Hayuning Ratri Hapsari | e. kusuma .n
Acha Septriasa (Instagram/septriasaacha)
e. kusuma .n

Perselingkuhan masih menjadi salah satu topik yang paling sering muncul dalam pembicaraan tentang hubungan asmara. Menariknya, pernyataan Acha Septriasa tentang bagaimana rasa sendirian dalam hubungan bisa memicu perselingkuhan kembali viral.

Berawal dari komentar Acha saat promosi film Suami yang Lain (2024), ternyata potongan video ini malah jadi bahan diskusi online di kolom komentar. Bukan dengan maksud membenarkan perselingkuhan, hanya mengajak untuk memahami akar masalah.

Banyak orang lupa kalau sebuah hubungan jangka panjang tidak otomatis aman hingga saat masalah dibicarakan secara jujur, potensi “godaan” dalam banyak hubungan romantis bisa saja muncul. Apalagi saat kesempatan dan peluang muncul, tentu risikonya jadi lebih besar.

Fenomena ini bahkan dianggap masih relate dengan dinamika percintaan Gen Z zaman now yang memiliki cara berkomunikasi dan ekspresi cinta yang berbeda dibanding generasi sebelumnya.

Apa Itu Rasa Sendirian dalam Hubungan?

Rasa sendirian dalam hubungan bukan berarti fisik terpisah, tetapi lebih kepada ketidakpuasan emosional. Seorang pasangan bisa merasa sendirian meskipun secara fisik bersama karena minim komunikasi, kebutuhan emosional tidak terpenuhi, hingga pengabaian.

Singkatnya, pasangan dibuat merasa “sendirian bersama orang yang dicintai”. Situasi ini berbeda dari sekadar konflik sesekali atau kesibukan masing-masing. Rasa sendirian dalam hubungan sering kali bersifat kronis, berulang dan tanpa penyelesaian.

Kenapa Rasa Sendirian Bisa Menjadi Risiko?

Diakui atau tidak, kebutuhan dasar dalam hubungan adalah koneksi emosional. Tanpa koneksi ini, pasangan akan merasa tak didengar, kehilangan rasa aman, dan merasa tak lagi “terhubung” hingga beralih mencari pemenuhan di luar hubungan.

Dalam kondisi tertentu, rasa kesepian ini memicu pencarian hubungan emosional atau fisik di luar. Tentu hal ini bukan ingin membenarkan perselingkuhan, tetapi lebih pada memahami luka yang tak tertangani.

Banyak kasus perselingkuhan tidak muncul dalam kondisi hubungan yang sehat. Sebaliknya, konflik yang tak terkomunikasikan, ketidakpedulian, atau kebutuhan emosional yang tidak direspons bisa jadi pemicunya.

Acha Septriasa dan Pernyataannya

Pernyataan Acha Septriasa pun kembali viral karena menjelaskan sesuatu yang sering dirasakan tapi jarang diungkapkan. Kurangnya perhatian dan kesepian dalam hubungan bukanlah pembenaran untuk selingkuh, tapi sinyal masalah yang perlu diperbaiki bersama.

Dalam pernyataannya saat promosi film terbarunya pada 2024 lalu, Acha bukan ingin membenarkan alasan berselingkuh tapi menyoroti pembiaran pada pasangan yang masih sering terjadi, bukan hanya di film.

"Bukan pembenaran perselingkuhan ya, tapi bisa seperti ini dampaknya kalau kita membiarkan pasangan kita sendirian," ungkap Acha.

Lebih lanjut Acha menuturkan kalau rasa kesepian dalam hubungan membuat pasangan berjuang sendirian.

"Secara mentally dia ada di dalam relationship yang dia merasa sendirian. Jadi berjuang sendirian, bermesraan sendirian. Dia nggak merasa ada yang bisa along sama dia di partnership ini," tambahnya.

Dari statement ini, bisa dipahami kalau perselingkuhan tetap sebuah pilihan yang salah secara moral dan emosional. Namun, rasa sendirian bisa menjadi indikator bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki dalam hubungan itu sendiri.

Fenomena ini juga mengingatkan semua orang kalau hubungan yang sehat bukan hanya soal “bertahan bersama”, tetapi juga hadir secara emosional untuk satu sama lain.

Fenomena Ini Masih Relevan di Kalangan Gen Z

Gen Z dikenal sebagai generasi yang sangat terhubung secara digital. Ironisnya, mereka bisa merasa sangat terpisah secara emosional dalam hubungan nyata karena beberapa faktor.

Komunikasi yang sering kali lebih banyak dilakukan lewat teks, emoji, dan media sosial tidak jarang malah menghasilkan kesalahpahaman atau komunikasi yang dangkal yang bisa membuat pasangan merasa tidak dipahami.

Ekspektasi tinggi yang berbenturan dengan realitas juga berpotensi membuat pasangan merasa kurang terpenuhi secara emosional. Terlebih dengan adanya konten media sosial yang sering menampilkan hubungan sempurna, Gen Z seolah terjebak dalam kiblat ala medsos.

Di sisi lain, Gen Z juga cenderung terbuka tentang kebutuhan emosional, seperti kebutuhan untuk didengar, divalidasi, dan dihargai. Saat kebutuhan ini tidak dipenuhi, rasa sendirian bisa muncul semakin kuat.

Rasa Kesepian Bukan Pembenaran Perselingkuhan

Rasa kesepian dalam hubungan bukan pembenaran perselingkuhan, tapi bisa jadi tanda adanya masalah emosional yang perlu diperhatikan. Semua pasangan berpotensi mengalami fase ini jika komunikasi dan koneksi emosional kurang terjaga.

Pernyataan seperti yang disampaikan Acha Septriasa membuka ruang diskusi yang penting soal hubungan bukan hanya tentang bersama secara fisik, tapi juga kehadiran emosional yang tulus.

Perselingkuhan adalah luka, bukan solusi. Namun, memahami akar masalah seperti rasa kesepian dalam hubungan mampu menjadi langkah awal membangun hubungan yang lebih sehat, dewasa, dan tahan ujian waktu.