Bimo Aria Fundrika | Chairun Nisa
Chondrosia reniformis (dok.inaturalist/Bernard Picton)
Chairun Nisa

Di balik deretan kapal yang bersandar, pelabuhan menyimpan persoalan yang tak selalu terlihat. Tumpahan minyak, logam berat, limbah plastik, hingga bahan kimia dari cat kapal perlahan mencemari perairan dan mengganggu kehidupan organisme laut. Bagi banyak spesies, lingkungan seperti ini menjadi tempat yang sulit untuk bertahan.

Namun, penelitian terbaru justru menemukan secercah harapan dari organisme yang selama ini jarang mendapat perhatian: spons laut.

Tim peneliti dari Centre for Advanced Studies of Blanes di Spanyol bersama University of Barcelona menemukan bahwa salah satu spesies spons memiliki kemampuan bertahan hidup di lingkungan pelabuhan yang tercemar sekaligus berpotensi membantu memulihkan kualitas air.

Temuan tersebut berasal dari penelitian yang dilakukan di Marina Palamós, Girona, di pesisir Laut Mediterania. Hasilnya dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Marine Science.

Pelabuhan dipilih karena merupakan salah satu ekosistem laut yang paling terdampak aktivitas manusia. Selain menerima limbah dari kapal dan kawasan industri, pelabuhan juga menjadi pintu masuk spesies invasif yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem.

Dalam penelitian itu, para ilmuwan menguji lima spesies spons laut, yakni Corticium candelabrum, Crambe crambe, Scalarispongia scalaris, Ircinia oros, dan Chondrosia reniformis. Masing-masing dipilih karena memiliki karakter biologis yang berbeda, mulai dari struktur tubuh hingga mikroorganisme yang hidup bersimbiosis di dalam jaringannya.

Spons-spons tersebut terlebih dahulu diaklimatisasi di pusat penelitian sebelum ditempelkan pada lempengan keramik. Selama 2024 hingga 2025, sebanyak 42 spons dipasang pada terumbu buatan di dinding bawah laut Marina Palamós dan dipantau secara berkala menggunakan fotografi bawah air serta inspeksi visual.

Hasilnya, Chondrosia reniformis atau spons hati ayam menunjukkan daya tahan paling tinggi. Sebanyak 91,7 persen individu mampu bertahan hidup selama 455 hari masa pemantauan. Tak hanya itu, spesies ini juga mampu berkembang biak secara aseksual sehingga populasinya dapat bertambah tanpa harus menunggu proses reproduksi seksual.

"Kami menunjukkan bahwa beberapa spesies spons memiliki potensi luar biasa untuk digunakan dalam restorasi habitat pelabuhan yang telah terdegradasi," kata penulis utama penelitian, Dr. Manuel Maldonado.

Menurut para peneliti, spons hati ayam berperan sebagai penyaring alami. Organisme ini mampu memompa dan menyaring ribuan liter air laut, sekaligus membantu mengurangi logam berat, bakteri patogen, virus, serta mendaur ulang nutrisi melalui mikroorganisme yang hidup di dalam tubuhnya.

Keberadaan spons juga memberi manfaat lain bagi ekosistem. Struktur tubuhnya dapat menjadi tempat berlindung bagi cacing laut, krustasea, hingga ikan-ikan muda, sehingga mendukung pemulihan keanekaragaman hayati di kawasan pelabuhan.

Peneliti juga menemukan kemampuan unik spesies ini untuk "merayap" menuju lokasi yang lebih aman ketika kondisi lingkungan memburuk. Kemampuan tersebut membuat Chondrosia reniformis lebih mampu menghindari paparan radiasi ultraviolet, sedimen tercemar, maupun predator dibandingkan banyak spesies spons lainnya.

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa penelitian masih akan berlanjut. Mereka ingin mengetahui apakah komunitas mikroba yang hidup di dalam jaringan spons turut berperan dalam meningkatkan ketahanannya terhadap polutan.

Selain itu, tim juga akan menguji lebih banyak spesies spons laut untuk mencari kandidat lain yang berpotensi dimanfaatkan dalam rehabilitasi ekosistem pesisir. Bagi para peneliti, organisme yang selama ini nyaris tak dilirik itu bisa menjadi salah satu sekutu alami dalam memulihkan perairan pelabuhan yang semakin tertekan oleh aktivitas manusia.

Penulis: Chairunisa