Pagi itu, saya datang ke sebuah kedai kopi di Bogor untuk meliput kelas speaking English yang digelar komunitas Fun English for Ladies. Awalnya, saya mengira akan menyaksikan kelas bahasa Inggris biasa. Namun, suasananya terasa berbeda.
Di antara meja-meja kedai kopi yang riuh oleh obrolan bahasa Inggris patah-patah, tawa, dan sesekali seruan, “Eh, gimana bilangnya?”, para perempuan dari berbagai generasi itu tampak nyaman berbicara tanpa takut salah.
Tidak ada wajah tegang menghadapi ujian atau rasa canggung karena grammar yang berantakan. Selama beberapa jam, mereka seperti melepaskan diri dari peran sehari-hari sebagai ibu, istri, atau pekerja untuk sekadar menjadi diri sendiri dan belajar.
Komunitas ini dicetuskan oleh Juni, seorang guru bahasa Inggris yang sudah lama berkecimpung di dunia pendidikan. Ia memulai karier mengajarnya di Cilukba, sekolah yang menerapkan aturan full English, bahkan di luar jam pelajaran. Setiap bulan, para guru juga wajib mengikuti tes grammar.
Setelah itu, Juni mengajar di Sekolah Bina Tunas Cemerlang (SBTC), sebelum akhirnya melanjutkan karier sebagai guru bahasa Inggris privat. Pengalaman tersebut memperkenalkannya pada berbagai metode pengajaran, mulai dari phonics hingga pendekatan berbasis permainan ala Montessori.
Keinginan untuk terus berbagi ilmu kemudian membawanya pada sebuah ide sederhana. Juni mengunggah niatnya di Threads untuk membuka English club khusus perempuan.
“Gak ada sih ya, gak ada yang spesifik. Cuman niat aku itu. Aku suka, I love teaching,” katanya. Responsnya ternyata jauh lebih besar dari perkiraan.
Banyak perempuan tertarik dan bertanya apakah ada grup untuk bergabung. Juni kemudian membuat grup komunitas secara gratis. Ia mengurus sendiri berbagai kebutuhan, mulai dari membuat e-flyer hingga mengelola grup harian. “Cuma suami aku aja yang support,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Ruang Belajar Tanpa Takut Salah
Sejak dimulai pada 8 Agustus, kelas speaking English digelar rutin setiap Sabtu pagi di beberapa kedai kopi di Bogor. Dalam sehari terdapat dua sesi, masing-masing dibatasi maksimal 10 peserta.
Kuota kecil itu sengaja dipertahankan agar setiap peserta memiliki ruang untuk berbicara dan didengar. Biayanya pun Rp25 ribu per sesi, sehingga tetap terjangkau, termasuk bagi ibu rumah tangga yang tidak selalu memiliki anggaran lebih untuk dirinya sendiri.
Belakangan, Juni juga menambahkan kelas crafting setiap Kamis. Peserta bisa membuat lilin, merangkai bunga, atau melukis sambil tetap menggunakan bahasa Inggris. “We still speaking English during the class,” katanya.
Namun, yang paling terasa dalam setiap pertemuan bukan hanya metode belajar, melainkan prinsip “no judgement” yang terus digaungkan Juni. Tidak ada peserta yang ditertawakan karena salah pengucapan atau dibandingkan karena kemampuan bahasa Inggrisnya.
Juni sengaja membuat komunitas ini khusus perempuan agar tidak ada rasa canggung dan semangat women support women bisa tumbuh dalam setiap pertemuan.
Sejak sesi pertama, hampir 100 perempuan telah bergabung. Latar belakang mereka beragam, mulai dari dokter, content creator, hingga sesama guru bahasa Inggris. Salah satu peserta bahkan pernah lama tinggal di Dubai dan terbiasa menggunakan bahasa Inggris sehari-hari. Setelah kembali ke Indonesia, ia kesulitan menemukan teman untuk berbicara bahasa Inggris hingga akhirnya menemukan ruang di komunitas ini.
Pertemuan-pertemuan tersebut juga membuka peluang lain. Ada peserta yang bahkan menemukan kesempatan kolaborasi bisnis melalui obrolan santai di meja yang sama. “Ada banyak untungnya, mereka join, membuka peluang networking-nya,” kata Juni.
Di antara keberagaman itu, banyak peserta merupakan ibu rumah tangga. Mereka datang bukan hanya untuk belajar bahasa Inggris, tetapi juga mencari ruang di luar rutinitas domestik. Di tengah kesibukan mengurus rumah dan anak, kelas menjadi kesempatan untuk kembali memberi waktu kepada diri sendiri.
Setiap sesi memiliki tema berbeda, mulai dari role play sebagai pramugari, pelayan restoran, hingga storyteller. Format kelas dibuat santai agar peserta berani berbicara dan perlahan menghadapi rasa takut mereka sendiri.
