M. Reza Sulaiman | Ananda Prasetiyo
Suasana Talkshow LINTAS "Pilihan Bijak, Naik Transportasi Umum." di Al jazeerah Signature Restaurant & Lounge, Jakarta, Jum'at (24/7/2026). (Dok. Pribadi)
Ananda Prasetiyo

Saya duduk di barisan tengah, di antara puluhan peserta yang bukan diundang media, tapi datang karena penasaran sendiri. Panggung masih kosong waktu peserta di sebelah saya bergumam pelan, “Gue sih tetap naik motor, lebih cepat.” Kalimat itu kedengarannya sepele, tapi entah kenapa langsung nampol. Soalnya saya sendiri, jujur aja, masih mikir hal yang sama tiap pagi sebelum berangkat.

Belum lama sesi dimulai, salah satu pembicara menyebut satu angka yang bikin ruangan hening sebentar: 87 persen emisi sektor transportasi datang dari kendaraan darat. Bukan pesawat, bukan kapal. Kendaraan yang tiap hari kita naiki, atau yang kita hindari naik. Bukan angka jauh di laporan yang saya baca belakangan ini, melainkan kendaraan yang lewat di jalan yang saya lalui setiap hari juga.

Di Balik Angka Pertumbuhan Penumpang

Kalau lihat di atas kertas, transportasi publik Jakarta lagi ada di titik terbaiknya. Sepanjang 2025, jumlah penumpang Transjakarta, MRT, dan LRT gabungan tembus 461 juta orang, naik 16,65 persen dari 402 juta penumpang di 2024. Kepala BP BUMD DKI Jakarta, Syaefuloh Hidayat, bilang lonjakan ini didorong perluasan layanan: enam rute baru, plus 327 armada bus baru sepanjang tahun (data realisasi APBD DKI Jakarta 2025, dikutip Kompas, Kumparan, dan iNews, 21 Januari 2026).

Bahkan di kuartal kedua 2026, trennya masih lanjut di angka 230,8 juta penumpang, naik 9,7 persen dari periode sebelumnya (data APBD DKI Jakarta Kuartal II 2026, dikutip Detik.com dan IDX Channel).

Di atas kertas, ini kabar bagus yang layak dirayain.

Paradoks Kemacetan Jakarta

Tapi begitu dibandingin sama gambaran besar mobilitas Jakarta, rasa optimis itu langsung harus direm. Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno sendiri yang bilang: dari sekitar 20,2 juta perjalanan yang terjadi tiap hari di Jakarta, baru 22,19 persen yang pakai angkutan umum. Artinya hampir 8 dari 10 perjalanan warga Jakarta masih ditempuh dengan cara lain—kebanyakan kendaraan pribadi (dikutip Kompas, Detik, dan JPNN, 27 Agustus 2025).

Dan kendaraan pribadi itu terus nambah. Data Ditlantas Polda Metro Jaya, yang dikutip Rano Karno pada 27 Agustus 2025, nunjukkin pertumbuhan kendaraan di Jakarta mencapai 2,7 persen per tahun, sementara penambahan ruas jalan cuma sekitar 0,01 persen per tahun. Ketimpangan kayak gini, cepat atau lambat, ujungnya cuma satu: macet yang makin parah.

Dan itu beneran kejadian. Berdasarkan TomTom Traffic Index 2025 (dikutip Kompas.com, Detik.com, dan CNBC Indonesia), Jakarta melonjak ke peringkat ke-24 kota termacet di dunia—naik drastis dari peringkat ke-90 setahun sebelumnya. Rata-rata perjalanan 10 kilometer di Jakarta sekarang makan waktu 26 menit 19 detik, lebih lama dari 25 menit 31 detik di 2024.

Infrastruktur Siap, Kepercayaan Belum

Jadi ini paradoksnya: transportasi umum tumbuh dua digit, tapi kota tetap makin macet. Angka 22,19 persen tadi kayaknya bukan cuma soal keterbatasan akses. Soalnya kalau memang cuma itu masalahnya, ratusan armada dan rute baru harusnya udah langsung kelihatan hasilnya.

Yang kejadian malah kebalikannya. Ini bukan cuma soal infrastruktur yang kurang, tapi soal jutaan warga yang, sadar atau nggak, masih belum sepenuhnya percaya kalau transportasi umum bisa diandalkan.

Infrastrukturnya udah dibangun. Kepercayaannya, belum tentu ikut kebangun.

Baca Juga