Bimo Aria Fundrika | Chairun Nisa
TIM PISN, Sanggar Putra Satria, Guru, dan Siswa SMP Cenderawasih I berfoto bersama setelah acara. (dok. Istimewa)
Chairun Nisa

Di tengah semakin dekatnya hiburan digital dengan keseharian anak muda, seni tradisi menghadapi tantangan untuk tetap dikenal generasi berikutnya. Salah satunya Topeng Blantek, seni pertunjukan tradisional Betawi yang belum banyak dikenal anak muda.

Meski telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia pada 2016, status tersebut belum otomatis membuat Topeng Blantek dekat dengan generasi muda.

Karena itu, Tim Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jakarta (UPNVJ) bersama Sanggar Seni Putra Satria menghadirkan program "Topeng Blantek Goes to School: Sosialisasi dan Panggung Keliling Teater Topeng Blantek Betawi".

Sekolah dipilih sebagai ruang pertemuan antara seni tradisi dan generasi muda. SMP Cendrawasih I, Cipete, Jakarta Selatan, menjadi sekolah pertama dari empat sekolah yang dikunjungi. Sebanyak 65 siswa menyaksikan pertunjukan pada Kamis (10/9).

Ketua pelaksana kegiatan, Luqman Hakim, mengatakan pendekatan tersebut penting karena anak-anak merupakan generasi penerus kebudayaan.

"Anak-anak adalah pemegang tongkat estafet kebudayaan. Di tengah beragam hiburan digital, mereka semakin jarang berjumpa dengan seni tradisi. Karena itu, tradisi harus mendatangi mereka, salah satunya melalui sekolah," kata Luqman.

Menurutnya, pelestarian seni tradisi tidak cukup hanya dengan mempertahankan eksistensinya. Yang tak kalah penting adalah membuka ruang agar generasi muda dapat mengenal dan berinteraksi langsung dengan tradisi.

Bukan Sekadar Menonton Pertunjukan

Jantuk, salah satu karakter utama dalam Blantek. (dok. Istimewa)

Upaya mengenalkan Topeng Blantek kepada siswa juga terlihat dari cara pertunjukan itu dikemas. Sanggar Seni Putra Satria membawakan lakon "Badul dan Anak Ondel-Ondel" dengan memasukkan isu-isu yang dekat dengan kehidupan anak-anak zamang sekarang.

Misalnya, program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga perkembangan akal imitasi (AI) turut menjadi bagian dari cerita tersebut.

Tujuan dilakukannya pendekatan tersebut adalah untuk membuat pertunjukan ini tidak terasa seperti pengenalan budaya yang kaku dan berjarak bagi siswa.

Mengingat, Topeng Blantek ni merupakan seni pertunjukan rakyat yang besar kemungkinan berinteraksi langsung antara pemain dan penonton.

Selama pertunjukan berlangsung, siswa tidak hanya duduk menyaksikan. Mereka ikut memberikan respons dan terlibat dalam dialog spontan.

"Anak-anak ternyata sangat antusias. Banyak yang sebelumnya belum mengenal Topeng Blantek, tetapi ketika menonton mereka bisa menikmati dan terlibat langsung. Ini menunjukkan bahwa seni tradisi sebenarnya masih memiliki ruang di hati generasi muda," ungkap Luqman.

Dari Sekadar Penonton, Tumbuh Rasa Penasaran

Interaksi siswa dengan penampil. (dok. Istimewa)

Pertemuan dengan Topeng Blantek ini ternyata tidak berhenti ketika pertunjukan telah usai. Para siswa dapat berkesempatan untuk berdialog langsung dengan para pemain.

Mereka bisa bertanya apa saja, mulai dari proses latihan, karakter tokoh, hingga cara mempertahankan kesenian tradisional agar tetap bertahan di tengah arus perubahan zaman.

Salah seorang guru SMP Cendrawasih I turut mengapresiasi kesempatan tersebut. Menurutnya, pengalaman menyaksikan kesenian secara langsung memberikan pengalaman berbeda dibandingkan hanya mempelajari kebudayaan melalui buku pelajaran.

"Kami bersyukur anak-anak bisa mengenal salah satu seni pertunjukan Betawi secara langsung. Mereka terlihat senang dan antusias selama pertunjukan berlangsung," katanya.

Interaksi itulah turut menjadi penting sebagai bagian dari pengenalan seni tradisi. Siswa tidak sekadar mendapatkan informasi mengenai Topeng Blantek, melainkan juga berinteraksi langsung dengan orang-orang yang terlibat dalam kesenian tersebut.

Pelestarian Tidak Berhenti di Atas Panggung

Dengan adanya program "Topeng Blantek Goes to School", fokusnya tidak hanya pada pertunjukan keliling. Sebab, kegiatan itu juga menjadi bagian dari upaya penguatan keberlangsungan seni tradisi melalui PISN.

Selain menampilkan pertunjukan di sekolah, program ini meliputi pendampingan bagi Sanggar Seni Putra Satria melalui pelatihan manajerial, penulisan artikel, serta lokakarya pembuatan topeng.

Langkah tersebut diyakini mampu mempertahankan Topeng Blantek untuk tetap lestari, sekaligus memperluas pengenalan, membangun ruang pertemuan, hingga menyatukan kesenian tersebut dengan penerusnya.

Penulis: Chairunisa