Menurut Juni, banyak peserta datang dengan persoalan serupa, terutama rasa tidak percaya diri ketika berbicara. “They are struggling themselves. They are fighting themselves, to be confident when they are speaking,” ujarnya.
Bagi Juni, proses belajar itu juga berkaitan dengan bagaimana perempuan terus mengembangkan dirinya. Ia berharap ibu-ibu yang bergabung dapat menjadi perempuan yang cerdas dan berdaya, sekaligus menjadi role model bagi anak-anak mereka.
“Karena kita gak bisa bergantung dengan guru di sekolah. Yang berperan penting itu ibu. Ibunya pintar dulu, baru bisa deliver ilmunya ke anak-anaknya,” katanya.
Permintaan untuk membuka komunitas di luar Bogor pun mulai datang. Namun, untuk saat ini Juni memilih fokus mengembangkan komunitas di lingkungan sekitarnya. Salah satu pesan dari peserta menjadi penyemangat baginya. “Miss, makasih ya sudah bangun komunitas ini, semoga menjadi keberkahan untuk Miss.”
Bagi Juni, itulah alasan ia terus menjalankan komunitas tersebut. “Saya selalu ingin menjalani pekerjaan yang bermanfaat untuk orang lain.”
Kepada perempuan yang masih ragu untuk memulai sesuatu, Juni punya pesan sederhana: jangan menunggu orang lain mendorong untuk berani. “Mau kamu introvert atau extrovert, kamu harus encourage yourself. Siapa lagi yang mau develop diri kamu selain diri kamu sendiri?”
Ia sendiri pernah berlatih berbicara sendirian di depan cermin sebelum akhirnya berani tampil di depan kelas. Baginya, kepercayaan diri tumbuh dari keberanian untuk terus mencoba, meski perlahan.
Meninggalkan kedai kopi itu, saya membawa pulang lebih dari sekadar bahan tulisan. Saya melihat perempuan-perempuan yang memilih untuk terus bertumbuh di tengah kesibukan mereka.
Fun English for Ladies mungkin bermula dari sebuah unggahan di Threads. Namun, dari sana Juni membangun ruang yang membuat perempuan merasa tidak perlu takut salah, tidak perlu merasa sendirian, dan tetap punya kesempatan untuk belajar dan berkembang.
Baca Juga
-
Perjalanan Futsal dan Konser Musik di Grand Final AXIS Nation Cup 2026
-
Dari Aspal Kampung Ke Panggung Asia: 3 Bintang Muda Futsal AXIS 2026
-
Mengintip Dapur Redaksi Suara.com: Saat Anak-Anak SD VIS Kelapa Gading Belajar Jadi Jurnalis Cilik!
-
Lelah Batin dan Patah Hati? Coba 7 Langkah Pemulihan ala Penulis Satoshi Yagisawa Ini
-
Merayakan Usia 23 Tahun: Belajar Merangkul Sepi dari Penulis 'Days at the Morisaki Bookshop'
Artikel Terkait
-
Klub Corat-Coret, Ruang Menggambar Tanpa Tuntutan Harus Jago Berkarya
-
Menghabiskan Sore Bersama Klub Corat-coret, Cara Bercerita Lewat Gambar
-
Motul Dukung Movement Sunset Ride Dorong Ekonomi Kreatif di Tomohon
-
Belajar dari Story on Stage: Mengapa Menyediakan Ruang untuk Mendengarkan Itu Penting?
-
Uji Ketahanan Fisik di GBK, Ribuan Pelari Siap Pecah Rekor di JRF 2026
News
-
Buruh Perempuan Sawit Menanggung Beban Berlapis di Balik Asap Karhutla
-
SMK Nusantara Pertahankan Gelar, MAN 1 Kabupaten Sukabumi Raih Juara Putri AXIS Nation Cup 2026
-
Melalui Piano dan Gamelan, Iqbal Sidiq Perkenalkan Kekayaan Musik Nusantara di Istanbul
-
Gaji Stagnan Harga Barang Naik, Masihkah Orek Tempe Worth It Jadi Penyelamat?
-
Bukan Soal Anti Asing, Ini Alasan Standar Halal Indonesia Bikin Negara Maju Ketar-ketir!
Terkini
-
Sekadar Hidup Layak Kok Mahal? Menggugat Komersialisasi Kebutuhan Dasar
-
Menabung Tanpa Kehilangan Masa Muda: Bisakah Gen Z Temukan Keseimbangan?
-
Film Animasi We Are Aliens Raih Penghargaan Kau Ka Hoku di Ajang HIFF ke-46
-
4 Sabun Muka BHA untuk Kulit Berminyak: Bebas Jerawat dan Pori-pori Tersumbat!
-
Makna Salam Tiga Jari yang Viral saat Demo, Berawal dari The Hunger Games