Sejarah sering ditulis oleh penguasa, tetapi penderitaan justru hidup dalam ingatan mereka yang tersingkir. Buku Cerita dari Digul menjadi salah satu jendela penting untuk melihat sisi lain sejarah Indonesia.
Bukan dari podium kekuasaan, melainkan dari tanah pengasingan yang sunyi dan keras: Boven Digul, Papua.
Kumpulan ini bukan karya tunggal, melainkan himpunan lima cerita dari para eks-tahanan politik yang pernah dibuang ke Digul pada masa kolonial Belanda, terutama setelah pemberontakan 1926.
Peran Pramoedya di sini sebagai penyunting sangat krusial, ia menghadirkan kembali suara-suara yang nyaris hilang ditelan waktu.
Digul sendiri bukan sekadar lokasi geografis. Ia adalah simbol pemutusan: dari keluarga, dari tanah kelahiran, dari kehidupan normal. Para tahanan dikirim ke wilayah terpencil yang penuh rawa, hutan lebat, dan ancaman penyakit seperti malaria.
Tujuannya jelas bukan hanya menghukum, tetapi juga mengisolasi dan mematahkan semangat perlawanan.
Isi Buku
Melalui lima kisah yang disajikan, pembaca diajak menyelami realitas hidup yang keras dan sering kali tak manusiawi. Dalam “Rustam Digulist” karya D.E. Manu Turoe, misalnya, kita melihat bagaimana seorang buruh yang berani melawan ketidakadilan harus membayar mahal dengan pengasingan.
Namun bahkan setelah kembali, stigma sebagai eks-tahanan membuat hidupnya tetap terpenjara secara sosial. Cinta yang ia perjuangkan pun kandas oleh tekanan norma dan ketakutan keluarga.
Sementara itu, “Darah dan Air Mata di Boven Digul” karya Oen Bo Tik memperlihatkan sisi lain: ironi cinta yang bertahan di tengah keterasingan. Ada absurditas di sana, seseorang yang sengaja mencari jalan ke Digul demi bertemu kekasihnya. Namun pada akhirnya, pengasingan tetap menjadi ruang yang merusak, menciptakan tragedi yang tak terhindarkan.
Kisah yang paling menggugah secara emosional mungkin adalah “Pandu Anak Buangan” karya Abdoe’l Xarim M.s. Di sini, Digul tidak hanya menjadi tempat penderitaan fisik, tetapi juga kehancuran batin.
Pandu, seorang aktivis yang idealis, kehilangan segalanya: pekerjaan, keluarga, bahkan cinta. Dalam pelariannya, ia sempat menemukan kehidupan baru bersama perempuan dari suku lokal. Namun rasa malu dan keterasingan membuatnya menolak realitas itu.
Sebuah keputusan yang berujung pada penyesalan mendalam. Kisah ini menunjukkan bahwa penjajahan tidak hanya merampas kebebasan, tetapi juga merusak identitas dan kemanusiaan seseorang.
Dua cerita lainnya, yang berfokus pada pelarian dari Digul, menghadirkan ketegangan yang nyaris seperti kisah petualangan namun tanpa romantisasi. Hutan Digul digambarkan sebagai ruang yang mematikan: penuh buaya, penyakit, kelaparan, dan ketidakpastian arah.
Para pelarian bukan hanya melawan alam, tetapi juga rasa putus asa. Banyak yang gugur di perjalanan, sebagian tertangkap kembali, dan hanya sedikit yang benar-benar berhasil “bebas”.
Menariknya, buku ini juga membuka perspektif tentang interaksi dengan masyarakat lokal yang disebut “Orang Kayakaya”. Relasi ini tidak selalu harmonis, tetapi juga tidak sepenuhnya bermusuhan.
Ada momen saling curiga, ada pula bantuan dan solidaritas. Ini memperlihatkan kompleksitas hubungan antara “orang buangan” dan penduduk asli yang sama-sama hidup di pinggiran kekuasaan kolonial.
Kelebihan dan Kekurangan
Salah satu tantangan membaca buku ini adalah bahasa. Gaya Melayu lama yang digunakan tiap penulis berbeda-beda, mencerminkan latar belakang dan zamannya. Namun justru di situlah nilai historisnya.
Bahasa menjadi artefak, membawa pembaca lebih dekat ke konteks era 1920–1930-an. Sentuhan editorial Pramoedya membantu menjaga keterbacaan tanpa menghilangkan keaslian.
Lebih dari sekadar kumpulan cerita, Cerita dari Digul adalah dokumen kemanusiaan. Ia menunjukkan bahwa di balik narasi besar perjuangan kemerdekaan, ada individu-individu yang hidup dalam penderitaan panjang dan sering terlupakan. Mereka bukan hanya korban, tetapi juga saksi yang melalui tulisan, berusaha memastikan bahwa pengalaman mereka tidak hilang begitu saja.
Membaca buku ini hari ini terasa relevan. Ia mengingatkan bahwa kekuasaan, jika tidak diawasi, selalu punya kecenderungan untuk membungkam dan mengasingkan.
Dan bahwa suara-suara kecil, betapapun lirihnya, tetap memiliki kekuatan untuk bertahan asal ada yang mau mendengarkan.
Identitas Buku
- Judul: Cerita dari Digul
- Penyunting: Pramoedya Ananta Toer
- Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
- Tahun Terbit: November 2015
- Tebal: 319 halaman
- ISBN: 978-979-9109-52-1
- Kategori: Kumpulan Cerita, Sejarah
Baca Juga
-
Di Ujung Tahta Pajajaran: Tragedi dan Intrik Politik di Akhir Kekuasaan
-
Menyusuri Masjid Quba Madinah: Masjid Pertama dalam Islam!
-
Sawit Melimpah, Minyak Mahal: Ada Apa dengan Logika Kita?
-
Menggantungkan Mimpi 5 cm: Mengokohkan Tekad Setinggi Mahameru
-
Batas Tipis Antara Kedekatan dan Pelampiasan: Kapan Orang Tua Harus Berhenti Curhat pada Anak?
Artikel Terkait
Ulasan
-
Di Ujung Tahta Pajajaran: Tragedi dan Intrik Politik di Akhir Kekuasaan
-
Ulasan Novel Strange Buildings, Menguak Dosa di Balik Dinding-dinding Rumah
-
Log In: Mengetuk Pintu Toleransi Tanpa Harus Salah Paham
-
Novel "Angin dari Tebing 2", Ketika Cerita Anak Menjadi Cermin Kehidupan
-
Menyusuri Masjid Quba Madinah: Masjid Pertama dalam Islam!
Terkini
-
Yeji ITZY Alami Hernia Diskus, Partisipasi di Konser TUNNEL VISION Dibatasi
-
Klub Main Bareng: Tempat Nongkrong Anti-Kaku bagi Para Pencinta Kreativitas di Bangka
-
The Quintessential Quintuplets Umumkan Dua Proyek Anime Baru, Ini Detailnya
-
Gandeng Khalid, Ahn Hyo Seop Siap Rilis Single Something Special
-
Kesabaran Mulai Habis, Fabio Quartararo Tak Temukan Titik Terang di Yamaha