M. Reza Sulaiman | Atalie June Artanti
Kolase foto Andreessen, Bill Gates, Mark Cuban (Wikipedia/edit by Atalie June Artanti)
Atalie June Artanti

Di saat sebagian besar orang menghabiskan waktu luang dengan menggulir layar tanpa tujuan, beberapa tokoh dunia justru memilih arah yang berlawanan: mereka mengisi waktu kosong dengan belajar.

Marc Andreessen, investor teknologi dan pendiri firma modal ventura Andreessen Horowitz, mengungkapkan bahwa kebiasaan mendengarkan podcast dan buku audio bukan sekadar rutinitas, melainkan cara hidup. Dalam wawancara dengan podcast How I Write, ia mengatakan hampir setiap menit waktu luangnya diisi dengan mendengarkan sesuatu yang bermakna.

Awalnya, Andreessen hanya menyediakan dua jam per hari. Namun, seiring berkembangnya aktivitas bisnis, durasi itu meningkat menjadi sekitar tiga jam sehari. Topik yang ia konsumsi pun bukan sembarangan: sejarah, biografi, teknologi, hingga kecerdasan buatan.

Baginya, perangkat sederhana seperti AirPods justru menjadi “lompatan teknologi besar” karena memungkinkan proses belajar terjadi di mana saja—saat berjalan, berkendara, bahkan ketika melakukan pekerjaan ringan.

“Pada era scrolling tanpa henti, kebiasaan mendengar audiobook selama perjalanan justru terasa seperti bentuk perlawanan kecil terhadap distraksi," katanya.

Jika dihitung, dalam seminggu Andreessen bisa menghabiskan lebih dari 20 jam hanya untuk belajar melalui audio. Menariknya, penelitian juga menunjukkan bahwa daya serap informasi dari buku audio (audiobook) dapat setara dengan membaca teks, terutama jika dilakukan secara konsisten dan fokus.

Bukan Hanya Andreessen: Gates dan Cuban Punya Pola Serupa

Kebiasaan belajar para miliarder ternyata bukan fenomena tunggal. Bill Gates, pendiri Microsoft dan filantropis global, dikenal luas sebagai pembaca fanatik. Ia menyelesaikan sekitar 50 buku setiap tahun dan secara rutin membagikan daftar bacaannya kepada publik. Menurut Gates, membaca memperluas rasa ingin tahu dan membantu membentuk cara berpikir yang lebih jernih dalam mengambil keputusan.

Sementara itu, Mark Cuban, pengusaha dan pemilik Dallas Mavericks, bahkan mengakui bahwa dirinya tidak akan berada di posisi sekarang tanpa kebiasaan membaca. Dalam tulisannya, Cuban menyebutkan bahwa ia menghabiskan lebih dari tiga jam per hari untuk membaca dan belajar. Ketiganya berbeda bidang dan berbeda generasi, tetapi memiliki satu kesamaan: mereka menganggap belajar sebagai kebutuhan, bukan pilihan.

Kontras dengan Realitas Anak Muda Hari Ini

Kebiasaan ini terasa semakin kontras ketika dibandingkan dengan realitas digital generasi muda. Berbagai laporan menunjukkan bahwa anak muda Indonesia rata-rata menghabiskan 4–6 jam per hari di media sosial. Platform hiburan dan aplikasi scrolling menjadi konsumsi utama waktu luang. Padahal, akses terhadap sumber belajar hari ini justru semakin terbuka:

  • Podcast edukatif tersedia gratis di berbagai platform.
  • Aplikasi perpustakaan digital menyediakan ribuan buku gratis.
  • Platform baca daring memungkinkan siapa pun belajar tanpa biaya.

Artinya, hambatannya bukan lagi akses, melainkan pilihan.

Membaca dan Mendengar: Investasi Kecil dengan Dampak Panjang

Menurut Brooke Vuckovic, profesor di Kellogg School of Management Northwestern, membaca tetap menjadi komponen penting dalam membuka wawasan, terutama dalam dunia profesional dan bisnis. Pengetahuan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit akan membentuk pola pikir, cara mengambil keputusan, dan daya tahan mental jangka panjang.

Para miliarder tersebut tidak membaca karena memiliki banyak waktu. Justru sebaliknya: mereka meluangkan waktu karena memahami bahwa belajar adalah salah satu bentuk investasi paling murah, tetapi paling konsisten hasilnya. Pada akhirnya, mungkin yang membedakan bukan siapa yang paling sibuk, melainkan siapa yang tetap memilih belajar ketika orang lain memilih terdistraksi.

Di dunia yang tak pernah kehabisan hiburan, kebiasaan membaca dan mendengar bukan lagi sekadar hobi, melainkan bentuk disiplin sunyi yang pelan-pelan membentuk masa depan.