M. Reza Sulaiman | Fathorrozi 🖊️
Ilustrasi kapal laut pengangkut BBM melaju lewat Selat Hormuz (Freepik)
Fathorrozi 🖊️

Dunia lagi nggak baik-baik saja. Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel bukan cuma soal politik atau militer, tapi juga punya efek domino yang terasa sampai ke dapur kita. Sekilas, Indonesia memang terlihat aman. Stok pangan cukup, harga relatif stabil, dan pemerintah lewat Bulog memastikan cadangan pangan masih terkendali. Tapi kalau dipikir lebih dalam, rasa aman itu sebenarnya belum sepenuhnya final.

Memang benar, Indonesia tidak terlalu bergantung pada impor pangan dari kawasan Timur Tengah. Bahkan, untuk komoditas seperti beras, kita bisa dibilang cukup kuat dengan cadangan nasional yang mencapai jutaan ton. Ini tentu kabar baik, apalagi di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian. Namun, menurut saya, justru di titik aman seperti inilah kita sering lengah.

Masalahnya bukan selalu datang dari hal yang terlihat langsung. Dampak terbesar dari konflik global kerap muncul dari sektor yang tampaknya tidak berkaitan, seperti energi dan logistik.

Ketika jalur penting seperti Selat Hormuz terganggu, harga minyak dunia bisa melonjak. Efeknya? Biaya transportasi naik, distribusi jadi lebih mahal, dan ujung-ujungnya harga pangan ikut terdorong naik.

Di sinilah kekhawatiran itu mulai terasa nyata. Bukan soal hari ini atau minggu depan, tapi beberapa bulan ke depan. Ketika ongkos produksi pertanian meningkat dan distribusi makin mahal, inflasi pangan bisa jadi ancaman serius. Apalagi Indonesia masih bergantung pada impor untuk beberapa komoditas penting seperti gandum, kedelai, dan jagung. Kalau rantai pasok global terganggu, kita nggak punya banyak pilihan selain ikut merasakan dampaknya.

Belum lagi kalau ditambah dengan faktor alam seperti El Nino ekstrem yang berpotensi menyebabkan kekeringan panjang. Ini seperti double hit. Dari luar ada tekanan global, dari dalam ada ancaman produksi yang menurun. Kombinasi ini bisa jadi masalah besar kalau tidak diantisipasi sejak sekarang.

Menurut saya, kita perlu mengubah cara pandang. Ketahanan pangan bukan sekadar soal punya stok banyak hari ini, tapi soal kesiapan menghadapi ketidakpastian besok. Kita tidak bisa terus bergantung pada impor sambil berharap situasi global tetap stabil. Dunia sudah terlalu dinamis untuk berharap seperti itu.

Langkah paling realistis adalah memperkuat produksi dalam negeri. Bukan cuma soal menambah lahan, tapi juga meningkatkan kualitas pertanian. Modernisasi, penggunaan teknologi, distribusi pupuk yang tepat, hingga perlindungan lahan produktif harus jadi prioritas.

Selain itu, diversifikasi pangan juga penting. Kita terlalu terkunci pada beberapa komoditas tertentu, padahal Indonesia punya potensi sumber pangan lokal yang sangat beragam.

Di sisi lain, peran pemerintah tetap krusial, terutama dalam menjaga stabilitas harga dan memastikan distribusi berjalan lancar. Bulog, misalnya, harus benar-benar hadir sebagai penyeimbang pasar, bukan sekadar penyimpan stok. Intervensi yang tepat waktu bisa mencegah gejolak harga yang berlebihan.

Ketahanan pangan itu bukan cuma urusan pemerintah, tapi juga kesadaran bersama. Kita perlu lebih bijak dalam konsumsi, lebih menghargai produksi lokal, dan lebih peduli terhadap isu-isu yang mungkin terasa jauh, tapi dampaknya sangat dekat.

Karena jujur saja, di tengah dunia yang semakin tidak pasti, satu hal yang pasti, yaitu kita tidak bisa terus bergantung pada keberuntungan. Kita harus siap. Sekarang.