M. Reza Sulaiman | Oktavia Ningrum
Ilustrasi Peta Dunia (Unsplash/@photowolf)
Oktavia Ningrum

Selama bertahun-tahun, kita belajar mengenal dunia melalui sebuah gambar yang ternyata tidak sepenuhnya jujur. Afrika terlihat tidak jauh berbeda ukurannya dari Greenland. Eropa tampak jauh lebih besar daripada yang sebenarnya. Indonesia, yang membentang ribuan kilometer di sekitar khatulistiwa, terlihat seperti kumpulan pulau kecil yang tidak seberapa. Sementara wilayah-wilayah yang berada jauh dari khatulistiwa justru tampak membesar.

Masalahnya bukan karena ada yang sengaja menggambar dunia secara salah. Masalahnya adalah bumi berbentuk bulat, sementara peta berbentuk datar. Setiap kali permukaan bumi yang bulat dipindahkan ke bidang datar, pasti ada sesuatu yang terdistorsi. Bentuk, jarak, arah, atau luas wilayah tidak mungkin semuanya dipertahankan sekaligus.

Salah satu peta yang paling lama mendominasi pendidikan dan navigasi adalah Proyeksi Mercator. Proyeksi ini dibuat Gerardus Mercator pada 1569 dan sangat berguna untuk navigasi karena mempertahankan arah dan sudut tertentu. Tetapi konsekuensinya besar: semakin jauh suatu wilayah dari garis khatulistiwa, semakin besar distorsi ukurannya. Akibatnya, Greenland bisa terlihat hampir sebesar Afrika.

Padahal kenyataannya sangat jauh berbeda. Afrika memiliki luas sekitar 30,4 juta kilometer persegi, sedangkan Greenland sekitar 2,2 juta kilometer persegi. Artinya, Afrika kira-kira 14 kali lebih luas daripada Greenland. Bayangkan berapa lama kita melihat dua wilayah tersebut dalam peta dan secara tidak sadar menganggap ukurannya hampir setara.

Di sinilah Proyeksi Gall-Peters, atau proyeksi equal-area, menjadi menarik. Berbeda dengan Mercator, proyeksi ini berusaha mempertahankan perbandingan luas wilayah. Bentuk benua memang terlihat lebih memanjang atau terdistorsi, tetapi ukuran relatif luas daratannya menjadi lebih proporsional. Dan ketika kita melihat peta semacam ini, dunia terasa berbeda.

Afrika tiba-tiba terlihat sangat besar. Amerika Selatan juga tampak jauh lebih luas. Wilayah-wilayah di sekitar khatulistiwa tidak lagi terlihat “kecil” hanya karena berada di tengah peta. Sementara wilayah utara seperti Greenland tidak lagi tampil seolah-olah raksasa. Peta ternyata bisa memengaruhi cara kita membayangkan dunia.

Kita sering menganggap Eropa besar karena selama bertahun-tahun melihatnya dalam peta dengan distorsi tertentu. Kita juga terbiasa melihat Afrika sebagai benua yang ukurannya “biasa saja”, padahal luasnya luar biasa besar.

Indonesia pun demikian. Negara kepulauan ini membentang sekitar 5.000 kilometer dari barat ke timur. Tetapi dalam banyak peta dunia, Indonesia terlihat seperti gugusan pulau kecil yang terselip di antara Asia dan Australia. Padahal Indonesia adalah negara yang sangat luas secara geografis.

Namun, ada satu hal yang juga perlu diluruskan. Proyeksi Gall-Peters bukan berarti peta yang paling benar dalam segala hal. Ia lebih jujur dalam mempertahankan luas, tetapi bentuk benua menjadi terlihat sangat berbeda dari bentuk sebenarnya. Mercator juga bukan peta yang salah. Ia memiliki fungsi tertentu, terutama untuk navigasi. Jadi, persoalannya bukan mengganti satu peta yang salah dengan satu peta yang benar. Persoalannya adalah memahami bahwa setiap peta memiliki cara sendiri dalam menggambarkan dunia.

Sayangnya, kita sering memperlakukan peta seolah-olah merupakan cermin sempurna bumi. Padahal peta adalah hasil pilihan manusia: apa yang dipertahankan, apa yang dikorbankan, bagaimana wilayah ditempatkan, dan bagaimana dunia akhirnya terlihat oleh mata kita. Karena itu, memperkenalkan lebih banyak jenis proyeksi kepada anak-anak bukan sekadar pelajaran geografi. Ini juga latihan berpikir kritis. Sebab sebuah gambar yang terus kita lihat sejak kecil dapat membentuk persepsi tanpa kita sadari.

Kita belajar bahwa dunia memiliki bentuk tertentu karena peta menunjukkannya demikian. Kita mengira suatu wilayah besar karena terlihat besar. Kita menganggap wilayah lain kecil karena terlihat kecil.

Padahal, yang berubah bukan ukuran buminya. Yang berubah adalah cara kita melihatnya. Mungkin itu pelajaran paling menarik dari peta dunia: tidak semua yang terlihat besar memang besar, dan tidak semua yang terlihat kecil memang kecil. Kadang-kadang, kita hanya sedang melihat dunia melalui proyeksi tertentu. Dan ketika proyeksinya berubah, perspektif kita pun ikut berubah. Bumi tidak pernah berubah ukurannya. Yang perlu diperbaiki mungkin justru cara kita melihatnya.