"Kalau bukan jodoh, kenapa kita dipertemukan sampai menikah?" Mungkin pertanyaan ini sering terlintas dalam pikiran saat hubungan berakhir pahit, entah karena perceraian, konflik berkepanjangan, atau rasa cinta yang perlahan habis.
Banyak orang merasa "tertipu" oleh takdir. Sudah yakin ini adalah "jodoh dunia akhirat", tetapi kenyataannya tidak bertahan. Padahal, mungkin sejak awal kita saja yang salah dalam memahami makna jodoh.
Kita sering menganggap jodoh identik dengan akhir yang bahagia: bertemu, cocok, menikah, lalu hidup selamanya bersama. Seolah-olah jika hubungan gagal, berarti itu bukan jodoh. Nyatanya, hidup tidak sesederhana itu.
Jodoh Tidak Selalu Soal Bertahan Selamanya
Jodoh bukan hanya tentang siapa yang menemani sampai tua. Ada orang yang hadir sebagai jodoh untuk tempat belajar, ada yang datang untuk menyembuhkan luka lama, ada yang membantu kita tumbuh, dan ada juga yang memang tinggal selamanya.
Tidak semuanya ditakdirkan bertahan, tetapi semuanya datang dengan membawa makna. Beberapa orang hadir seperti guru. Mereka mungkin tidak tinggal lama, tetapi dampaknya mengubah hidup kita sepenuhnya. Tanpa mereka, kita tidak akan menjadi pribadi yang sekarang.
Jadi, mungkin pertanyaannya bukan "kenapa tidak bertahan?", melainkan "apa yang aku pelajari dari hubungan itu?". Kamu hanya perlu terbuka dengan semua sudut pandang pada definisi jodoh yang datang dalam hidup, entah itu sementara atau selamanya.
Pernikahan: Takdir Sekaligus Pilihan
Banyak orang lupa bahwa pernikahan berdiri di dua wilayah, yaitu takdir dan pilihan. Pasangan yang menikah dipertemukan oleh takdir, tetapi menjaga hubungan adalah pilihan masing-masing karena membutuhkan komunikasi, kesabaran, tanggung jawab, dan pengorbanan.
Banyak pernikahan hancur bukan karena salah takdir, melainkan karena ego tidak mau diturunkan, luka dibiarkan menumpuk, dan dua orang berhenti mencoba. Dipertemukan artinya diberi kesempatan, tetapi bertahan artinya diuji komitmennya. Kalau gagal, bukan berarti takdir keliru. Bisa jadi prosesnya memang tidak dijalani dengan baik. Pada akhirnya, jodoh disudahi dan terhenti, yang sayangnya sering diartikan orang sebagai kegagalan.
"Kenapa Harus Sampai Menikah Kalau Akhirnya Cerai?"
Ini pertanyaan yang sering terdengar menyakitkan. Namun, ada realitas yang jarang dibicarakan tentang pelajaran hidup yang hanya bisa dipelajari lewat pernikahan.
Pernikahan adalah sekolah paling keras tentang keikhlasan, tanggung jawab, pengorbanan nyata, pengendalian diri, dan cara menghadapi luka terdalam. Pelajaran seperti ini tidak bisa didapat hanya dari masa pacaran atau nasihat orang tua sebab harus dialami langsung.
Seperti sekolah; masuk sekolah, kurikulum, dan ujiannya adalah takdir. Namun, keinginan untuk tetap belajar atau bolos adalah pilihan. Lulus atau tidak merupakan hasil. Kalau tidak lulus, bukan berarti sekolahnya sia-sia, hanya prosesnya yang belum maksimal. Begitu juga dengan pernikahan.
Perceraian Bukan Bukti Takdir Gagal
Banyak orang melihat perceraian sebagai kegagalan total. Padahal, dari sudut pandang lain, perceraian justru bukti bahwa takdir bekerja. Kamu menjalani siklus bertemu orang itu, jatuh cinta, menikah, lalu berubah setelahnya.
