M. Reza Sulaiman | Irhaz Braga
Warga membeli kembang api di Pasar Asemka, Jakarta, Jumat (29/12/2023). [Suara.com/Alfian Winanto]
Irhaz Braga

Bulan Ramadan selalu hadir dengan nuansa yang khas. Selain ibadah yang meningkat, ruang-ruang sosial juga dipenuhi berbagai kebiasaan yang berulang setiap tahun. Salah satunya adalah permainan petasan yang marak dilakukan anak-anak dan remaja menjelang waktu berbuka hingga selepas tarawih.

Di satu sisi, fenomena ini dipandang sebagai bagian dari tradisi yang meramaikan suasana. Namun, di sisi lain, hal ini menyimpan potensi bahaya yang kerap diabaikan.

Permainan petasan bukan sekadar persoalan bunyi yang memekakkan telinga. Hal itu juga berkaitan dengan keselamatan, ketertiban umum, hingga pola pergaulan anak. Dalam konteks ini, peran orang dewasa menjadi krusial untuk memastikan bahwa euforia Ramadan tidak berubah menjadi risiko yang merugikan.

Antara Tradisi dan Risiko yang Mengintai

Tidak dapat dimungkiri, suara petasan telah lama menjadi bagian dari lanskap Ramadan di berbagai daerah. Bagi sebagian anak, menyalakan petasan menghadirkan sensasi kegembiraan yang sulit digantikan. Namun, di balik itu terdapat ancaman nyata yang tidak bisa dianggap sepele.

Kasus luka bakar, kebakaran, hingga gangguan ketertiban sering kali bermula dari aktivitas ini. Bahkan, petasan dengan daya ledak tinggi dapat membahayakan tidak hanya bagi pengguna, melainkan juga lingkungan sekitar. Ironisnya, anak-anak yang terlibat sering kali tidak sepenuhnya memahami risiko tersebut.

Lebih jauh lagi, kebiasaan bermain petasan kerap menjadi pintu masuk bagi pergaulan yang kurang terkontrol. Anak-anak berkumpul dalam kelompok tanpa pengawasan, mencoba berbagai jenis petasan, bahkan terkadang bereksperimen dengan bahan berbahaya. Di titik ini, persoalan tidak lagi sederhana karena telah menjadi bagian dari dinamika sosial yang membutuhkan perhatian serius.

Pergaulan Anak di Ruang Publik Ramadan

Ramadan memang memberi ruang lebih luas bagi anak-anak untuk beraktivitas di luar rumah, terutama pada malam hari. Selepas tarawih, jalanan dan gang-gang perkampungan menjadi arena interaksi sosial yang hidup. Namun, tanpa pengawasan yang memadai, ruang ini juga dapat menjadi tempat berkembangnya perilaku berisiko.

Pergaulan sebaya memiliki pengaruh besar dalam membentuk perilaku anak. Dalam kelompok, dorongan untuk diakui sering kali membuat anak berani melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak berani dilakukan sendiri, termasuk bermain petasan secara berlebihan. Di sinilah pentingnya kehadiran orang tua dan masyarakat sebagai pengawas sekaligus pembimbing.

Pengawasan tidak harus dimaknai sebagai pembatasan yang kaku. Hal itu dapat hadir dalam bentuk komunikasi yang terbuka, pendampingan, serta pemberian pemahaman tentang risiko. Anak perlu merasa diawasi tanpa kehilangan ruang untuk berekspresi. Selain itu, lingkungan sosial juga memegang peran penting. Tokoh masyarakat, pengurus lingkungan, hingga komunitas lokal dapat berkontribusi dalam menciptakan suasana Ramadan yang aman, misalnya dengan menyediakan kegiatan alternatif yang lebih positif seperti lomba keagamaan atau kegiatan sosial.

Membangun Kesadaran Kolektif

Mengatasi kebiasaan bermain petasan tidak cukup hanya dengan larangan. Pendekatan yang lebih efektif adalah membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya keselamatan dan ketertiban. Anak-anak perlu diajak memahami bahwa kebebasan mereka memiliki batas, terutama ketika menyangkut keselamatan diri dan orang lain.

Orang tua memiliki peran utama dalam hal ini. Memberikan contoh, menetapkan aturan yang jelas, serta menjelaskan alasan di balik aturan tersebut adalah langkah awal yang penting. Anak yang memahami alasan cenderung lebih mudah menerima batasan. Di sisi lain, pemerintah dan aparat juga perlu hadir dengan regulasi dan pengawasan yang tegas. Penertiban penjualan petasan berbahaya serta sosialisasi kepada masyarakat menjadi langkah yang tidak kalah penting.

Namun, pada akhirnya keberhasilan upaya ini sangat bergantung pada partisipasi bersama. Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat nilai-nilai kepedulian dan tanggung jawab sosial; bukan hanya dalam konteks ibadah, melainkan juga dalam menjaga keamanan dan kenyamanan bersama.

Kebiasaan bermain petasan mungkin sulit dihilangkan sepenuhnya, tetapi dengan pengawasan yang tepat dan kesadaran yang tumbuh, risiko yang ditimbulkan dapat diminimalkan. Ramadan pun dapat dijalani dengan lebih aman tanpa kehilangan makna kebersamaan yang menjadi esensinya