Pendidikan kerap disebut sebagai tulang punggung bangsa karena menentukan kualitas sumber daya manusia, masa depan ekonomi, hingga peluang keluar dari kemiskinan. Namun di Indonesia, akses sekolah yang belum merata dan persoalan biaya masih menjadi tantangan yang dirasakan banyak keluarga.
Karena itulah, program sekolah gratis sering memunculkan pertanyaan di masyarakat. Tidak sedikit yang penasaran apakah benar tanpa pungutan, atau justru masih ada biaya lain di baliknya.
Di tengah perdebatan tersebut, Sekolah Rakyat hadir sebagai salah satu program pemerintah yang menyasar siswa dari keluarga kurang mampu. Program ini digagas pada masa Presiden Prabowo Subianto dan dijalankan melalui Kementerian Sosial sebagai upaya memperluas akses pendidikan sekaligus memutus rantai kemiskinan.
Sekolah Rakyat dirancang bukan sekadar memberi akses belajar tanpa biaya. Konsepnya juga mencakup fasilitas penunjang seperti asrama, perlengkapan sekolah, kebutuhan harian, hingga sarana belajar agar siswa bisa fokus menempuh pendidikan.
Atas dasar itu, pertanyaan mengenai ada atau tidaknya biaya tersembunyi menjadi hal yang wajar muncul di publik. Untuk menjawab rasa penasaran tersebut, para siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas 19 Bantul membagikan pengalaman langsung mereka selama menjalani pendidikan di sana.
Agil Haryo Yudho memaknai pendidikan gratis sebagai kesempatan belajar tanpa dibayangi beban ekonomi. Menurutnya, siswa bisa menuntut ilmu tanpa memikirkan biaya apa pun.
"Menurut saya pendidikan gratis adalah pendidikan di mana kita bisa belajar tanpa memikirkan biaya apapun atau menjadi tanggungan dalam pikiran kita," ujar Agil.
Hal serupa disampaikan Tulus Cahyo Sejati. Ia menilai sekolah gratis berarti siswa dapat mencari ilmu tanpa harus mengeluarkan uang sedikit pun.
"Untuk pendidikan gratis sendiri menurut saya yaitu di mana kita belajar mencari ilmu tanpa memikirkan biaya sepeser pun," kata Tulus.
Sementara itu, Namine Isyakta Amanu menegaskan pendidikan gratis seharusnya mencakup seluruh kebutuhan belajar. Menurutnya, jika masih ada pungutan, maka konsep gratis belum sepenuhnya terpenuhi.
"Pendidikan gratis menurut saya itu biaya pendidikannya nol. Jadi tidak dipungut biaya sepersen pun dari pendidikan, fasilitas, atau sarana-prasarana," ujar Namine.
Pendapat serupa datang dari Dwi Hidayat. Ia mengatakan bila sebuah program disebut fully funded, maka seluruh kebutuhan seharusnya ditanggung tanpa biaya tambahan lain.
"Harusnya kalau fully funded itu benar-benar 100 persen dibiayai. Jadi tidak ada hidden cost ataupun pembiayaan lainnya," ucap Dwi.
Tak hanya soal biaya, siswa juga menyoroti fasilitas yang diterima. Ayu Lestari menyebut sekolah menyediakan laptop untuk menunjang pembelajaran.
Ia juga mengatakan siswa memiliki jadwal kunjungan orang tua setiap Minggu pukul 13.00 hingga 17.00 WIB. Selain itu, penggunaan ponsel diatur sesuai ketentuan sekolah.
Ayu mengaku mengetahui Sekolah Rakyat dari sosialisasi saat masih duduk di bangku SMP. Ia juga menyebut setelah menyelesaikan pendidikan, siswa yang berprestasi memiliki peluang mendapat dukungan biaya untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.
Kesempatan tersebut menjadi harapan tambahan bagi siswa yang ingin mengejar pendidikan lebih tinggi. Dengan begitu, manfaat program dinilai tidak berhenti di jenjang sekolah menengah saja.
Beragam fasilitas tersebut rupanya memberi pengaruh langsung terhadap semangat belajar para siswa. Mereka merasa bisa lebih fokus mengejar pendidikan karena tidak lagi dibayangi persoalan biaya.
Fransiskus Aurellio Deva Arshuda mengaku lebih termotivasi setelah bersekolah di sana. Menurutnya, ketiadaan beban biaya membuat siswa dapat memusatkan perhatian pada proses belajar.
"Termotivasi mas, soalnya kita sudah tidak terbebankan oleh biaya sekolah. Jadi tinggal belajar, belajar, belajar terus," kata Fransiskus.
Dwi Hidayat juga merasakan hal serupa. Menurutnya, fasilitas yang memadai membuat siswa terdorong untuk serius belajar dan tidak sekadar hadir demi absen.
"Saya kalau sekolah di sini justru semakin memiliki motivasi yang semakin tinggi. Karena fasilitas yang sangat memadai, masa aku sekolahnya ecek-ecek aja, asal masuk, asal absen kan enggak," ujar Dwi.
Cerita para siswa itu menunjukkan bahwa pendidikan gratis bukan hanya soal nol rupiah. Bagi mereka, Sekolah Rakyat menjadi kesempatan baru untuk tumbuh dan menatap masa depan dengan lebih percaya diri.
Baca Juga
-
Fakta Menarik Trofi Emas Piala Dunia: Pernah Dicuri, Bukan Milik Sang Juara
-
Timberland Boots: Berawal Dari Sepatu Tukang Jadi Ikon Rapper Dunia Hip Hop
-
JisuLife Ultra 2: Kipas Portable Premium dengan Berbagai Fungsi Menarik!
-
ROG Zephyrus Duo, Laptop Dua Layar dengan RTX 5090 Seharga Mobil Bekas!
-
Bawa Argentina Menang 3-0, Messi Cetak Hattrick Pertama di Piala Dunia 2026
Artikel Terkait
-
Ketika Pendidikan Menjadi Hak: Menagih Janji Konstitusi atas Sekolah Gratis
-
Ketika Buku dan Pena Jadi Kemewahan: Retaknya Janji Pendidikan untuk Semua
-
Pendidikan Gratis dalam Retorika, Mahal dalam Realita
-
Belajar Selamatkan Bumi Sejak Sekolah: Pentingnya Pendidikan Iklim untuk Generasi Muda
-
Belajar di Kelas Rusak, Puluhan Siswa SD di Tasikmalaya Bertahan dalam Keterbatasan
News
-
Melalui Piano dan Gamelan, Iqbal Sidiq Perkenalkan Kekayaan Musik Nusantara di Istanbul
-
Gaji Stagnan Harga Barang Naik, Masihkah Orek Tempe Worth It Jadi Penyelamat?
-
Bukan Soal Anti Asing, Ini Alasan Standar Halal Indonesia Bikin Negara Maju Ketar-ketir!
-
Tembus Grand Final, 5 Tim Futsal Putri Maju ke Puncak AXIS Nation Cup 2026
-
Dari Aspal Kampung Ke Panggung Asia: 3 Bintang Muda Futsal AXIS 2026
Terkini
-
Tak Hanya Menyembuhkan, 5 Dokter ini juga Bagikan Inspirasi Lewat Tulisan
-
Cheongdam International High School Tayang 2027, Ini Daftar Pemain Utamanya
-
Review Film The Doll Ghawiah: Misteri Boneka Berdarah Paling Menakutkan!
-
Sinopsis Gajab Raat, Film Kriminal Manoj Bajpayee di Netflix
-
Review Buku The Hate U Give: Suara Saksi Seseorang yang Tak Mau Diam