Faktanya, hampir semua orang yang melewati pernikahan, bahkan yang berakhir cerai, mengaku menjadi lebih dewasa, lebih sadar diri, dan lebih paham batasan. Artinya, prosesnya tetap membentukmu.
Fungsi utama takdir bukan mempertahankan hubungan selamanya, melainkan membentuk manusia. Terkadang ada orang yang hadir bukan untuk tinggal, melainkan untuk menunjukkan luka kita, mematahkan ego, atau memaksa kita tumbuh.
Jangan Menyalahkan Diri Terlalu Keras
Jika kamu pernah gagal dalam pernikahan, itu bukan berarti kamu bodoh, doa-doamu sia-sia, atau hidupmu rusak. Itu hanya berarti pelajarannya selesai dan kamu naik level pemahaman.
Banyak orang juga bertanya, "Kalau sudah tahu sakit, kenapa tetap bertahan lama?". Jawabannya sederhana: karena kamu manusia. Bertahan bukan dosa, melainkan tanda kamu pernah berusaha. Dan berusaha selalu lebih terhormat daripada menyerah tanpa mencoba.
Takdir Bukan Kontrak Bahagia Selamanya
Kesalahan terbesar kita adalah menganggap takdir sebagai jaminan happy ending. Padahal, takdir lebih tepat dipahami sebagai siapa yang kamu temui, di fase hidup yang mana, dan ujian apa yang harus kamu hadapi.
Takdir bukan janji bahwa semuanya akan mulus tanpa usaha. Takdir hanya membuka jalan, dan pilihan menentukan langkah dengan hasil sebagai konsekuensi keduanya. Jadi, kalau akhirnya harus berpisah, itu bukan berarti jodohnya palsu. Bisa jadi memang masa jodohnya sudah selesai. Sebab, jodoh tidak selalu berarti "selamanya", terkadang hanya berarti "seperlunya".
Baca Juga
-
PBSI Beberkan Revolusi Baru BWF: Transformasi Besar Bulu Tangkis Global
-
Fenomena Cut Off Orang Tua: Self-Love atau Batasan yang Terlambat Dibuat?
-
Apa Itu DARVO? Memahami Cara Pelaku Pelecehan Memutarbalikkan Fakta
-
Acha Septriasa Bicara soal Perselingkuhan dan Rasa Kesepian dalam Hubungan
-
Pergeseran Budaya Mengaji: Dari Karpet Masjid ke Ballroom Hotel yang Estetik
Artikel Terkait
-
El Rumi Jawab Kabar Menikah dengan Syifa Hadju Pasca Lebaran
-
Bukan Cinderella: Pernikahan Beda Kasta yang Tak Semanis Dongeng
-
Mengenal Apa Itu Open Marriage dan Pandangannya dalam Islam
-
Simpang Siur Isu Perceraian Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Terjawab
-
Segera Menikah, Bomi Apink Umumkan Tanggal Pernikahan dengan Rado
News
-
Remaja Indonesia Malas Bergerak! Malaka Project Buka Mata soal Dampaknya
-
Kreativitas Siswa Tumbuh Lewat Inkuiri Kolaboratif di SMAN 4 Yogyakarta
-
Mengapa Gen Z Indonesia Tak Lagi Mengejar Jabatan Tinggi?
-
Fenomena Kelas Menengah Pilih Sekolah Swasta: Tren atau Kecemasan?
-
Shorts Drama China: Hiburan Instan yang Diam-Diam Menyita Waktu
Terkini
-
Memaklumi Manusia Tak Harus Selalu Kuat di Novel Bibi Gill Karya Tere Liye
-
Indonesia Urung Tampil, Sepak Bola Asian Games Dipastikan Kehilangan Satu Kekuatan Terbaik
-
Kejutkan Penggemar! G-Dragon Pastikan BIGBANG Comeback 2026
-
Abraham yang Paham Gagal
-
Novel Perempuan dan Anak-anaknya,Tragedi 1965 dalam Sudut Pandang Keluarga