Bimo Aria Fundrika | Vicka Rumanti
Ilustrasi ruang hijau di jalanan (Freepik/freepik)
Vicka Rumanti

Perluasan ruang hijau di jalan kerap dipandang sebagai salah satu solusi untuk menekan suhu panas di perkotaan. Namun, studi terbaru yang dipimpin International Institute for Applied Systems Analysis (IIASA) menunjukkan bahwa upaya penghijauan yang ambisius sekalipun hanya mampu meredam sebagian kecil dari kenaikan suhu yang dipicu perubahan iklim.

Mengutip dari Phys.org, penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Research Letters ini menyarankan agar penghijauan jalan harus diposisikan sebagai salah satu bagian dari portofolio langkah adaptasi perkotaan yang lebih luas, bukan sebagai solusi tunggal.

Tim peneliti dari IIASA dan VITO Belgia menggunakan data beresolusi tinggi yang digabungkan dengan data ruang hijau jalanan dan model iklim mikro perkotaan 100 meter. Studi ini mencakup 133 kota di seluruh dunia untuk memberikan penilaian skala lingkungan secara global.

Berbeda dengan penelitian yang hanya mengandalkan suhu permukaan satelit, tim ini mengukur hubungan antara ruang hijau dengan suhu udara dan suhu bola basah. Ukuran suhu bola basah dianggap lebih akurat dalam menangkap tekanan panas daripada suhu saja karena turut memperhitungkan faktor kelembapan, angin, dan radiasi.

Efektivitas Pendinginan Berdasarkan Kondisi Lokal

Hasil penelitian mengungkapkan bahwa pendinginan dari jalanan hijau manfaatnya tidak tersebar secara merata. Efek pendinginan ditemukan lebih kuat pada wilayah dengan iklim tropis dan kontinental, sementara dampaknya cenderung lebih lemah di wilayah beriklim kering dan sedang.

Potensi pendinginan juga mendapat pengaruh dari bentuk perkotaannya. Di lingkungan terbuka dan bertingkat rendah, serta memiliki area yang luas, manfaatnya dapat dirasakan secara konsisten karena penghijauan memiliki lebih banyak ruang untuk berinteraksi dengan iklim mikro lokal.

Salah satu penulis utama sekaligus mantan peneliti tamu di IIASA, dan Promovendus di Institute for Environmental Studies, VU University Amsterdam, Steffen Lohrey menjelaskan bahwa meskipun jalanan hijau memberikan perbedaan yang terukur, tingkat keberhasilannya sangat bergantung pada lokasi geografis dan struktur bangunan di sekitarnya.

Proyeksi Tahun 2050 dan Batasan Adaptasi

Para peneliti mensimulasikan dampak penghijauan ketika nantinya diterapkan di tahun 2050 melalui berbagai skenario iklim dan penghijauan perkotaan. Ditemukan bahwa pada skenario kebijakan saat ini, perluasan ruang hijau yang ambisius tapi masih realistis diperkirakan hanya mampu mengimbangi sekitar 3% hingga 11% dari kenaikan suhu bola basah maksimum. Di sisi lain, pada skenario emisi tinggi, efek pendinginan menjadi lebih kecil, yakni hanya mengurangi peningkatan suhu sekitar 2% hingga 7% tergantung pada kondisi lokal.

Penelitian ini juga memperingatkan jika penghijauan jalan menurun, disebabkan oleh kurangnya tindakan atau tertekannya tanaman oleh kondisi cuaca ekstrem, maka panas perkotaan dapat menjadi lebih parah.

Integrasi Kebijakan dan Pemerataan

Climate Scientist at VITO dan salah satu penulis, Niels Souverijns, menekankan bahwa investasi pada penghijauan jalanan tidak boleh menggantikan upaya pengurangan emisi gas rumah kaca secara langsung. Sebagai langkah adaptasi, penghijauan perlu digabungkan dengan meningkatkan kualitas bahan bangunan dan desain perkotaan.

"Dari sisi adaptasi, penghijauan perlu diintegrasikan dengan langkah-langkah lain, seperti peningkatan kualitas bahan bangunan dan desain perkotaan yang lebih baik," catat Niels Souverijns.

Selain itu, studi ini juga menyoroti pentingnya menjaga vegetasi yang sudah ada. Penurunan kualitas atau jumlah ruang hijau akibat cuaca ekstrem dapat memperparah kondisi panas di perkotaan. Peneliti juga mengingatkan agar penempatan ruang hijau dilakukan secara strategis guna mencegah ketimpangan paparan panas di antara penduduk kota.

Salah satu penulis utama dan peneliti dari IIASA Energy, Climate and Environment Program, Giacomo Falchetta menyimpulkan bahwa meskipun jalanan hijau memainkan peran penting, melindungi populasi di dunia yang semakin panas memerlukan respons yang komprehensif dan spesifik sesuai konteks masing-masing kota.