan, terutama dalam dunia profesional dan bisnis. Pengetahuan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit akan membentuk pola pikir, cara mengambil keputusan, dan daya tahan mental jangka panjang.
Para miliarder tersebut tidak membaca karena memiliki banyak waktu. Justru sebaliknya: mereka meluangkan waktu karena memahami bahwa belajar adalah salah satu bentuk investasi paling murah, tetapi paling konsisten hasilnya. Pada akhirnya, mungkin yang membedakan bukan siapa yang paling sibuk, melainkan siapa yang tetap memilih belajar ketika orang lain memilih terdistraksi.
Di dunia yang tak pernah kehabisan hiburan, kebiasaan membaca dan mendengar bukan lagi sekadar hobi, melainkan bentuk disiplin sunyi yang pelan-pelan membentuk masa depan.
Baca Juga
-
Uji Coba B50 di 6 Sektor Sekaligus: Amankah Sawit 50 Persen untuk Mesin Kendaraan?
-
Viral Podcast Raditya Dika: Bongkar Rahasia Bertahan Hidup dari Gigitan Ular
-
Dunia di Ambang Batas: Mungkinkah Kita Hidup Berkelanjutan dengan 12 Miliar Orang?
-
Bahaya Tersembunyi di Balik Kemudi: Mengenal dan Mencegah Ancaman Microsleep
-
Bukan Emas atau Berlian: 10 Buku 'Tua' Ini Justru Punya Harga Ratusan Miliar Rupiah!
Artikel Terkait
News
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Uji Coba B50 di 6 Sektor Sekaligus: Amankah Sawit 50 Persen untuk Mesin Kendaraan?
-
Peringatan Keras The Economist untuk Indonesia: Saatnya Rem Kebijakan yang Terlalu Ekspansif?
-
Kadang Bukan Gagal, Hidup Memang Punya Rencana yang Berbeda
-
Anak Muda Punya Banyak Rencana Hidup, Tapi Risiko Bisa Datang Kapan Saja
Terkini
-
It Girl Vibes! 4 Ide OOTD Kasual ala Roh Yoon Seo yang Cocok Buat Gen Z
-
Sinopsis Daikuko: GATE24, Drama Jepang Terbaru Shuri dan Maeda Gordon
-
The Traveling Cat Chronicles: Jejak Kesetiaan Nana Menembus Batas Waktu
-
Kenapa La Copa de la Vida dan Waka Waka Masih Jadi Jawaranya Lagu Piala Dunia?
-
5 Hydrating Toner Under Rp50 Ribu: Lembap Maksimal Gak Bikin Kantong Bolong