“Bukan rencana, tapi aksi nyata.” Begitulah cara River Ranger Jakarta bekerja.
Bagi kebanyakan organisasi, menjalankan program sosial sering kali datang dengan setumpuk rencana kerja, target angka, dan kurikulum yang kaku.
Namun, bagi River Ranger Jakarta, rencana terbaik sering kali adalah tidak memiliki rencana sama sekali.
Komunitas ini memilih untuk "tersesat" di pedalaman Indonesia, mendengarkan keresahan warga, lalu meramu solusi yang benar-benar mereka butuhkan.
Koordinator Kurikulum River Ranger Jakarta, Andriana atau yang kerap disapa Nana, menceritakan bahwa jiwa komunitas ini sangat lekat dengan hobi sang inisiator, Syahiq Harpi. Ia gemar bertualang ke tempat baru, terutama di kawasan Indonesia Timur.
"River Ranger Jakarta itu seneng banget tiba-tiba tersesat ke mana, tinggal di sana, terus observasi, dan tiba-tiba bikin kegiatan di sana gitu. Jadi tanpa plan," ungkap Nana.
Mencari Solusi Bagi Petani Trans Patoa
Gaya kerja yang organik ini membuat River Ranger sangat fleksibel. Mereka tidak memperlakukan semua tempat dengan sama, melainkan menyesuaikan. Di Trans Patoa, Sulawesi Utara, misalnya, Syahiq menemukan bahwa masalah utama warga bukan sekadar sampah plastik, melainkan hama yang menyerang kebun cengkeh dan cabai mereka.
Ilmu pengetahuan yang terbatas membuat warga tidak tahu harus berbuat apa. Mereka tidak mampu membeli pestisida atau pupuk kimia yang mahal.
“Di sana kan banyak jeruk, dan jeruk itu nggak ada harganya sama sekali. Bisa Rp4.000 atau Rp3.000 per kilo,” ungkap Syahiq.
Melihat banyaknya jeruk yang membusuk dan terbuang karena harga jualnya rendah, Syahiq melihat peluang. "Aku ajak mereka untuk bikin eco-enzyme. Eco-enzyme itu kan banyak fungsinya ya. Fungsinya sebagai kayak membasmi hama, seperti fungisida ataupun pestisida," jelas Syahiq.
Dengan bahan alami yang ada di sekitar, warga akhirnya bisa melindungi tanaman mereka dengan cara yang lebih murah dan aman bagi tubuh.
Mengajar Teknologi di Tanah Syurdori
Prinsip "customize" atau penyesuaian ini kembali diuji saat Syahiq menginjakkan kaki di Desa Syurdori, Papua. Awalnya, ia berniat membawa materi waste management. Namun, realita di lapangan berbicara lain. Warga di sana ternyata lebih membutuhkan literasi teknologi.
"Aku nggak bisa maksain tentang program. Aku udah nggak mampu menjalankan program itu. Karena yang dibutuhkan bukan itu saat itu," kenang Syahiq.
Alhasil, meski jauh dari visi-misi utama River Ranger yang berfokus pada lingkungan, ia memutuskan untuk mengajar komputer kepada guru-guru setempat. Baginya, memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat adalah pintu masuk untuk membangun kepercayaan. Ini juga masih sejalan dengan tujuan awal pembentukan River Ranger Jakarta, yakni sebagai wadah untuk belajar.
Strategi ini bukan berarti River Ranger melupakan isu lingkungan. Syahiq menggunakan pendekatan yang cerdik. Setelah masyarakat merasa terbantu dan dekat secara emosional, barulah ia perlahan menyisipkan nilai-nilai keberlanjutan. "Aku penuhi dulu kebutuhan mereka, baru get-in," tambahnya.
Di tengah pelajaran komputer atau pembuatan pupuk alami, ia menyelipkan bagaimana cara mengompos atau mengelola sampah plastik secara mandiri.
Pendekatan yang membumi ini membuktikan bahwa edukasi lingkungan tidak selalu harus dimulai dari teori yang berat. Dengan melakukan observasi mendalam dan menyesuaikan diri bersama kearifan lokal, River Ranger Jakarta berhasil menanamkan benih perubahan di tempat-tempat yang paling sulit dijangkau sekalipun.
Bagi River Ranger Jakarta, menjadi pelindung sungai tidak hanya berarti menjaga air, tetapi juga menjaga manusia-manusia yang hidup di sekitarnya.
Penulis: Vicka Rumanti
Baca Juga
-
Studi: Perluasan Ruang Hijau Kota Hanya Redam Sebagian Kecil Kenaikan Suhu, Bagaimana Solusinya
-
Berhenti Merasa Jadi Orang Paling Lelah, Dunia Bukan Milikmu Sendiri!
-
Yoursay Class: Tak Sekadar Curhat, Ini Cara Menulis Opini Personal yang Relatable dan Berdampak
-
Simbol Kehidupan Baru: Mengapa Telur Menjadi Pusat Perayaan Paskah?
-
Narasi Kejujuran Musisi Perempuan yang Menguatkan Lewat Karya Musik
Artikel Terkait
-
Dari Rumah Hingga ke Sekolah, Bagaimana Strategi River Ranger Jakarta Bangun Gerakan Minim Sampah
-
Pihak Andrie Yunus Pastikan Absen Sidang Perdana di Pengadilan Militer 29 April, Ini Alasan Kontras
-
Krisis Lingkungan Mengintai, Bagaimana Melibatkan Generasi Muda Agar Mau Bergerak?
-
Pulihkan Sungai, River Ranger Jakarta Ajak Warga Mulai dari Diri Sendiri
-
Harga Plastik Bikin Pedagang Pusing, Daya Beli Masyarakat Terancam?
News
-
Kasta Oren hingga Bangsa Mujaer: Rahasia Kucing Bisa Jadi Penawar Penat Kantor
-
Kampus Darurat Kekerasan Seksual: Menggugat Budaya Diam di Lingkungan Akademik
-
Yoursay Class: Ubah Cerita Pengalaman Jadi Ulasan Jurnalistik yang Kuat
-
Rahasia The Power of Habit, Mengapa Niat Saja Tidak Cukup untuk Berubah Jadi Lebih Baik?
-
Studi: Perluasan Ruang Hijau Kota Hanya Redam Sebagian Kecil Kenaikan Suhu, Bagaimana Solusinya
Terkini
-
Kaos Band, Inklusivitas Kota, dan Ruang Aman Justifikasi Polisi Skena
-
Review Serial Luka, Makan, Cinta: Sebuah Konflik di Dapur yang Penuh Emosi
-
Rival Utama Team Z, Film Live Action Blue Lock Ungkap Para Pemeran Team V
-
Komik 5 Menit Sebelum Tayang 01, Rahasia Ruang Kendali Industri Televisi
-
Turun Harga! Simak Daftar iPhone Best Value Garansi Resmi Tahun 2026