Krisis energi global akibat penutupan Selat Hormuz mendorong pemerintah mempercepat transisi energi, termasuk melalui rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga 100 gigawatt (GW). Namun, Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai implementasi program ini perlu dimulai dari langkah yang paling mendesak dan berdampak langsung.
Salah satu prioritas utama yang didorong adalah konversi pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) ke PLTS, khususnya di wilayah terpencil seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), Maluku, dan Papua.
CEO IESR Fabby Tumiwa mengatakan, langkah ini penting untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar diesel yang selama ini menjadi sumber energi utama di daerah-daerah tersebut.
“Menurut kami, untuk saat ini prioritasnya adalah konversi PLTD ke PLTS,” ujar Fabby.
Ia menjelaskan, penggunaan PLTD selama ini tidak hanya bergantung pada pasokan bahan bakar fosil, tetapi juga menimbulkan biaya logistik yang tinggi karena distribusi energi ke wilayah terpencil cukup kompleks.
Dengan beralih ke PLTS, kebutuhan energi dapat dipenuhi secara lebih efisien dan berkelanjutan. Selain itu, langkah ini juga dinilai lebih ramah lingkungan karena mampu menekan emisi gas rumah kaca.
Meski demikian, IESR mengingatkan bahwa keberhasilan program konversi ini tidak terlepas dari sejumlah faktor pendukung. Di antaranya adalah perbaikan skema kontrak jual beli listrik jangka panjang atau Power Purchase Agreement (PPA), reformasi di tubuh PLN, serta keterbukaan terhadap investasi swasta.
Di sisi lain, aspek regulasi juga dinilai masih menjadi tantangan. Hingga saat ini, pemerintah masih menyusun Peraturan Presiden terkait pembangunan PLTS 100 GW yang digarap oleh Dewan Energi Nasional (DEN) bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Tanpa kejelasan regulasi dan perencanaan yang matang, IESR menilai program transisi energi berpotensi berjalan lambat. Karena itu, pemerintah didorong segera menetapkan langkah konkret agar pengembangan energi bersih, khususnya di wilayah terpencil, dapat segera direalisasikan dan berdampak langsung bagi masyarakat.
Penulis: Natasha Suhendra
Baca Juga
-
Bukan Situs Ilegal! Ini Deretan Platform Resmi untuk Streaming Piala Dunia 2026
-
Lebih dari Ruang Curhat, Persulungan Hadir sebagai Wadah Belajar dan Bertumbuh bagi Anak Sulung
-
WFC Gak Se-Estetik di Medsos! Tantangan Pekerja Remote Menepis Stigma Negatif
-
25 Tahun Berdiri, Apa Rahasia Komunitas Indo Harry Potter Tetap Eksis di Era Gen Z?
-
Generasi Peduli Iklim, Komunitas yang Ubah Keresahan Jadi Aksi Nyata
Artikel Terkait
News
-
Dear Tante: Saat Sosok "Aunty" Hadir Menjadi Support System Hangat bagi Ibu Baru
-
KB Gantari dan Ruang Creative Jadi Ruang Anak Tumbuh Kreatif Lewat Bermain
-
Tiga Hal Saja, dan Itu Sudah Lebih Dari Cukup
-
Zuri Hotel Management Gelar Donor Darah Serentak di Berbagai Wilayah Indonesia
-
Meriah! IHR Piala Paku Alam 2026 Hadirkan Balapan Kuda hingga Konser Inul Daratista
Terkini
-
Kisah Romansa Antara Mei Li dan Lung di Film Bangkok Traffic (Love) Story
-
Emisi Tersembunyi di Dapur: Mengapa Sampah Makanan Lebih Berbahaya dari Karbon Dioksida?
-
Baru Mulai 6 Menit, Felix Nmecha Cetak Gol Kilat Jerman di Piala Dunia 2026
-
Qualcomm Snapdragon X2 Elite atau Nvidia RTX Spark, Mana Chip ARM Terbaik untuk Laptop?
-
Rayakan 10 Tahun Debut, NCT Dream Akan Gelar Fan Meeting Agustus Mendatang