Istilah cut off orang tua semakin sering muncul di media sosial dan ruang obrolan anak muda. Ada yang mengartikannya sebagai bentuk keberanian menjaga kesehatan mental, ada pula yang menilainya sebagai tindakan durhaka.
Di tengah perdebatan ini, satu hal sering terlewat, yaitu keputusan untuk memutus hubungan atau menjauh dari orang tua jarang diambil secara impulsif. Bagi sebagian orang, cut off bukan soal membenci orang tua, melainkan cara bertahan hidup secara emosional.
Apa Itu Cut Off Orang Tua?
Cut off orang tua tidak selalu berarti memutus hubungan sepenuhnya. Dalam praktiknya, cut off bisa berbentuk membatasi komunikasi, menjaga jarak emosional, menghindari topik tertentu, atau berhenti terlibat dalam konflik keluarga.
Tujuannya bukan untuk menyakiti, melainkan melindungi diri dari pola hubungan yang dianggap tidak sehat. Fenomena cut off orang tua pun menjadi isu yang semakin sering dibicarakan, terutama di kalangan generasi muda.
Umumnya, hal ini terjadi karena adanya peningkatan kesadaran akan kesehatan mental. Banyak orang mulai memahami bahwa relasi keluarga pun bisa bersifat toksik sehingga keputusan menjauh atau pergi pun diambil.
Di sisi lain, media sosial juga membuka ruang berbagi pengalaman yang sebelumnya dipendam sendirian. Ditambah lagi, perubahan nilai generasi membuat anak muda sekarang lebih berani mempertanyakan pola asuh lama yang selama ini dianggap normal.
Cut Off Orang Tua Bukan Sekadar Pemberontakan Anak
Cut off sering disederhanakan sebagai sikap manja atau tidak tahu terima kasih. Padahal, dalam banyak kasus, keputusan ini lahir dari pengalaman panjang atas dampak komunikasi yang merendahkan, kontrol berlebihan, invalidasi perasaan, hingga kekerasan verbal atau emosional.
Pengalaman masa lalu tersebut kemudian memicu trauma yang tidak pernah diakui. Apalagi saat upaya komunikasi berulang kali gagal, sebagian orang memilih menjaga jarak sebagai jalan terakhir demi kesehatan mentalnya.
Self-Love vs. Tekanan Sosial dan Rasa Bersalah
Cukup banyak orang yang memilih jalan cut off dengan orang tua sebagai wujud self-love. Namun, di sisi lain, cara ini juga dianggap sebagai egoisme yang difasilitasi agar tidak terus terluka.
Dalam perspektif kesehatan mental, self-love bukan tentang menyenangkan diri sendiri tanpa batas, melainkan menjaga diri dari potensi luka yang mungkin bertambah. Membuat batas bukan berarti memutus kepedulian, melainkan berhenti membiarkan diri disakiti.
Sayangnya, pilihan ini terbentur dengan tekanan sosial yang berujung pada rasa bersalah. Budaya yang menempatkan orang tua sebagai figur yang "selalu benar" membuat anak merasa bersalah saat memilih jarak. Banyak yang hidup di antara dua tekanan: antara ingin sehat secara mental dan takut dicap durhaka. Rasa bersalah ini sering membuat proses cut off terasa semakin berat secara emosional.
Dampak Emosional yang Tidak Sederhana
Keputusan cut off orang tua sebenarnya bukan solusi instan. Meski jarak bisa membawa ketenangan, keputusan ini juga bisa memunculkan rasa kesepian, duka kehilangan figur orang tua, konflik batin, dan kecemasan akan penilaian sosial.
Karena itu, cut off idealnya diiringi dengan dukungan emosional yang sehat, baik dari teman, pasangan, maupun profesional. Perlu dipahami juga bahwa cut off bisa bersifat sementara demi kebutuhan ruang untuk menenangkan diri dan menyusun ulang batas.
Meski ada juga yang memilih jarak permanen karena kondisi hubungan yang tidak memungkinkan untuk dipulihkan, setiap situasi bersifat personal. Tidak ada satu keputusan yang bisa diterapkan pada semua orang secara seragam.
Belajar Membuat Batas yang Sehat
Fenomena cut off orang tua mengingatkan kita akan pentingnya boundary dalam relasi keluarga. Batas bukan bentuk pembangkangan, melainkan alat untuk menjaga hubungan tetap manusiawi.
Cara ini juga bisa menjadi refleksi dari perubahan cara pandang terhadap keluarga dan kesehatan mental. Di baliknya, ada cerita panjang tentang luka, usaha bertahan, dan keinginan untuk hidup lebih sehat.
Alih-alih menghakimi, mungkin mereka lebih membutuhkan empati. Karena pada akhirnya, setiap orang berhak merasa aman, bahkan di dalam lingkup keluarganya sendiri.
Baca Juga
-
Apa Itu DARVO? Memahami Cara Pelaku Pelecehan Memutarbalikkan Fakta
-
Acha Septriasa Bicara soal Perselingkuhan dan Rasa Kesepian dalam Hubungan
-
Pergeseran Budaya Mengaji: Dari Karpet Masjid ke Ballroom Hotel yang Estetik
-
BATC 2026: Tim Putra dan Putri Indonesia Kompak Sabet Dua Medali Perunggu
-
Ramalan Zodiak Terasa Selalu Relate? Bisa Jadi Ini Tanda Barnum Effect
Artikel Terkait
-
Bunga Zainal Beri Respons Keras Usai Tak Dianggap Keluarga Besarnya
-
5 Mobil Bekas yang Bisa Dicicil dengan Angsuran Rp1,5 Juta selama 6 Tahun, Muat 7 Orang
-
Saat Keluarga Menjadi Medan Perang: Ulasan Nyaliku Kecil Seperti Tikus
-
Diterpa Hoaks Cerai, Nia Ramadhani Emosi Sebut Perasaan Anak Terluka
-
Berhenti Jadi People Pleaser! Ini Cara Mulai Menghargai Diri Sendiri
Kolom
-
Bukan karena Cegah Klitih, Warga Sleman Divonis karena Penganiayaan Bersama
-
Kaburnya Batas Offline dan Online: Dua Ruang yang Kian Sulit Dipisahkan
-
Antara Emosi dan Algoritma: Mengapa FYP Dipenuhi Lagu Galau?
-
Algojo Algoritma: Saat 11 Juta Peserta BPJS PBI Dicoret Demi Rapikan Data
-
Dunning-Kruger Effect: Kenapa yang Inkompeten Justru Paling Percaya Diri?
Terkini
-
4 Ide Styling Outerwear ala Yeosang ATEEZ untuk OOTD Simpel tapi Kece!
-
4 Rekomendasi HP dengan Memori Internal 1 TB 2026, Leluasa Menyimpan File Besar dan Aplikasi Berat
-
SM Bekukan Aset EXO-CBX Senilai 2,6 Miliar Won di Tengah Sengketa Hukum
-
Makna Lagu Multo dari Cup of Joe: Kisah Kenangan yang Menghantui
-
Membaca Ulang Merahnya Merah: Saat Kehilangan Menjadi Awal Pencarian Makna