Aku menulis artikel ini karena teringat pada salah satu rekan kerja dahulu yang berparas cantik, manis, dan senyumnya menawan. Namun, setiap kali berjalan, ada banyak cowok yang menggoda atau melemparkan siulan yang membuatnya menunduk dalam-dalam lantaran tidak nyaman. Padahal, kupikir memiliki wajah cantik adalah privilege guna mempermudah hidup.
Fenomena Catcalling yang Masih Masif Bahkan Sering Dinormalisasi
Memiliki beauty privilege itu ternyata bak dua mata pisau yang saling menusuk. Di satu sisi membantu seseorang menghadapi masalah hidup, di sisi lain menambah beban mental. Di satu waktu dia mudah mendapatkan pekerjaan, tetapi ada risiko menjadi korban catcalling.
Menurut Alodokter, catcalling adalah pelecehan seksual berjenis street harassment, yakni melontarkan komentar seksual dengan nada menggoda yang dilakukan di tempat umum.
Masalahnya, hal itu menimbulkan rasa tidak nyaman atau bisa membuat takut bagi perempuan yang hendak beraktivitas di luar rumah. Sering kali pelaku catcalling tidak mau tahu efek apa yang ditimbulkan dari tindakannya. Yang penting mulutnya berkomentar apa pun itu, bahkan berani menyebut titik-titik tubuh tertentu. Sayangnya, kalaupun ditegur mereka bakal marah.
Didiamkan Menjadi-jadi, Ditantang Kian Berani
Aku nggak tahu apakah bagi kebanyakan lelaki melakukan catcalling itu seru, karena yang ditargetkan adalah perempuan, ya. Apakah benar bagi mereka bahwa kaum hawa adalah ‘ikan’ yang mereka coba pancing?
Kejam?
Demikianlah perumpamaan dan moto lelaki yang pernah kudengar. Bahwasanya lelaki memosisikan diri sebagai seorang pemancing, dan perempuan sebagai ikan di sungai. Bila ikan menyambar umpan, maka si pemancing bebas melakukan apa pun. Bila ingin selamat, ya jangan sambar umpannya.
Namun nyatanya, lelaki yang melakukan catcalling tanpa mendapatkan respons dari perempuan justru uring-uringan, bahkan mengatai sombong. Kalaupun ditegur karena kami merasa nggak nyaman, mereka lebih sering balik marah, mengata-ngatai dengan hinaan fisik, atau langsung petantang-petenteng.
Jujurly, yang ribet dan baperan itu kaum hawa atau kaum adam, sih?
Wajah Pas-pasan adalah Tiket Lolos Catcalling
Catcalling sendiri sudah jadi budaya yang mengakar sejak lama, kendati nggak semua lelaki demikian, ya. Boleh dikata oknum lah, walau persentasenya lumayan banyak.
Sayangnya, mereka nggak memedulikan dampak dari tindakan ini. Ada banyak perempuan yang merasa ketakutan dan nggak nyaman saat beraktivitas di luar rumah, kepercayaan pada publik menurun drastis, hingga bahkan membenci kaum adam. Terdengar sepele, tetapi eksekusinya sangat brutal. Hal ini tentu mengganggu produktivitas kerja yang secara langsung berdampak pada kehidupan perempuan itu sendiri.
Jujur saja, walau nggak secantik Carmen Hearts to Hearts, tetapi aku pernah satu kali kena catcalling di jalan. Rasanya risih, bikin nggak pede, dan jadi benci berpapasan dengan lelaki. Padahal nggak sesering rekan kerjaku tadi, mengingat perbandingan wajah kami yang jauh banget. Dia cantik, manis, dan sedikit imut, eh akunya agak amit-amit.
Dari sanalah aku bersyukur sekali dikaruniai wajah yang biasa-biasa saja, juga nggak cantik-cantik amat. Memang awalnya cukup insecure, karena yah namanya perempuan. Siapa, sih, yang nggak ingin secantik Karina Aespa?
Namun, justru dengan wajah biasaku inilah, aku lolos dari derita korban catcalling, dan bisa menjalani hari dengan baik. Kucoba menepis rasa insecure, karena mengingat quotes di media sosial bahwa semua perempuan itu cantik dengan cara masing-masing.
Stop Menormalisasi Budaya Catcalling
Catcalling bukanlah hal sepele yang bisa dilakukan begitu saja. Selalu ada efek nyata terhadap korban, kendati cuma siulan yang diberikan.
Manusia adalah makhluk beradab yang dibekali oleh akal dan pikiran. Yang seharusnya kita manfaatkan dengan baik demi kemaslahatan umat manusia, termasuk perangai saling menghargai dan menghormati. Tidak peduli golongan atau gender, saling menghargai itu wajib kendati ada banyak perbedaan. Perbedaan ya, bukan penyimpangan!
Pun kita adalah makhluk sosial yang pastinya nggak bisa hidup secara individu. Pasti ada kalanya kita meminta bantuan atau dimintai bantuan. Kalau sudah mencederai hati orang lain, apa nggak berpikir hukum tabur tuai dalam hidup?
So, bagaimana menurut kawan-kawan?
Baca Juga
-
Review Fatal Proximity to Him: Poster Bikin Kepincut, Eksekusi Agak Kecut
-
Don't Disturb Me Farming: Love-Hate yang Dibalut Pertanian dan Peternakan
-
Ulasan Drama Love For You: Saat Hidup Nyeseknya Zhang Jing Yi Nembus Layar
-
Love's Ambition: Akting Sedih Zhao Lu Si yang Patahkan Genre Romansa CEO
-
Gaji Stagnan Harga Barang Naik, Masihkah Orek Tempe Worth It Jadi Penyelamat?
Artikel Terkait
-
Mengupas Sisi Lain Dewi Ayu di 'Cantik Itu Luka': Pelacur yang Menolak Tunduk pada Takdir
-
Cantik di Luar, Krisis di Dalam: Sisi Gelap Beauty with a Purpose yang Sering Kita Abaikan
-
Perempuan Tak Lagi Ingin Terlihat Cantik, tapi Ingin Merasa Jadi Dirinya Sendiri
-
Dandan Tak Menurunkan IQ: Siapa Bilang Perempuan Cantik Tak Bisa Cerdas?
-
Ramai Bukan Berarti Aman: Mengapa Perempuan Masih Waspada di Malioboro?
News
-
Belajar dari Ubud, I Made Gunarta Dorong Ekosistem Wellness di JCWF 2026
-
Sebut Mirip Orba, Pakar UGM Kritik Pemasangan Kawat Berduri di Jogja
-
Krisis Sampah Perkotaan, Mengapa Perempuan Jadi yang Paling Terdampak?
-
Dari Masjid Ke Masjid, Menyusuri Jejak Sejarah di Sudut Jakarta
-
Lewat Sanggar Belajar, UPNVJ Dampingi Anak Pekerja Migran Indonesia di Malaysia
Terkini
-
Sinopsis The Palace Stewardess, Dracin Ding Yu Xi dan Song Zu Er di WeTV
-
Lama Tertunda, tvN Ungkap Jadwal Resmi Penayangan Sekuel The Second Signal
-
Film Sal Saeng Bu Rilis 2027, Ini Daftar Pemain Utama yang Penuh Bintang!
-
Mengambil Pelajaran tentang Bahaya Perang Opini di Novel Bungkam Suara
-
Novel Tanah Para Bandit: Ketika Penegak Hukum Justru Terlibat Kejahatan