Hayuning Ratri Hapsari
AIESEC in UNJ Sukses Selenggarakan AFL Summer Peak, Cetak Pemimpin Muda Berdampak Sosial (Ist.)

AIESEC in UNJ resmi merampungkan rangkaian program AIESEC Future Leaders (AFL) Summer Peak, sebuah program pengembangan kepemimpinan bagi mahasiswa yang berlangsung selama dua bulan dengan menggandeng puluhan delegasi dari berbagai universitas. Program yang digelar di lingkungan Universitas Negeri Jakarta ini bertujuan membekali generasi muda dengan kapasitas kepemimpinan, kemampuan komunikasi, dan pemahaman terhadap isu-isu Sustainable Development Goals (SDGs) melalui serangkaian sesi induction, capacity building, hingga final project sebagai puncak evaluasi kompetensi.

Rangkaian AFL Summer Peak dibuka dengan sesi induction pada bulan kedua program. Sesi ini dirancang untuk memberikan panduan konstruktif, wawasan yang bernilai, serta perkenalan yang inklusif kepada para delegasi dan kelompok masing-masing. Dalam sesi ini, para delegasi juga menerima informasi komprehensif mengenai AIESEC dan program teknis AFL secara menyeluruh, sekaligus didorong untuk berpartisipasi aktif dan memberikan dampak positif yang selaras dengan nilai-nilai AIESEC, tanpa mengabaikan pengembangan karakter pribadi masing-masing peserta.

Setelah sesi induction, delegasi mengikuti empat sesi capacity building yang masing-masing dibawakan oleh fasilitator berbeda dengan fokus materi yang saling melengkapi. Sesi pertama bertajuk “Star Mapping: Navigating Your Leadership Potential” dibawakan oleh Vallerie Angelique Effendi, yang memperkenalkan konsep kepemimpinan dan perannya dalam mendorong dampak sosial, sekaligus membimbing peserta membangun kesadaran diri melalui identifikasi kekuatan, tantangan, dan potensi kepemimpinan masing-masing.

Sesi kedua, “Guiding Light: Collaborating and Problem Solving for Impact”, dibawakan oleh Etienne Clerence Turangan. Sesi ini menekankan peran krusial komunikasi efektif dalam pemecahan masalah dan manajemen konflik tim, sekaligus mengajarkan pendekatan kolaboratif yang praktis untuk menganalisis tantangan, mendorong pemikiran kritis, dan meminimalkan miskomunikasi demi pengambilan keputusan yang lebih baik.

Selanjutnya, sesi ketiga bertajuk “Message Orbit: Crafting Ideas for Social Impact” dibawakan oleh Rifki Aritama. Sesi ini berfokus pada penyusunan narasi, membekali peserta dengan keterampilan merancang pesan yang persuasif untuk isu-isu sosial, serta mempersiapkan mereka merancang konten terkait SDGs dalam berbagai format yang menjadi dasar bagi proyek akhir mereka.

Sesi keempat sekaligus penutup rangkaian capacity building, “Radiant Delivery: Leading with Your Voice and Presence”, dibawakan oleh Laras Faizati. Sesi ini menyempurnakan keterampilan public speaking dan presentasi yang disesuaikan untuk advokasi isu sosial dan SDGs, dengan peserta menguasai teknik komunikasi verbal maupun nonverbal, termasuk pengucapan vokal, bahasa tubuh, dan storytelling untuk melibatkan serta menginspirasi audiens dengan percaya diri.

Sebagai puncak dari rangkaian kurikulum yang telah diikuti, delegasi menjalani final project sebagai bentuk evaluasi kompetensi akhir untuk mengukur keterampilan teknis yang telah dipelajari. Proses evaluasi ini melibatkan dua orang juri yang merupakan ahli di bidangnya, yaitu Salma Noorfitria Ningrum dan Wildan Bagus Maulana.

Selain rangkaian kurikulum utama, AFL Summer Peak juga menghadirkan sesi AIESEC Leadership Support (ALS) yang dibawakan oleh Donalyn Calista Angelica Silanno, salah satu peserta program Global Volunteer ke Vietnam. Sesi ALS ini dirancang untuk membantu para delegasi mengeksplorasi dan merencanakan langkah selanjutnya setelah menyelesaikan pengalaman AFL.

Program ditutup dengan sesi LC Debrief yang mengumumkan sejumlah apresiasi bagi peserta dan pendamping terbaik selama program berlangsung. Apresiasi Best Coach diberikan kepada Akbar Marcelovsky, Best Delegates diraih oleh Fahriadam dan Annisa Diana, sementara predikat Best Group jatuh kepada Grup 6.

Akbar Marcelovsky, yang menyabet predikat Best Coach, membagikan pengalamannya selama mendampingi kelompoknya. “Dua bulan bersama AFL menjadi pengalaman luar biasa bagi saya. Saya merasa senang namun juga sedikit kebingungan karena menjadi coach ternyata sangat berbeda dari yang saya bayangkan. Sepanjang sesi capacity building, saya harus benar-benar memikirkan cara agar kelompok saya tetap terlibat dan terhubung. Pelajaran terbesar yang saya dapatkan adalah bahwa fasilitasi bukan soal memiliki semua jawaban, melainkan tentang menciptakan ruang bagi orang lain untuk menemukan jawabannya sendiri,” ujarnya.

Senada dengan itu, Annisa Diana yang meraih predikat Best Delegates turut membagikan pengalamannya sebagai peserta. “Sebagai mahasiswa Sastra Inggris, mengikuti AFL Summer Peak adalah keputusan terbaik yang pernah saya ambil. Bertemu dengan mahasiswa dari berbagai universitas memperluas perspektif saya tentang SDGs dan Global Volunteer. Komunitas yang suportif membantu saya mengubah rasa canggung menjadi kepercayaan diri, dan kemampuan public speaking saya meningkat pesat hingga saya berhasil menjadi delegasi terbaik sebanyak dua kali,” ungkapnya.

Melalui rangkaian AFL Summer Peak ini, AIESEC in UNJ berharap dapat terus mencetak generasi pemimpin muda yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan kesiapan untuk berkontribusi nyata terhadap pencapaian SDGs, baik di lingkup kampus maupun masyarakat luas. Keberhasilan program ini juga menjadi bukti komitmen AIESEC in UNJ dalam menghadirkan wadah pengembangan diri yang inklusif dan berkelanjutan bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang.