Tidak semua orang sadar bahwa di dalam tubuhnya sendiri, ada sebuah perpustakaan yang terus bekerja tanpa henti.
Bukan perpustakaan dengan kartu anggota atau rak kayu berdebu. Tempat ini hidup. Denyutnya mengikuti detak jantung, lorongnya berpendar redup seperti napas yang naik turun. Di sanalah semua kebiasaan, keputusan, dan kelalaian manusia tersimpan rapi—atau justru perlahan membusuk.
Sheva baru mengetahuinya setelah tubuhnya menyerah lebih dulu.
Hari itu terasa seperti hari-hari lain: padat, terburu-buru, penuh target yang bahkan ia sendiri sudah lupa untuk apa. Sarapan dilewati, diganti kopi. Makan siang? Tertunda. Air putih? Nyaris tidak disentuh. Malamnya, ia kembali terjebak dalam layar dan deadline yang tidak pernah benar-benar selesai.
Sampai tiba-tiba semuanya gelap.
Saat membuka mata, Sheva tidak menemukan dirinya di rumah sakit. Ia berdiri di sebuah ruangan luas dengan rak-rak menjulang tinggi, dipenuhi buku dari berbagai ukuran. Udara hangat menyelimuti, tapi ada aroma samar yang membuat dadanya tidak nyaman. Seperti sesuatu yang perlahan rusak.
“Selamat datang.”
Suara itu lembut, tapi cukup untuk membuat Sheva menoleh cepat. Seorang perempuan tua berdiri di sana. Tatapannya tajam, namun tidak menghakimi.
“Ini di mana?” tanya Sheva, setengah tidak percaya.
“Di dalam tubuhmu,” jawabnya tenang. “Lebih tepatnya, di dalam semua yang pernah kamu lakukan terhadapnya.”
Sheva mencoba tertawa, tapi suaranya terdengar kaku. Ia melangkah mendekat ke salah satu rak. Sebuah buku dengan sampul pudar menarik perhatiannya.
“Hari-hari Kamu Melewatkan Sarapan.”
Ia membukanya dan seketika melihat dirinya sendiri. Terburu-buru, mengabaikan rasa lapar, mengganti kebutuhan energi tubuh hanya dengan kafein. Ia bahkan bisa merasakan kembali sensasi perih di lambung yang dulu sering ia abaikan. Dalam istilah medis, itu adalah tanda awal iritasi lambung. Gastritis ringan yang sering dianggap sepele.
Sheva menutup buku itu cepat, seolah terbakar.
“Kenapa ini… nyata?” suaranya bergetar.
“Karena tubuhmu tidak pernah menganggapnya sepele,” jawab perempuan itu.
Semakin dalam Sheva berjalan, semakin buruk kondisi perpustakaan itu. Rak-rak mulai retak. Beberapa buku berjatuhan, halaman-halamannya menguning seperti jaringan yang kehilangan oksigen.
Ia menemukan buku lain.
“Malam-malam Kamu Memilih Begadang.”
Kali ini ia tidak membuka, tapi tubuhnya seperti mengingat sendiri. Mata perih, kepala berat, jantung berdebar lebih cepat dari seharusnya. Kurang tidur kronis, yang dalam dunia medis dikenal sebagai sleep deprivation, perlahan mengganggu keseimbangan hormon dan sistem imun.
Di sudut lain, sebuah buku hampir hancur.
“Saat Kamu Mengabaikan Rasa Lelah.”
Sheva menggenggam buku itu pelan. Dadanya terasa sesak. Ia tahu persis isi di dalamnya: hari-hari saat tubuhnya sudah memberi sinyal, tapi ia memilih menekan tombol “lanjut” tanpa jeda.
“Kenapa semua ini terlihat seperti rusak?” bisiknya.
Perempuan tua itu tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Sheva, seolah memberi waktu untuk benar-benar melihat.
“Karena kamu tidak pernah benar-benar berhenti untuk merawatnya,” katanya akhirnya.
Di ujung lorong, Sheva menemukan sesuatu yang berbeda. Sebuah pintu kecil, hampir tak terlihat.
“Apa itu?” tanyanya.
“Itu bagian yang belum sempat kamu abaikan sepenuhnya,” jawab perempuan itu.
Sheva membuka pintu tersebut.
Cahaya hangat langsung menyambutnya. Rak-rak di dalamnya utuh, bersih, bahkan beberapa buku memancarkan kilau lembut. Udara terasa lebih ringan—seperti paru-paru yang akhirnya mendapat cukup oksigen.
