Bulan Ramadan selalu hadir dengan nuansa yang khas. Selain ibadah yang meningkat, ruang-ruang sosial juga dipenuhi berbagai kebiasaan yang berulang setiap tahun. Salah satunya adalah permainan petasan yang marak dilakukan anak-anak dan remaja menjelang waktu berbuka hingga selepas tarawih.
Di satu sisi, fenomena ini dipandang sebagai bagian dari tradisi yang meramaikan suasana. Namun, di sisi lain, hal ini menyimpan potensi bahaya yang kerap diabaikan.
Permainan petasan bukan sekadar persoalan bunyi yang memekakkan telinga. Hal itu juga berkaitan dengan keselamatan, ketertiban umum, hingga pola pergaulan anak. Dalam konteks ini, peran orang dewasa menjadi krusial untuk memastikan bahwa euforia Ramadan tidak berubah menjadi risiko yang merugikan.
Antara Tradisi dan Risiko yang Mengintai
Tidak dapat dimungkiri, suara petasan telah lama menjadi bagian dari lanskap Ramadan di berbagai daerah. Bagi sebagian anak, menyalakan petasan menghadirkan sensasi kegembiraan yang sulit digantikan. Namun, di balik itu terdapat ancaman nyata yang tidak bisa dianggap sepele.
Kasus luka bakar, kebakaran, hingga gangguan ketertiban sering kali bermula dari aktivitas ini. Bahkan, petasan dengan daya ledak tinggi dapat membahayakan tidak hanya bagi pengguna, melainkan juga lingkungan sekitar. Ironisnya, anak-anak yang terlibat sering kali tidak sepenuhnya memahami risiko tersebut.
Lebih jauh lagi, kebiasaan bermain petasan kerap menjadi pintu masuk bagi pergaulan yang kurang terkontrol. Anak-anak berkumpul dalam kelompok tanpa pengawasan, mencoba berbagai jenis petasan, bahkan terkadang bereksperimen dengan bahan berbahaya. Di titik ini, persoalan tidak lagi sederhana karena telah menjadi bagian dari dinamika sosial yang membutuhkan perhatian serius.
Pergaulan Anak di Ruang Publik Ramadan
Ramadan memang memberi ruang lebih luas bagi anak-anak untuk beraktivitas di luar rumah, terutama pada malam hari. Selepas tarawih, jalanan dan gang-gang perkampungan menjadi arena interaksi sosial yang hidup. Namun, tanpa pengawasan yang memadai, ruang ini juga dapat menjadi tempat berkembangnya perilaku berisiko.
Pergaulan sebaya memiliki pengaruh besar dalam membentuk perilaku anak. Dalam kelompok, dorongan untuk diakui sering kali membuat anak berani melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak berani dilakukan sendiri, termasuk bermain petasan secara berlebihan. Di sinilah pentingnya kehadiran orang tua dan masyarakat sebagai pengawas sekaligus pembimbing.
Pengawasan tidak harus dimaknai sebagai pembatasan yang kaku. Hal itu dapat hadir dalam bentuk komunikasi yang terbuka, pendampingan, serta pemberian pemahaman tentang risiko. Anak perlu merasa diawasi tanpa kehilangan ruang untuk berekspresi. Selain itu, lingkungan sosial juga memegang peran penting. Tokoh masyarakat, pengurus lingkungan, hingga komunitas lokal dapat berkontribusi dalam menciptakan suasana Ramadan yang aman, misalnya dengan menyediakan kegiatan alternatif yang lebih positif seperti lomba keagamaan atau kegiatan sosial.
Membangun Kesadaran Kolektif
Mengatasi kebiasaan bermain petasan tidak cukup hanya dengan larangan. Pendekatan yang lebih efektif adalah membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya keselamatan dan ketertiban. Anak-anak perlu diajak memahami bahwa kebebasan mereka memiliki batas, terutama ketika menyangkut keselamatan diri dan orang lain.
Orang tua memiliki peran utama dalam hal ini. Memberikan contoh, menetapkan aturan yang jelas, serta menjelaskan alasan di balik aturan tersebut adalah langkah awal yang penting. Anak yang memahami alasan cenderung lebih mudah menerima batasan. Di sisi lain, pemerintah dan aparat juga perlu hadir dengan regulasi dan pengawasan yang tegas. Penertiban penjualan petasan berbahaya serta sosialisasi kepada masyarakat menjadi langkah yang tidak kalah penting.
Namun, pada akhirnya keberhasilan upaya ini sangat bergantung pada partisipasi bersama. Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat nilai-nilai kepedulian dan tanggung jawab sosial; bukan hanya dalam konteks ibadah, melainkan juga dalam menjaga keamanan dan kenyamanan bersama.
Kebiasaan bermain petasan mungkin sulit dihilangkan sepenuhnya, tetapi dengan pengawasan yang tepat dan kesadaran yang tumbuh, risiko yang ditimbulkan dapat diminimalkan. Ramadan pun dapat dijalani dengan lebih aman tanpa kehilangan makna kebersamaan yang menjadi esensinya
Baca Juga
-
Menahan Amarah Saat Main Game: Ujian Kesabaran Ramadan
-
Zakat Digital dan Filantropi Generasi Cashless
-
Ngabuburit di Ujung Jempol: Kala Menunggu Magrib Berpindah ke Ruang Digital
-
Ramadan dan Generasi Scroll: Mencari Hening di Tengah Notifikasi
-
Sisi Gelap Algoritma: Monetisasi Atensi dan Eksploitasi Emosi Publik
Artikel Terkait
-
Memilih Guna Lisan di Bulan Ramadan: Membaca Al-Qur'an atau Ghibah?
-
Lewat #TemanAdemRamadan, Aqua Kampanyekan Puasa Lebih Adem dan Sabar
-
Kurang Berapa Jam Lagi Buka Puasa Jogja Hari Ini 21 Februari 2026? Simak Cara Berbuka yang Sehat
-
Mulai Usia Berapa Umat Muslim Wajib Zakat Fitrah? Simak Aturan dan Syarat Lengkapnya
-
Ramadan dan Gaya Hidup Konsumtif: Mengapa Keuangan Jadi Kacau?
News
-
Ngabuburit dengan Balap Liar: Tradisi Semu yang Merenggut Nyawa
-
Konsep Ramadan Minimalis: Ibadah Maksimal dan Konsumsi Rasional
-
Ramadan Gen Z di Era Medsos: Antara Ibadah dan Pencitraan
-
Ramadan Gen Z di Era Medsos: Antara Ibadah dan Pencitraan
-
Menghadapi Tekanan Sosial di Balik Hangatnya Silaturahmi Lebaran
Terkini
-
4 Serum Korea Diperkaya Galactomyces Atasi Kulit Bertekstur dan Kusam
-
4 Padu Padan OOTD Long Sleeve ala Karina aespa, Bikin Gaya Anti Flat!
-
Kondisi Kesehatan Menurun, Manon KATSEYE Umumkan Hiatus Sementara Waktu
-
Memilih Guna Lisan di Bulan Ramadan: Membaca Al-Qur'an atau Ghibah?
-
Review Anime Sakamoto De Suga: Konflik Berbeda di Setiap Episodenya