Badan Pusat Statistik (BPS) kembali merilis data terbaru soal pergerakan harga beras. Secara angka, ada kabar yang terdengar menenangkan: harga beras di tingkat penggilingan pada Februari 2026 turun tipis 0,33 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, jika ditarik lebih jauh dalam hitungan tahunan, harga justru masih naik 0,94 persen.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa penurunan bulanan terutama terjadi pada beras medium yang turun 0,14 persen. Meski begitu, secara tahunan beras medium tetap meningkat 4,64 persen. Sementara itu, beras premium justru naik 0,30 persen secara bulanan dan melonjak 9,46 persen dibanding Februari tahun lalu.
Artinya, meski ada koreksi kecil dalam sebulan terakhir, tren kenaikan harga beras belum benar-benar surut.
Di Penggilingan Turun, di Pasar Justru Naik
Yang menarik, penurunan di tingkat penggilingan tidak sepenuhnya dirasakan konsumen. Di tingkat grosir, harga beras justru mencatat inflasi 0,46 persen secara bulanan dan 4,98 persen secara tahunan. Di tingkat eceran, inflasi mencapai 0,43 persen (month to month) dan 3,61 persen (year on year).
Kondisi ini menunjukkan adanya tekanan harga yang tetap terasa hingga ke tangan pembeli akhir. Dengan kata lain, turunnya harga di hulu belum otomatis membuat harga di hilir ikut mereda.
Data BPS menegaskan bahwa angka-angka tersebut merupakan rata-rata nasional yang mencakup berbagai kualitas dan wilayah. Di beberapa daerah, seperti Jawa Barat, pantauan harga pangan menunjukkan beras masih bertahan di level tinggi, sementara komoditas lain seperti cabai merah justru cenderung turun.
Inflasi Pangan dan Momentum Ramadan
Tekanan harga ini terjadi menjelang Ramadan, periode yang hampir selalu diiringi kenaikan permintaan bahan pokok. Secara umum, inflasi Februari 2026 tercatat 0,68 persen, dengan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama.
Beras sebagai komoditas strategis tentu punya dampak psikologis besar. Sedikit saja bergerak naik, masyarakat langsung merasakan dampaknya. Apalagi beras bukan barang substitusi, ia adalah kebutuhan utama.
Produksi Diproyeksikan Turun
Di sisi produksi, BPS memproyeksikan hasil beras pada periode Februari–April 2026 mencapai sekitar 12,2 juta ton. Meski angka itu terbilang besar, produksinya disebut lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu.
Penurunan produksi ini bisa menjadi salah satu faktor yang menjaga harga tetap tinggi secara tahunan. Ketika suplai melambat sementara permintaan tetap kuat—terlebih menjelang hari besar keagamaan—tekanan harga sulit dihindari.
Kabar Baik untuk Petani
Di tengah kekhawatiran konsumen, ada kabar positif dari sisi petani. Nilai Tukar Petani (NTP) nasional Februari 2026 tercatat sebesar 125,45 atau naik 1,50 persen dibandingkan Januari.
Kenaikan ini terjadi karena indeks harga yang diterima petani naik 2,17 persen, lebih tinggi daripada indeks harga yang dibayar petani yang meningkat 0,65 persen. Komoditas seperti cabai rawit, kelapa sawit, karet, dan bawang merah menjadi penopang utama kenaikan tersebut.
Secara sederhana, NTP di atas 100 menunjukkan bahwa daya beli petani relatif lebih baik. Namun, pertanyaannya: apakah kesejahteraan petani yang membaik bisa berjalan seimbang dengan daya beli konsumen yang tertekan?
Antara Stabilitas dan Realitas Pasar
Situasi harga beras Februari 2026 memperlihatkan paradoks. Di satu sisi, ada penurunan tipis di tingkat penggilingan dan peningkatan kesejahteraan petani. Di sisi lain, harga di pasar grosir dan eceran masih menanjak, sementara produksi diproyeksikan menurun dibanding tahun lalu.
Bagi konsumen, terutama rumah tangga berpenghasilan rendah, angka-angka statistik mungkin terasa jauh. Yang lebih nyata adalah harga di rak toko atau pasar tradisional. Ketika beras premium mendekati atau menembus Rp14.600,00 per kilogram untuk kualitas bawah di beberapa wilayah, tekanan terhadap pengeluaran rumah tangga makin terasa.
Menjelang Ramadan, tantangan menjaga stabilitas harga pangan kembali diuji. Pemerintah perlu memastikan distribusi lancar, cadangan aman, dan gejolak harga terkendali. Sebab, beras bukan sekadar komoditas ekonomi—ia menyangkut stabilitas sosial.
Jika tren tahunan masih menunjukkan kenaikan, maka pekerjaan rumah menjaga keseimbangan antara kesejahteraan petani dan daya beli masyarakat belum benar-benar selesai.
Baca Juga
-
HYROX Makin Ramai di Indonesia, Apa yang Membuatnya Begitu Istimewa?
-
Bukan Cuma Bakar Kalori, Ini 5 Alasan Mengapa Bulu Tangkis Bikin Tubuh Lebih Bugar
-
Rumah Kosong di Banjarmasin Jadi Saksi Bisu: Mengapa 'Ngelem' Kembali Marak di Kalangan Remaja?
-
Bocah Jenius atau Terlatih? Mengenal Nala, Anak TK yang Fasih Bicara Soal Biomedis
-
Kenapa Salah Kita Terasa Masuk Akal, Tapi Salah Orang Sulit Dimaafkan?
Artikel Terkait
-
Bulog: Stok Beras Nasional 4,6 Juta Ton Tersebar Merata, Ketahanan Pangan Aman Hadapi El Nino
-
Harga Pangan Hari Ini: Cabai Turun Tajam, Bawang dan Beras Naik
-
Harga Gabah Tinggi, Pedagang Sulit Jual Beras Sesuai HET
-
Panen Raya dan Stok Bulog Melimpah, Kenapa Harga Beras Justru Naik?
-
HET Beras di Maluku-Papua Jebol Berbulan-bulan, Pengamat: Janji Pemerintah Gagal Ditepati
News
-
Urban Eco Journey: Cara Seru Trash Ranger Rayakan Ulang Tahun Sambil Menyelamatkan Bumi
-
FH UNY Berdayakan UMKM Desa Galuhtimur Lewat Legalitas Hukum & Inovasi Produk
-
Tim FIP UNY Bekali Guru PCM Tonjong Modul Ajar Berbasis Deep Learning
-
FH UNY Gelar PkM di MIM Tonjong, Kenalkan Pendekatan 'Deep Learning' untuk Guru Muhammadiyah
-
Viral! Toko Roti di Thailand Jual Croissant 'Berambut', Warganet Jijik Sekaligus Penasaran
Terkini
-
Di Balik Sorot Lampu Stadion: Jayden Adams dan Bukti Bahwa Pesepak Bola Juga Manusia Biasa
-
Wonderwall, Oasis, dan Mimpi Inggris Menjuarai Piala Dunia 2026
-
Cuaca Makin Terik! Lakukan 5 Langkah Ini Agar Kulit Tak Cepat Kusam dan Menua
-
Kereta Api Bukan Dapur Berjalan! Alasan Logis Mengapa Stopkontak KAI Haram untuk Rice Cooker
-
Stop Monetizing Your Hobby: Mengapa Hidup Tidak Selalu Tentang Produktivitas