Sekar Anindyah Lamase | Irhaz Braga
Ilustrasi media sosial (pixabay/Erik_Lucatero)
Irhaz Braga

Menjelang magrib di bulan Ramadhan, ruang publik Indonesia biasanya dipenuhi denyut yang khas. Jalanan ramai, taman kota hidup, jajanan takjil diburu, dan anak muda berkumpul sekadar berbagi cerita sembari menunggu azan. Tradisi itu kita kenal sebagai ngabuburit, sebuah ritual sosial yang tumbuh dari kebiasaan kolektif mengisi waktu jelang berbuka.

Namun beberapa tahun terakhir, lanskap itu berubah. Ngabuburit tak lagi selalu identik dengan trotoar dan lapangan terbuka. Ia beralih ke layar, ke ruang siaran langsung di berbagai platform media sosial.

Anak muda kini menunggu magrib dengan menonton live streaming, menjadi host siaran langsung, atau berinteraksi melalui kolom komentar yang bergerak cepat. Tradisi yang dulu berbasis pertemuan fisik kini menemukan bentuk barunya di ruang digital.

Peralihan ini bukan sekadar soal teknologi. Ia mencerminkan perubahan cara generasi muda membangun relasi, menegosiasikan identitas, dan merayakan kebersamaan.

Dari Taman Kota ke Timeline

Ngabuburit pada dasarnya adalah peristiwa sosial. Ia menjadi momen berbagi ruang dan waktu. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, atau Yogyakarta, ngabuburit menghadirkan pemandangan khas: komunitas sepeda, kelompok musik akustik, hingga bazar kuliner dadakan. Semua menyatu dalam atmosfer menunggu yang penuh harap.

Kini, sebagian dari dinamika itu bermigrasi ke dunia digital. Platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube menyediakan fitur siaran langsung yang memungkinkan interaksi real time.

Seseorang dapat memasak takjil sambil live, berbincang santai, mengaji bersama, atau sekadar berbagi cerita keseharian. Penonton memberi respons melalui komentar dan emoji, menciptakan ilusi kedekatan yang nyaris setara dengan tatap muka.

Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Laporan tahunan dari We Are Social menunjukkan bahwa pengguna internet Indonesia didominasi generasi muda dengan durasi akses media sosial yang tinggi setiap harinya. Dalam konteks itu, ngabuburit live streaming menjadi adaptasi wajar dari kebiasaan digital yang sudah mapan.

Ruang publik fisik memang tidak hilang. Namun ruang digital menawarkan fleksibilitas dan jangkauan yang lebih luas. Seorang mahasiswa di kosan sempit tetap bisa merasakan kebersamaan dengan ribuan orang secara serentak. Seorang pekerja yang terjebak macet dapat mengikuti kajian singkat melalui siaran langsung. Tradisi menunggu magrib menjadi lebih cair, lintas ruang dan batas geografis.

Mencari Keseimbangan Baru

Perubahan tidak bisa dihindari. Generasi yang tumbuh bersama gawai akan selalu menemukan cara baru merayakan tradisi. Alih-alih menolak, yang diperlukan adalah literasi digital dan kesadaran kolektif.

Ngabuburit di layar tidak harus menggantikan sepenuhnya pertemuan fisik. Ia bisa menjadi pelengkap. Seseorang dapat tetap hadir di masjid atau taman kota, lalu berbagi suasana itu melalui siaran langsung. Komunitas dapat menggelar acara offline sekaligus menjangkau mereka yang tidak bisa hadir secara langsung.

Yang lebih penting adalah menjaga esensi ngabuburit sebagai ruang refleksi dan kebersamaan. Menunggu magrib bukan sekadar menghabiskan waktu, tetapi juga momen mengendapkan diri setelah seharian berpuasa.

Jika live streaming justru membuat kita semakin gelisah, terpaku pada notifikasi dan jumlah penonton, maka ada yang perlu dievaluasi.

Sebaliknya, jika teknologi membantu memperluas empati, mempererat relasi, dan menyebarkan energi positif, maka ia patut dirangkul. Tradisi selalu bertransformasi mengikuti konteks sosial.

Dahulu, ngabuburit mungkin hanya dikenal di wilayah tertentu. Kini, berkat internet, ia menjadi fenomena nasional bahkan global yang bisa disaksikan siapa saja.

Pada akhirnya, layar hanyalah medium. Substansi tetap ditentukan oleh manusia di baliknya. Ramadhan mengajarkan pengendalian diri, termasuk dalam menggunakan teknologi.

Ngabuburit live streaming adalah cermin zaman, sekaligus ujian bagi kita untuk tetap menjaga ruh tradisi di tengah derasnya arus digital.

Mungkin, yang perlu kita lakukan bukan memilih antara taman kota atau timeline, melainkan memastikan bahwa di mana pun kita menunggu magrib, nilai kebersamaan dan refleksi tetap menjadi pusatnya.

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS