Di balik rutinitas dan profesionalisme pekerjaan di kantor, masing-masing orang tentu punya persoalan dan bebannya sendiri-sendiri. Saat hectic dan beban pekerjaan mulai menumpuk serta merasa kewalahan, wajar saja jika kita sebagai pekerja membutuhkan empati dari rekan kerja.
Namun, bagaimana kalau kita berada di posisi sebaliknya? Sebagai rekan kerja yang melihat kondisi teman yang kewalahan dengan psikologisnya, apa yang seharusnya kita lakukan?
Menurut Associate Trainer Jacaranda Consultant Indonesia, Arka Nareswari, S.Psi., M.A., dalam sebuah webinar mengatakan, kehadiran dan empati sederhana bisa menjadi pertolongan pertama yang menyelamatkan. Melalui Pertolongan Pertama Psikologis (Psychological First Aids), sebagai rekan kerja, kita bisa belajar cara sederhana untuk hadir, mendukung, dan menumbuhkan rasa aman di tempat kerja.
Prinsip dasarnya adalah Look (amati), Listen (dengar), dan Link (hubungkan). Ia menjelaskan, Look adalah mengamati atau memeriksa, caranya dengan memeriksa keamanan sekitar dan mengidentifikasi orang yang membutuhkan bantuan, misalnya rekan kerja yang mengalami tanda stres berat.
Kemudian Listen, yakni mendekati orang yang membutuhkan, cukup mendengarkan cerita mereka, tanpa judgment, hanya mendengarkan saja tanpa paksaan. Langkah berikutnya adalah Link, yakni membantu mereka menghubungi keluarga atau bisa memberikan akses informasi dan layanan profesional.
Hal ini diperlukan untuk memberikan dukungan praktis dan emosional rekan kerja kita yang mengalami stres berat akibat krisis atau trauma. Psychological First Aids ini bertujuan untuk menstabilkan emosi, memberikan ketenangan, dan rasa aman. Tujuan dari Psychological First Aids yakni memberikan rasa aman dan nyaman sehingga mengurangi stres awal serta bisa menenangkan rekan kerja. Kemudian, dapat mengurangi dampak trauma dan mencegah masalah psikologis yang lebih berat di kemudian hari, serta dapat mendorong fungsi adaptif dalam mengatasi situasi krisis.
Tiga langkah dalam Psychological First Aids ini bisa dilakukan oleh siapa saja, bukan hanya profesional, namun harus diingat kita yang melakukannya tidak boleh dengan paksaan. Jika rekan kerja kita memang belum bersedia bercerita, cukup hadir saja untuk mereka. Selain itu, tidak disarankan juga untuk memberikan janji atau harapan palsu. Juga disarankan untuk tidak menanyakan detail tentang kejadian traumatis secara mendalam apabila korban belum siap.
Intinya, Psychological First Aids ini dapat menciptakan lingkungan suportif agar rekan kerja kita merasa didukung dan tidak sendirian dalam menghadapi masa sulit. Bagaimana? Sudah siapkah kita untuk menumbuhkan rasa aman di tempat kerja?
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Psychological Reactance: Alasan di Balik Rasa Kesal Saat Disuruh dan Dilarang
-
Relasi Kuasa di Tempat Kerja dan Maraknya Kekerasan Berbasis Gender
-
Sepenggal Kisah dari Tanah Persinggahan
-
Rupiah Melemah, Tarif Tes Psikologi SIM Ikut Naik! Cek Estimasi Total Biayanya
-
Brain Dump hingga Napas 4-6: Trik Psikologi Mengatasi Overthinking Secara Instan
News
-
Dunia Maya Rasa Dunia Nyata: Tetap Sopan dan Jaga Etika itu Wajib!
-
Edho Zell Bercanda soal Kematian, Langsung Diperingatkan: Nggak Lucu Ah
-
Satu Klik Menentukan Nasib: Cara Menguji Link Biar Data Digitalmu Tetap Aman
-
Belajar Memaknai Kamis Putih lewat Lagu Membasuh dari Hindia
-
Makin Autentik! Kenalan Yuk Sama Spotlight, Wajah Baru Yoursay yang Siap Curi Perhatian
Terkini
-
Dari Selat Hormuz ke Meja Makan: Waspada Efek Domino Konflik Global ke Dapur Kita
-
Wisuda Bukan Garis Finis: Nasib Lulusan Baru di Pasar Kerja yang Tak Pasti
-
Review Film Nobody: Petualangan Monster Kecil yang Lucu dan Menginspirasi
-
Perempuan Bergaun Merah dan Jejak di Pos Satpam
-
Lenovo IdeaPad Slim 5 Gen 10: Laptop Tipis Berotak AISiap Temani Aktivitas Harianmu