Ia mengambil satu buku.
“Hari Kamu Memilih Istirahat.”
Ia melihat dirinya sendiri tertidur lebih awal, bangun dengan tubuh yang lebih segar. Proses sederhana, tapi penting: tubuh melakukan regenerasi sel saat tidur, memperbaiki jaringan yang rusak.
Buku lain.
“Saat Kamu Minum Air yang Cukup.”
Sheva tersenyum kecil. Ia lupa betapa sederhana menjaga hidrasi bisa membantu metabolisme tetap seimbang, menjaga fungsi ginjal, bahkan memengaruhi fokus.
Dan satu lagi.
“Waktu Kamu Mendengarkan Tubuhmu.”
Tangannya berhenti di sana.
Untuk pertama kalinya, ia merasa harapan.
“Masih bisa diperbaiki?” tanyanya lirih.
Perempuan tua itu mengangguk. “Selama kamu masih mau mendengar.”
Namun sebelum Sheva sempat berkata apa-apa, suara retakan terdengar dari lorong belakang.
Ia menoleh.
Rak-rak yang tadi ia lewati mulai runtuh. Buku-buku jatuh satu per satu, seperti domino yang tidak bisa dihentikan. Halaman-halaman beterbangan, seolah berusaha menyelamatkan diri, tapi terlambat.
Itu bukan sekadar gambaran.
Itu adalah proses yang nyata ketika tubuh yang terus diabaikan mulai kehilangan kemampuannya untuk bertahan. Dalam dunia medis, ini bisa berarti penurunan fungsi organ secara perlahan, dari kelelahan kronis hingga gangguan metabolik.
Sheva menelan ludah. Kali ini, ia benar-benar takut.
Ia tidak butuh penjelasan lebih jauh.
Ketika ia membuka mata lagi, cahaya putih menyambutnya.
Langit-langit rumah sakit.
Bunyi monitor berdetak pelan di sampingnya. Tangannya terasa berat, tapi ia sadar sepenuhnya. Tubuhnya belum sepenuhnya pulih, tapi ia masih punya kesempatan.
Di meja kecil, ada sebotol air.
Sheva menatapnya beberapa detik. Dulu, hal sekecil ini selalu ia tunda.
Kali ini, ia meraihnya tanpa ragu.
Hari-hari setelah itu tidak berubah secara dramatis. Tidak ada transformasi instan. Sheva masih sibuk, masih menghadapi tekanan yang sama.
Tapi ada sesuatu yang berbeda.
Ia mulai sarapan, walau sederhana. Mulai tidur lebih teratur, walau belum sempurna. Mulai berhenti sejenak saat tubuhnya terasa lelah, bukan menunggu sampai benar-benar tumbang.
Ia mulai belajar satu hal yang selama ini ia abaikan: mendengarkan.
Bukan saat tubuhnya berteriak kesakitan, tapi saat ia masih berbisik pelan.
Karena sekarang, Sheva tahu satu hal yang tidak pernah diajarkan di sekolah atau tempat kerja.
Di dalam dirinya, ada sebuah perpustakaan yang terus menulis.
Dan setiap pilihan kecil yang ia buat, akan menentukan apakah halaman-halamannya akan tetap utuh… atau perlahan membusuk.
Baca Juga
-
Kepribadian Si Langkah Cepat : Apa yang Terbaca dari Cara Kamu Berjalan?
-
Rumah Rasa Terapi: Tips Pilih Warna Cat Dinding Biar Mental Tetap Aman
-
Nasib Pejuang Pelayanan Publik: Tanpa Privilege WFH, Tetap Siaga Demi Warga
-
Kabar Duka Dokter Muda Tewas Akibat Campak: Bukan Sekadar Penyakit Anak-Anak!
-
Misi Menyelamatkan Kewarasan dengan Weekly Life Review
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Sinopsis Gold Land, Park Bo Young Terlibat Kasus Emas dan Pengkhianatan
-
Realitas Pahit di Balik Gaji UMR: Saat Hidup Hemat Menjadi Cara Bertahan
-
5 Padu Padan Outfit ala Gong Myung untuk Tampilan Day Out yang Lebih Fresh
-
Nggak Mau Overthinking, Tapi Kepikiran: Masalah Klasik Saya saat Otak Sibuk
-
Review Lovely Runner: Ketika Cinta Memaksa Seseorang Melawan Takdir