Jakarta sering digambarkan sebagai kota yang gersang secara fisik, namun di tangan Mochtar Lubis, kegersangan itu merasuk hingga ke sumsum tulang dan hati nurani pelakunya.
Terbit pertama kali pada tahun 1964, novel "Tanah Gersang" bukan sekadar cerita kriminal biasa.
Ia adalah sebuah gugatan terhadap dekadensi moral pasca-revolusi, di mana kemerdekaan justru melahirkan jurang pemisah yang tajam antara elit politik yang korup dan pemuda-pemuda yang kehilangan arah.
Tiga Pemuda dan Pilihan Jalan Pintas
Kisah ini dimulai dengan kejadian perampokan di toko emas Ciu Lan Fong yang dilakukan oleh tiga pemuda bernama Joni, Yusuf, dan Sukandar. Yang menarik, mereka datang dari latar belakang yang berbeda.
Joni adalah anak dari seorang politisi kaya, Maimun Habsyah, yang hidup dalam kemewahan tetapi kekurangan perhatian. Ayahnya sangat sibuk dengan kegiatan politik dan istri-istrinya yang lebih muda, sementara ibunya terjebak dalam rasa frustrasi.
Kekosongan di rumahnya membuat Joni merasa seperti seorang "asing" dan menemukan kenyamanan di rumah Yusuf, seorang anak yatim piatu akibat peperangan, serta Sukandar, remaja yang ditinggalkan sejak kecil dan tumbuh di kerasnya kehidupan di jalanan.
Mereka bertiga terhubung melalui pengalaman serupa: perasaan tertolak. Joni menjadi otak perampokan bukan karena membutuhkan uang, tetapi sebagai bentuk pemberontakan dan pencarian identitas. Namun, kehidupan criminal itu tidak memberinya kedamaian.
Uang yang didapat dari perampokan habis saat ia mengejar kasih yang palsu dari seorang artis cantik bernama Lisa. Sampai akhirnya, rencana untuk merampok lagi berakhir tragis dengan terjadinya pembunuhan.
Pada saat Joni berusaha membersihkan dirinya dengan menikahi Dewi (adik Lisa) dan mencari kebahagiaan baru di Medan, masa lalu yang kelam dan takdir Tuhan menantinya di dasar Danau Toba.
Ketika "Rumah" Tak Lagi Menjadi Tempat Pulang
Mochtar Lubis dengan cermat menggambarkan kehancuran struktur keluarga sebagai sumber masalah perilaku remaja. Karakter Maimun Habsyah merupakan kritik tajam Lubis terhadap para politisi di era tersebut (dan mungkin masih relevan hingga saat ini) yang beranggapan bahwa uang dapat menggantikan kehadiran seorang ayah.
Kekosongan dalam keluarga Habsyah inilah yang mendorong Joni untuk mencari "kehangatan" dari Rafiah, bibi Yusuf, yang memberikan perhatian sekaligus menariknya lebih dalam ke sisi gelap kehidupan orang dewasa.
Selain itu, karya ini secara gamblang menunjukkan bahwa kejahatan selalu melahirkan ketakutan yang menghantui.
Joni diceritakan berusaha untuk bertobat dan melupakan masa lalunya melalui Dewi, tetapi Lubis tampaknya ingin menekankan bahwa dosa tidak dapat dihapus hanya dengan menghindar ke tempat yang jauh.
Momen terakhir hidup Joni yang tenggelam tepat setelah mengetahui teman-temannya ditangkap adalah sebuah ironi yang puitis: ia wafat dalam keadaan "insaf" tetapi tidak memiliki kesempatan untuk memperbaiki kesalahan yang telah ia lakukan.
Gaya penulisan Mochtar Lubis yang langsung dan berani memungkinkan pembaca merasakan debu dan keputusasaan Jakarta di tahun 60-an. Novel ini mengingatkan kita bahwa kemajuan ekonomi dan politik suatu negara akan menjadi "padang gersang" jika tidak disertai dengan pembangunan moral dan integritas keluarga.
"Tanah Gersang" adalah karya klasik yang tetap "panas" untuk dibaca hari ini. Ia menampar kita dengan realita bahwa penjahat tidak selalu lahir dari kemiskinan harta, tapi sering kali dari kemiskinan jiwa. Bagi Anda pecinta karya sastra yang berbobot dan ingin melihat sisi gelap sejarah sosial Indonesia, novel ini adalah referensi yang tak boleh dilewatkan. Jika menyenangkan sebarkan, jika tidak, beri tahu!.
Identitas Buku:
- Judul: Tanah Gersang
- Pengarang: Mochtar Lubis
- Penerbit: Pustaka Jaya (Jakarta), Pembangunan (Jakarta)
- Tahun Terbit: Cetakan kedua 1982 (Pustaka Jaya), 1964 (Pembangunan)
- Tebal Buku: Sekitar 144–228 halaman
- Genre: Fiksi Indonesia / Novel Sosial
Baca Juga
-
Review Novel O Eka Kurniawan: Satir Pedas Tentang Monyet Berambisi Jadi Manusia
-
'Katri': Menenun Sisa Hidup dari Puing Tragedi 1965
-
Tanah Tabu: Suara Perlawanan Perempuan dari Jantung Papua
-
Mengenal Sisi Lain Tan Malaka Lewat Karya Legendaris Dari Penjara ke Penjara
-
Senja di Jakarta: Cermin Retak Ibu Kota yang Masih Relevan Hari Ini
Artikel Terkait
Ulasan
-
Drama China You Are My Hero: Ketika Medis dan Militer Bertemu
-
Review Novel O Eka Kurniawan: Satir Pedas Tentang Monyet Berambisi Jadi Manusia
-
5 Centimeters Per Second Live-Action: Kisah Penerimaan atas Kehilangan
-
Review Film The Plague: Metafor Kecemasan Sosial yang Menyeramkan!
-
Membedah Makna Damai di Buku Seneca Filsafat Hidup Bahagia
Terkini
-
7 Ide Outfit ala Yuki Kato untuk Kamu yang Ingin Solo Traveling
-
Debut Akting, WOODZ Siap Bintangi Film Pendek 'Slide Strum Mute'
-
Daftar 5 Film Horor Indonesia Tayang Februari 2026: Dari Mitos Pohon Waru hingga Teror Lift!
-
4 Face Wash Centella Bebas Parfum & Alkohol yang Gentle di Kulit Sensitif
-
Tak Perlu Foundation! 4 Tinted Sunscreen Lokal SPF 50 Ini Bikin Wajah Cerah