M. Reza Sulaiman | Rahel Ulina Br Sembiring
seekor induk beruang kutub dan anaknya yang sedang tidur di lumpur saat musim panas yang terik (Christopher Paetkau / Wildlife Photographer of the Year)
Rahel Ulina Br Sembiring

Benarkah tahun 2030 daratan tempat kita berpijak akan habis ditelan lautan? Pertanyaan bernada cemas ini belakangan sering terdengar di ruang-ruang diskusi iklim global. Secara sains, Bumi memang tidak akan berubah menjadi dunia air sepenuhnya dalam waktu sedekat itu. Namun, angka 2030 bukanlah fiksi belaka.

Lembaga antariksa NASA merilis proyeksi bahwa mulai pertengahan dekade 2030-an, kombinasi dari kenaikan permukaan laut global dan siklus tarikan gravitasi bulan akan memicu lonjakan banjir rob yang ekstrem di berbagai belahan dunia. Kota-kota pesisir besar dan pulau-pulau kecil dataran rendah terancam kehilangan wilayahnya karena terendam air laut secara permanen.

Saat kita di hilir dunia mulai cemas melihat air laut merayap naik ke teras rumah, sebuah refleksi muncul: dari mana sebenarnya asal air yang terus meninggi ini?

Jawabannya terbaring ribuan mil di ujung utara Bumi. Air yang kini perlahan menenggelamkan batas-batas pulau kita adalah air yang sama yang dulunya berwujud benteng es kokoh di Arktik. Air itu adalah sebuah rumah yang runtuh.

Rekor Tertinggi dan Laju yang Mempercepat

Kondisi lautan kita saat ini sedang tidak baik-baik saja. Berdasarkan data NASA Earth Observatory, permukaan air laut global telah merayap naik secara konstan selama lebih dari 140 tahun terakhir (sejak 1880). Hingga hari ini, tinggi air laut dunia terus menembus rekor tertinggi dalam sejarah modern, dengan total akumulasi kenaikan mencapai 21 hingga 24 sentimeter.

Ngerinya, laju ini terus berakselerasi. Jika sepanjang abad ke-20 air laut hanya naik 0,14 cm per tahun, kini dalam dekade terakhir kecepatannya melonjak tiga kali lipat menjadi sekitar 0,41 hingga 0,45 cm per tahun. Angka milimeter yang terdengar kecil ini, jika dikalikan luas samudra dunia, setara dengan triliunan ton es yang mencair dari kutub.

Bagi beruang kutub (Ursus maritimus), lini masa ini adalah lonceng kematian bagi habitat mereka. Ketika es laut mencair menjadi air yang mengalir ke samudra dunia, beruang kutub kehilangan lantai tempat mereka berjalan, berburu, dan membesarkan anak.

Sebuah potret udara menangkap kenyataan pilu ini: sekelompok beruang kutub terbaring pasrah di atas tanah berbatu dan tanaman hijau yang gembur. Mereka terpaksa mengungsi ke daratan kering karena rumah es mereka telah mencair menjadi lautan lepas yang mematikan. Masa transisi dipaksa di atas tanah gembur ini membuat mereka rentan kelaparan karena kehilangan akses utama ke buruan mereka, anjing laut.

Pudarnya Putih Sang Ikon Kutub

Kehilangan rumah ini secara visual mengubah sang predator agung. Beruang kutub berevolusi dengan rambut transparan berongga yang memantulkan cahaya salju, menciptakan ilusi warna putih bersih sebagai kamuflase terbaik mereka di atas medan beku.

Namun, karena daratan es berubah menjadi lautan, mereka terpaksa tinggal lebih lama di daratan lumpur pesisir untuk bertahan hidup. Di sinilah kepiluan itu tampak jelas. Helai bulu mereka yang berongga justru menyerap debu, tanah cokelat, dan spora alga yang tumbuh subur di suhu hangat. Beruang kutub tidak lagi tampak seputih salju; mereka perlahan berubah warna menjadi kuning kusam dan kelabu.

Warna putih yang memudar itu adalah simbol transisi yang mengerikan. Ini adalah tanda visual yang nyata bahwa mereka sedang dipaksa kehilangan identitas ekologisnya akibat pemanasan global yang dipicu aktivitas industri manusia di belahan Bumi lain.

Satu Siklus Duka yang Sama

Narasi tentang tahun 2030 dan beruang kutub bukanlah dua cerita yang terpisah. Ini adalah satu siklus duka yang sama, sebuah rantai sebab-akibat global yang mengikat nasib semua makhluk hidup.

Es yang mencair di Arktik merebut rumah putih milik beruang kutub, mengubah warna bulu mereka, dan memaksa mereka kelaparan di atas tanah berbatu. Air lelehan yang sama itu kemudian bergerak mengarungi samudra, mengetuk pintu-pintu rumah manusia di pesisir, menenggelamkan pulau-pulau kecil, dan mengubah peta peradaban kita.

Melihat beruang kutub yang kusam tertidur di atas tanah hangat adalah cara kita melihat masa depan kita sendiri. Saat rumah mereka runtuh dan mencair hari ini, airnya sedang berjalan untuk menenggelamkan rumah kita besok. Kita tidak sedang menyelamatkan beruang kutub; kita sedang menyelamatkan diri kita sendiri.

Mulai dari Langkah Kecil Kita

Waktu menuju tahun 2030 terus berjalan, tetapi masa depan belum sepenuhnya terkunci. Setiap tindakan kecil kita hari ini, mulai dari mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menghemat energi di rumah, hingga mendukung gerakan pelestarian lingkungan, adalah rem darurat bagi laju pemanasan global.

Mari bersama-sama menjaga agar putihnya Arktik tidak hilang selamanya dan memastikan daratan tempat kita hidup tetap aman bagi generasi masa depan. Langkah hijau apa yang sudah atau akan kamu lakukan hari ini?