M. Reza Sulaiman | Zahrin Nur Azizah
Ilustrasi kenangan masa kecil (Unsplash/Robert Collins)
Zahrin Nur Azizah

Masih teringat jelas dalam ingatan saya, waktu kecil dulu saya sangat ingin membeli es krim yang memiliki tiga warna dalam satu wadah. Bentuknya cantik, warnanya menarik, dan terlihat begitu istimewa di mata anak kecil seperti saya saat itu.

Namun sayangnya, keinginan itu tidak terwujud. Ibu saya tidak membelikannya karena harganya dianggap cukup mahal. Sebagai gantinya, saya hanya dibelikan es krim yang jauh lebih murah. Kata Ibu, rasanya sama saja, toh sama-sama es krim. Saya yang saat itu masih duduk di bangku TK hanya mengangguk dan mengiyakan tanpa banyak protes.

Waktu terus berjalan. Saya tumbuh dewasa dan mulai memiliki penghasilan sendiri. Dari situlah saya mulai menyadari sesuatu: barang-barang kecil yang dulu terasa sulit untuk dimiliki, kini bisa saya beli tanpa harus meminta izin siapa pun.

Inner Child dan Hal-Hal Sederhana yang Dulu Diinginkan

Ilustrasi anak dan boneka kesayangannya (Pexels/Breno Cardoso)

Pengalaman sederhana tadi ternyata berkaitan dengan apa yang disebut sebagai inner child. Inner child adalah bagian dari diri kita yang menyimpan pengalaman, emosi, serta pola pikir yang terbentuk sejak masa kecil.

Menariknya, setiap orang pasti memiliki inner child dalam dirinya, meskipun bentuk dan pengalaman yang tersimpan bisa berbeda-beda. Tidak heran jika banyak orang dewasa justru tertarik membeli hal-hal yang mengingatkan mereka pada masa kecil. Berikut beberapa contoh sederhana yang mungkin juga pernah dirasakan banyak orang:

1. Jajanan atau Camilan “Mahal”

Dulu, jajanan tertentu hanya bisa dilihat melalui iklan di televisi sambil membayangkan bagaimana rasanya. Salah satunya adalah es krim yang dulu saya inginkan itu. Bentuknya unik, dengan tekstur menyerupai kue yang bergelombang dan berlapis. Krimnya lembut, ditata berlapis-lapis dengan lempengan cokelat tipis di sela-selanya yang memberikan sensasi kriuk di setiap gigitan.

Sempat menghilang dari pasaran, es krim tersebut kemudian muncul kembali. Bedanya, kini saya sudah memiliki uang sendiri dan akhirnya bisa membelinya. Dari situ saya jadi paham mengapa harganya berbeda. Bukan hanya soal rasa, tetapi juga pengalaman yang ditawarkan. Yang paling terasa bukan sekadar rasa manisnya, melainkan perasaan sederhana: “akhirnya bisa terbeli juga.”

2. Mainan atau Barang Hobi

Hal serupa juga terjadi pada mainan. Dulu saya hanya bisa melihat boneka di etalase toko. Rasanya ingin sekali memiliki, tetapi sering kali dianggap tidak terlalu penting. Sekarang, keinginan itu bisa terwujud. Saya bahkan bisa membeli boneka beruang berukuran sekitar 40 cm untuk diletakkan di kamar.

Tidak sedikit juga orang dewasa yang mulai mengoleksi barang seperti Lego atau mainan lainnya. Ada satu ironi yang terasa di sini, yaitu saat kecil kita punya banyak waktu tetapi tidak memiliki uang, sementara saat dewasa kita memiliki uang tetapi waktu justru menjadi terbatas.

3. Barang Estetik dan Printilan Lucu

Kalau berbicara soal barang estetik atau printilan lucu, rasanya tidak akan ada habisnya. Dulu, saya hanya bisa memandang dan berkata dalam hati, “Lucunya, jadi pengen punya.” Sekarang, responsnya berubah menjadi, “Lucu ya, masuk keranjang dulu deh,” meskipun belum tentu langsung dibeli saat itu juga.

Contohnya pun beragam, mulai dari lampu hias, dekorasi kamar, hingga tumbler kekinian. Secara fungsi, mungkin barang-barang tersebut bukan kebutuhan utama. Namun secara emosional, ada kepuasan tersendiri saat memilikinya, seperti sedang memenuhi keinginan kecil yang dulu tertunda.

Mengapa Inner Child Perlu Dirawat?

Ilustrasi seorang wanita dengan koleksi musik vintage (Pexels/Vika Glitter)

Merawat inner child dapat memberikan sensasi nostalgia sekaligus dorongan untuk kembali merasakan kebahagiaan sederhana yang pernah ada. Hal ini menjelaskan mengapa sebagian orang dewasa senang membeli kembali mainan atau barang dari masa kecilnya karena ada nilai emosional yang melekat.

Selain menghadirkan kenangan indah, hal ini juga bisa menjadi bentuk pelarian sejenak dari realitas. Tuntutan hidup dan tanggung jawab yang semakin bertambah sering kali menjadi sumber stres. Dengan kembali terhubung pada inner child, seseorang bisa merasa lebih tenang dan memiliki ruang untuk beristirahat. Melihat atau memegang barang yang memiliki nilai emosional dapat menghadirkan rasa nyaman, seolah-olah membawa kembali ke masa yang lebih sederhana.

Alasan lainnya adalah untuk memenuhi kebutuhan emosional yang mungkin dulu tidak terpenuhi. Beberapa orang mungkin merasa kurang mendapatkan perhatian atau dukungan saat kecil. Sebagai contoh, seseorang yang jarang mendapatkan pelukan bisa saja mengekspresikan kebutuhan tersebut saat dewasa dengan memeluk boneka setiap malam.

Membeli barang untuk membahagiakan inner child bisa menjadi salah satu cara sederhana dalam menjaga kesehatan mental. Ada rasa lega, hangat, dan puas yang tidak selalu bisa dijelaskan dengan logika. Meski begitu, penting untuk tetap menyadari batasan. Keinginan untuk membahagiakan diri sendiri tetap perlu diimbangi dengan pengelolaan keuangan yang bijak. Membeli boleh, selama masih sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan. Karena pada akhirnya, membahagiakan diri sendiri memang penting, tetapi melakukannya dengan bijak jauh lebih penting.