M. Reza Sulaiman | ELIZA AMELIA
Stasiun Tanah Abang (DocPribadi/Eliza Amelia)
ELIZA AMELIA

Jakarta, sebuah kota metropolitan yang cukup besar dan sangat terakomodasi dengan berbagai fasilitas hingga akses umum, salah satunya adalah transportasi. Tersedianya berbagai macam transportasi umum darat memudahkan populasi untuk terhubung ke daerah satu dan lainnya.

Tetapi kenikmatan transportasi umum tidak hanya karena menjadi jalur penghubung saja, tetapi juga karena memiliki biaya yang lebih terjangkau hingga bebas dari kemacetan Jakarta yang sangat padat. Melansir GoodStats, bahwa moda tersebut tidak hanya unggul dalam kuantitas, namun kualitas mengenai transportasi umum Jakarta juga mulai mendapat perhatian dunia.

Transportasi umum tersebut diakomodasikan seefisien mungkin oleh pemerintah bagi penduduknya, adapun berbagai jenis transportasi umum yang disediakan yaitu Kereta Rel Listrik (KRL) atau Commuter Line, Bus TransJakarta, Mass Rapid Transit (MRT), Light Rail Transit (LRT), sampai JakLingko. Namun, dari kelima transportasi umum darat tersebut, yang menduduki peringkat tertinggi penggunanya adalah Commuter Line, dikarenakan terintegrasi langsung dalam keseluruhan lingkup Jabodetabek.

Evolusi Identitas "Anak Kereta"

Melonjaknya pengguna KRL di wilayah Jabodetabek ini pada akhirnya menimbulkan sebuah istilah unik yang kini kian viral di kalangan generasi pengguna KRL, istilah itu sendiri disebut "Anker" atau kerap dibilang "Anak Kereta". Istilah ini telah diterapkan bagi mereka yang beraktivitas setiap hari ditemani kereta.

Kemudian, banyak cerita menarik juga di balik perjuangan Anak Kereta itu sendiri. Misalnya, di saat kereta sedang penuh, mau tidak mau mereka harus bisa berdiri tanpa berpegangan pada hand grip. Kemudian para penumpang yang harus berlarian di antara peron-peron untuk mengejar kereta agar tidak ketinggalan. Oleh karena itu, setiap hari di saat mulai beraktivitas, KRL pasti penuh, baik pekerja, mahasiswa, maupun orang-orang yang ingin sekadar berjalan-jalan saja.

Di era sekarang, Jakarta yang semakin hari semakin padat penduduknya, sehingga menimbulkan kemacetan, polusi, hingga lainnya, itu menjadi penghambat setiap orang untuk beraktivitas dengan cepat. Kalau di zaman sebelumnya naik kereta itu bisa dibilang sebagai opsi terakhir buat yang tidak punya kendaraan pribadi, tetapi untuk generasi sekarang mereka memilih naik KRL itu sudah menjadi kesadaran, sadar akan pilihan mereka itu sendiri. Ini bisa dibilang sebagai identitas gaya hidup seseorang (lifestyle) penduduk urban modern, karena mereka memilih untuk mengedepankan prioritas mereka seperti efisiensi waktu beraktivitas, produktivitas, dan lain.

Jika kita melihat langsung di setiap gerbongnya, Anak Kereta bisa menumbuhkan suasana solidaritas hingga rasa kepedulian yang penuh. Di tengah sifat warga kota yang terkenal individualis, namun di dalam KRL ini malah bisa menimbulkan sedikit demi sedikit rasa simpati dan kesadaran tiap individu yang mungkin jarang kita temukan, seperti memberikan kursi kepada ibu hamil atau lansia, menolong penumpang lain yang sedang kesulitan saat dalam gerbong, hingga membantu penumpang yang mendapat kejahatan dari pihak penumpang lain.

Beberapa orang memang bersikap cuek dan tidak peduli dengan situasi, tetapi hampir setiap penumpang bisa memiliki kepedulian yang tinggi. Terkadang menjadi Anak Kereta itu bisa membuat kita mengerti akan filosofi "memanusiakan manusia", rasa kebersamaan ini sering kali muncul di saat kita sama-sama mengejar tujuan dan menikmati perjalanan bersama.

Acara LINTAS bersama Reza Hertantyo, PLT. Kepala Pusat Pengelolaan Transportasi Berkelanjutan (PPTB) dan Arif Ardiansyah Susilo, Content Creator Government Public Relations. (Dokumen Pribadi/Eliza Amelia)

Pilihan Cerdas Finansial dan Lingkungan

Dari aspek finansial dan kepedulian lingkungan, memilih menjadi Anak Kereta itu pilihan yang sangat tepat. Di saat nilai tukar rupiah melemah, hingga maraknya harga bahan bakar yang saat ini mahal, tarif tol, hingga biaya sekali jalan lainnya, kini KRL menjadi pilihan yang bisa mengefisiensi biaya hidup dalam sektor transportasi yang pada akhirnya pendapatan mereka dapat dialokasikan untuk kebutuhan lain. Di sisi lain, menggunakan KRL meningkatkan rasa kepedulian kita terhadap lingkungan akan pentingnya mengurangi polusi. 

Transportasi juga sudah diupayakan semaksimal mungkin untuk menekan emisi gas rumah kaca (dekarbonisasi), seperti apa yang disampaikan oleh Reza Hertantyo, Plt. Kepala Pusat Pengelolaan Transportasi Berkelanjutan (PPTB), dalam acara LINTAS: Talkshow Interaktif "Bergerak Bijak, Pilihan Bijak Naik Transportasi Umum" yang saya ikuti di Antarasa Grand Kota Bintang, Bekasi, pada Jumat, 17 Juli 2026.

Poin utamanya, identitas Anak Kereta bukan lagi sekadar cap buat kaum Commuter Line dari pinggiran kota. Ini adalah ikon warga urban dalam beradaptasi dan menghadapi kerasnya kota megapolitan yang kehidupannya serba cepat, dinamis, dan kompetitif.

Dengan pilihan ini juga, masyarakat kota lebih mengedepankan prinsip mereka dalam meningkatkan efisiensi dalam berbagai aspek, di kalangan generasi yang berbondong-bondong mengedepankan gengsi semu dengan kendaraan pribadi mereka.

Gimana, tertarik bertualang jadi Anak Kereta? Sampai ketemu di jalur rel kehidupan urban!

Baca Juga