Terkadang, kita sudah bertekad atau berinisiatif untuk melakukan suatu hal yang positif, menyapu halaman rumah yang kotor misalnya. Namun, tiba-tiba orang tua menyuruh kita untuk melakukan kegiatan yang sama, persis seperti yang sedang kita pikirkan.
Kemudian, muncul perasaan kesal yang mengganjal, seakan enggan untuk mengerjakan. Padahal sebelumnya, kita memang sudah berniat untuk melakukan hal serupa. Kira-kira, mengapa bisa demikian?
Psychological Reactance
Rasa ingin menolak untuk mengerjakan perintah tersebut dinamakan psychological reactance atau reaktansi psikologis. Konsep yang pertama kali dirumuskan oleh Jack Brehm pada tahun 1966 ini menjelaskan tentang perasaan tidak nyaman yang dialami seseorang saat kebebasan perilaku atau pilihannya cenderung diancam atau dibatasi.
Selanjutnya, orang itu berpotensi untuk mengambil alih kebebasan itu kembali dengan bertindak berkebalikan dari perintah yang telah diberikan. Kondisi ini juga menjelaskan mengapa semakin seseorang dilarang melakukan sesuatu, ia justru semakin nekat melanggar batasan tersebut.
Sebuah studi yang dimuat dalam jurnal Zeitschrift für Psychologie menyebutkan bahwa menyanggah atau berargumen balik, serta timbulnya emosi marah, merupakan bentuk resistensi atau perlawanan terhadap ancaman kebebasan.
Oleh sebab itu, tidak mengherankan apabila kita terkadang merasa kesal apabila disuruh-suruh orang lain. Mungkin sebelumnya kita mempunyai dua pilihan antara melakukan atau tidak melakukan, tetapi karena orang lain telah menyuruh kita, kita seakan dipaksa untuk tunduk pada satu pilihan saja. Pikiran kita secara otomatis menganggap perintah itu mengancam kebebasan kita.
Perasaan ini tidak sepenuhnya mengarah pada tindakan negatif yang menjerumuskan. Justru, perasaan ini kita perlukan untuk lebih berhati-hati dalam mencerna instruksi dan mempertimbangkan keputusan dengan matang guna memutuskan apakah aturan atau instruksi tersebut sepenuhnya benar.
Cara Mengatasi Psychological Reactance
1. Menerima perasaan tersebut
Pertama-tama, kita perlu menyadari bahwa reaksi ini adalah sebuah kewajaran. Setiap individu barangkali pernah merasakannya. Dengan begitu, kita tidak harus menanggapinya secara berlebihan, seakan takut akan dicap sebagai “pembangkang” atau “pemalas”.
Kita tentu paham bahwa perasaan yang hadir bukan berarti harus selamanya diikuti atau diwujudkan dengan tindakan. Apabila perintah yang kita dapatkan berisi kebaikan, seperti ajakan untuk membantu pekerjaan rumah, rasa enggan atau penolakan yang timbul dari psychological reactance ini harus kita lawan.
2. Menyediakan opsi alternatif
Kita dapat menyiasati psychological reactance dengan berpikir bahwa kita selalu punya kebebasan untuk memilih. Saat orang tua menyuruh menyapu halaman, kita dapat memberi diri sendiri pilihan: akan melakukannya sekarang atau beberapa menit lagi.
Kita juga dapat memilih untuk menggunakan sapu ijuk atau sapu lidi, serta bentuk pilihan lainnya. Dengan pemberian opsi tersebut, kita tidak akan merasa kebebasan kita sepenuhnya direnggut. Hal itu akan membuat rasa kesal dan keterpaksaan yang kita miliki menjadi berkurang.
3. Mempertimbangkan konsekuensi yang akan didapatkan
Kita juga dapat mengurangi rasa enggan saat disuruh melakukan sesuatu dengan memikirkan konsekuensi atas perbuatan kita. Pertimbangkan dampak buruk dan manfaat yang akan didapatkan apabila mengerjakannya atau tidak mengerjakannya.
Sebagai contoh, kita dapat memikirkan manfaat jika mengikuti perintah orang tua untuk membantu menyapu halaman. Apabila kita mengerjakannya, halaman akan bersih dan kita membuktikan diri sebagai anak yang berbakti. Sebaliknya, apabila kita mengabaikannya, orang tua akan sakit hati dan halaman tetap kotor.
Dengan demikian, pengetahuan mengenai psychological reactance ini memberikan kita pelajaran tentang bagaimana cara menyikapi perintah serta memahami diri sendiri secara lebih baik.
Artikel Terkait
-
Sepenggal Kisah dari Tanah Persinggahan
-
Ketika Akses Ditutup, Risiko Tak Hilang: Pelajaran dari Larangan Media Sosial
-
Rupiah Melemah, Tarif Tes Psikologi SIM Ikut Naik! Cek Estimasi Total Biayanya
-
Brain Dump hingga Napas 4-6: Trik Psikologi Mengatasi Overthinking Secara Instan
-
Memahami Criminal Mind: Kerangka Kognitif di Balik Perilaku Antisosial
News
-
Yakin Itu Self Reward? Jangan-Jangan Kamu Sedang Self Sabotage
-
Gaji Ratusan Ribu, Tanggung Jawab Selangit: Ironi Guru Honorer sang "Iron Man" Pendidikan
-
Bukan Cuma Luka di Kulit, Demokrasi Kita Juga Ikut Cedera Gara-Gara Cairan Keras
-
Social Battery Habis Saat Lebaran? Ini Tips Survive Ala Introvert
-
Pak Menteri Siap Potong Gaji? Siasat Prabowo Hadapi Krisis Global Contek Pakistan
Terkini
-
Baju Baru yang Disimpan di Langit Hati
-
Sinopsis Assi, Film India yang Dibintangi Taapse Pannu dan Kani Kusruti
-
Review Doubt: Misi Profiler Kawakan Misi Mencari Kebenaran atau Misi Menutupi Aib?
-
3 Drama Korea dengan Kisah Pacar Virtual, Ada Boyfriend on Demand
-
Membaca Novel ILY: Saat Petualangan Berubah Jadi Pilihan yang Menyakitkan