Di tengah rutinitas yang padat, membaca sering kali kalah oleh distraksi, mulai dari gawai hingga godaan beristirahat di kamar. Tak sedikit orang memiliki daftar buku yang tak kunjung selesai dibaca, bahkan setelah dibeli.
Namun, sebuah tren baru di Jakarta menawarkan cara berbeda untuk mengatasi persoalan ini: membaca bersama, dalam diam.
Minggu (26/4/2026), di tengah hiruk-pikuk Taman Menteng, puluhan orang tampak duduk berjajar di atas rumput, masing-masing larut dalam buku yang mereka bawa.
Tidak ada percakapan, tidak ada diskusi. Hanya suara halaman yang dibalik dan suasana kota yang mengalir di sekitarnya.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Baca Bareng Silent Book Club (SBC) Jakarta, sebuah komunitas yang mengajak masyarakat membaca bersama tanpa tekanan sosial. Inisiatornya, Hestia Istiviani, melihat ruang terbuka hijau sebagai alternatif tempat membaca yang lebih inklusif.
Menurutnya, taman kota tidak hanya berfungsi sebagai ruang rekreasi, tetapi juga bisa menjadi ruang literasi yang santai dan mudah diakses. Pendekatan ini justru menarik minat banyak orang yang selama ini kesulitan menjaga fokus saat membaca sendirian di rumah.
Iva, salah satu peserta yang mengetahui kegiatan ini melalui media sosial, mengaku merasakan perbedaan signifikan. “Kalau di rumah, bawaannya mengantuk. Fokusnya sering hilang,” ujarnya. Di ruang terbuka, ia justru merasakan dorongan untuk tetap membaca.
Ia menyebut adanya “tekanan positif” dari lingkungan sekitar. Melihat orang lain yang sama-sama tenggelam dalam buku menciptakan atmosfer yang mendorongnya untuk ikut produktif, tanpa merasa dipaksa.
Pengalaman serupa dirasakan Rina, seorang perantau yang ikut dalam kegiatan tersebut. Baginya, suasana taman memberikan jeda yang menyegarkan. “Kalau mulai hilang fokus, saya bisa lihat pepohonan dulu, lalu balik lagi ke buku,” katanya.
Menariknya, komunitas ini tidak memiliki aturan yang mengikat. Peserta bebas membawa jenis bacaan apa pun dan tidak diwajibkan untuk berdiskusi. Tidak ada sesi ulasan atau forum formal—hanya membaca, bersama.
“Senang rasanya bisa ikut komunitas yang tidak banyak aturan,” ujar Rina. Ia menilai kebebasan tersebut justru membuat kegiatan membaca terasa lebih ringan dan menyenangkan.
Di tengah budaya serba cepat dan penuh distraksi, Baca Bareng SBC Jakarta menawarkan alternatif sederhana: menghadirkan kembali fokus, dengan bantuan kehadiran orang lain. Bukan untuk berinteraksi, tetapi untuk saling menguatkan dalam diam.
Baca Juga
-
Fenomena 'Digital to Reality': Mengapa Interaksi Online Jadi Kunci Konser Artis Mancanegara?
-
Polusi Udara Level 'Aman' Tetap Berisiko Bagi Kesehatan, Apa Dampaknya?
-
Bukan Cuma Hobi, Fanatisme Anime Kini Jadi Sektor Bisnis Kreatif Indonesia!
-
Syukuran Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati Cetakan ke-100: Ada Extra Chapter dan Bocoran Film!
-
Di Balik Viral Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, Ada Psikiater yang Ikut Mengawal Cerita
Artikel Terkait
News
-
6 Poin Kritis dr. Tirta di Tengah Carut-Marut Kebijakan: Dari Pertamax hingga Makan Bergizi Gratis
-
ARTJOG 2026 Angkat Tema Regenerasi, Hadirkan Ruang Bertemunya Beragam Generasi dalam Dunia Seni
-
Dunia di Ambang Batas: Mungkinkah Kita Hidup Berkelanjutan dengan 12 Miliar Orang?
-
Awas! Ancaman Baru Credential Stuffing: Saat Bot AI Menyamar Menjadi Manusia
-
Resmi Naik! Harga Pertamax Tembus Rp16.250 per Liter Mulai 10 Juni 2026
Terkini
-
Tak Harus Daur Ulang, Merawat Barang Juga Bentuk Gaya Hidup Less Waste
-
Efek Domino Kenaikan BBM: Saat Stabilitas Negara Dibayar oleh Dapur Rumah Tangga
-
Piala Dunia 2026 dan Tantangan Menjaga Tempat Nobar agar Tetap Bersih
-
Kematian Ruang Diskursus: Mengembalikan Roh Penny University di Tengah Bisingnya Kafe Estetik
-
Sekilas Mirip Vario, Brusky 125 Jadi Skutik Pertama Kawasaki di Indonesia