M. Reza Sulaiman | Atalie June Artanti
Wisatawan berfoto di kawasan Istana Gyeongbokgung, Seoul, dengan latar bangunan tradisional Korea dan pegunungan di kejauhan, menggambarkan meningkatnya minat turis asing ke Negeri Ginseng. (Pexels/Minsu B)
Atalie June Artanti

Kabar baik bagi pencinta drama Korea, K-pop, dan wisata musim dingin. Korea Selatan resmi meluncurkan kebijakan baru yang membuka peluang bebas visa bagi wisatawan Indonesia. Namun, jangan buru-buru pesan tiket. Ada syarat yang harus dipenuhi.

Kebijakan ini bukan sekadar hadiah manis. Pemerintah Negeri Ginseng tengah membidik target ambisius: 30 juta wisatawan mancanegara. Angka itu jauh di atas capaian tahun 2025 yang menyentuh 18 juta kunjungan—naik 15 persen dari tahun sebelumnya, tetapi masih tertinggal dari Jepang yang sukses mencatat 43 juta turis berkat pelemahan yen.

Dalam Rapat Strategi Pariwisata Nasional ke-11 yang dipimpin Presiden Lee Jae Myung, pemerintah menegaskan bahwa sektor pariwisata kini menjadi industri strategis nasional. Momentum popularitas budaya Korea dianggap sebagai “waktu emas” untuk menarik dunia datang lebih dekat.

Bebas Visa, tetapi Minimal Bertiga

Fasilitas bebas visa untuk WNI diberlakukan dalam skema uji coba. Syarat utamanya: wisatawan Indonesia harus datang dalam grup, minimal tiga orang. Artinya, solo traveler belum bisa menikmati kemudahan ini.

Kebijakan ini dirancang untuk menekan risiko overstay sekaligus mendorong kunjungan berbasis paket wisata yang lebih terkontrol. Pemerintah Korsel tampaknya ingin bermain aman sambil tetap membuka pintu lebih lebar bagi pasar Asia Tenggara yang pertumbuhannya dinilai signifikan.

Selain bebas visa grup, Korsel juga memperluas skema visa multi-entry. Warga dari China dan negara Asia Tenggara yang pernah berkunjung sebelumnya bisa mendapatkan visa kunjungan berkali-kali selama lima tahun. Bahkan, untuk penduduk kota besar, tersedia opsi visa hingga sepuluh tahun.

Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa persaingan destinasi wisata Asia Timur semakin sengit.

Bandara Daerah, Auto-Gate, dan Rute Baru

Tidak hanya soal visa, strategi baru Korea Selatan juga menyasar kemudahan akses. Sistem pintu imigrasi otomatis (auto-gate) kini diperluas untuk seluruh warga Uni Eropa, bukan hanya 18 negara seperti sebelumnya.

Pemerintah juga berupaya mengurai penumpukan turis di Seoul dengan membuka lebih banyak rute internasional langsung ke bandara daerah. Insentif pengurangan biaya bandara diberikan demi mendorong maskapai membuka jalur baru.

Transportasi domestik turut dibenahi. Layanan bus bandara larut malam diperpanjang hingga wilayah Provinsi Chungcheong dan Gangwon. Sementara itu, pemesanan tiket kereta cepat KTX kini memiliki jendela pemesanan yang lebih panjang agar wisatawan bisa merencanakan perjalanan lebih fleksibel.

Semua diarahkan pada satu tujuan: membuat pengalaman masuk dan berkeliling Korea semakin praktis.

Meniru Spanyol, Mengubah Desa Menjadi Penginapan Premium

Dalam langkah yang cukup unik, Korea Selatan juga mengadopsi model “parador” ala Spanyol. Rumah tradisional, kuil, hingga desa adat akan dikembangkan menjadi akomodasi premium.

Konsep ini ingin menggeser pola wisata dari sekadar berburu landmark menjadi pengalaman hidup seperti warga lokal. Kampanye “Visit Korea Year” 2027–2029 pun digadang-gadang sebagai transformasi wajah pariwisata nasional. Wisata bukan lagi soal foto di depan istana atau menara, melainkan tinggal, merasakan, dan menyelami budaya.

Perang terhadap Getok Harga

Namun, ada satu persoalan klasik yang juga jadi sorotan: praktik getok harga.

Presiden Lee Jae Myung menegaskan kebijakan zero tolerance terhadap pelaku usaha yang menaikkan harga secara tidak wajar atau tidak mencantumkan tarif secara transparan. Hotel yang membatalkan pesanan sepihak tanpa alasan jelas akan dikenai sanksi. Perusahaan sewa mobil di Pulau Jeju pun dibatasi dalam menaikkan tarif saat musim puncak.

Langkah ini diambil setelah muncul keluhan wisatawan asing terkait lonjakan harga penginapan dan layanan selama periode ramai. Pemerintah ingin memastikan bahwa lonjakan kunjungan tidak justru merusak reputasi pariwisata mereka sendiri.

Ambisi Besar, Tantangan Nyata

Target 30 juta turis bukan angka kecil. Untuk mencapainya, Korea Selatan tidak hanya mengandalkan demam K-pop atau popularitas drama televisi. Infrastruktur, regulasi, dan kenyamanan wisatawan harus berjalan seiring.

Bagi Indonesia, kebijakan bebas visa grup ini jelas peluang menarik. Pasar wisata Korea memang terus tumbuh, terutama di kalangan generasi muda dan keluarga urban. Namun, pertanyaannya: apakah kebijakan minimal tiga orang akan cukup fleksibel bagi tren solo traveling yang sedang naik daun?

Di sisi lain, kebijakan ini bisa menjadi pemicu peningkatan kerja sama pariwisata kedua negara. Jika uji coba berjalan sukses, bukan tidak mungkin bebas visa individu akan menyusul di masa depan.

Satu hal yang pasti, Korea Selatan sedang membuka karpet merah—meski belum sepenuhnya tanpa syarat. Bagi WNI yang ingin menikmati musim semi di Busan, salju di Gangwon, atau berburu kuliner di Seoul, sekarang saatnya mulai mengajak dua teman. Karena ke Korea Selatan, untuk sementara, tidak bisa sendirian.