Berbicara tentang negara dengan transportasi umum yang maju, yang terbayang di benak saya adalah Jepang. Tak bisa dipungkiri, Jepang memiliki teknologi transportasi canggih yang telah teruji sekian lama. Di saat negara-negara lain masih mengandalkan kereta berkecepatan reguler, Jepang sudah menjadi pelopor atas lahirnya shinkansen alias kereta cepat sejak tahun 1964.
Selain itu, transportasi umum seperti kereta di Jepang banyak dikelola oleh pihak swasta sehingga memberikan beragam opsi transportasi kepada masyarakat. Adanya prioritas pelayanan kepada para penumpang seperti suasana stasiun yang bersih dan adanya lift juga menambah daftar keunggulan transportasi Jepang lainnya.
Branding Jepang yang begitu kuat sebagai surganya transportasi umum membuat saya penasaran. Selama ini saya hanya mengetahui informasi terkait superioritas transportasi umum di Jepang hanya melalui berita dan postingan sosial media yang pernah saya tonton, tapi apakah kenyataannya demikian?
Berangkat dari rasa penasaran, akhirnya pada November 2023 saya memutuskan untuk traveling ke Jepang.
Yang Saya Suka dari Transportasi Indonesia Dibanding Jepang
Saya pergi ke Jepang selama hampir 7 hari dengan mengunjungi 3 kota di daerah Kansai, yakni Osaka, Kyoto dan Kobe. Selama berada di sana, saya memanfaatkan beragam transportasi umum seperti KRL, MRT dan bahkan bus untuk pergi dari satu destinasi ke destinasi wisata yang ada di sana.
Sebagai orang asing, saya sangat terbantu dengan hadirnya transportasi umum di Jepang. Selain harganya lebih terjangkau dibandingkan naik taksi, transportasi di sana juga sangat aman dan nyaman sehingga membuat saya sangat enjoy dalam melakukan perjalanan.
Namun sebagai pengguna transportasi umum Jakarta seperti KRL, MRT dan transjakarta, saya merasa transportasi umum di Jepang (setidaknya di 3 kota yang saya kunjungi) juga tidak sesempurna itu.
Berdasarkan pengalaman pribadi, saya justru menemukan beberapa aspek transportasi umum di Jepang yang tidak ditemukan saat naik transportasi umum di Jakarta yang ternyata merupakan kelebihan untuk Indonesia, di antaranya:
1. Sulit menemukan petugas untuk bertanya
Saat naik transportasi umum di Jakarta seperti MRT, KRL, LRT atau bahkan Transjakarta, terkadang saya bingung dalam menentukan rute atau ke arah mana saya harus naik kendaraan. Namun saya tak merasa khawatir karena saya dapat dengan sangat mudah menemukan petugas untuk bertanya. Hal itu dikarenakan transportasi umum di Indonesia khususnya Jakarta dan sekitarnya pada umumnya mempekerjakan pramusapa atau security di stasiun atau halte.
Sementara selama saya berada di Jepang, kondisinya justru terbalik. Di sana saya sulit menemukan petugas yang berjaga di peron kereta sehingga penumpang dituntut mandiri dalam memahami rute yang ingin dituju. Kalaupun ada petugas yang bisa ditanya, biasanya mereka hanya berada di dekat gate masuk. Dengan segala kemudahan di Indonesia, kondisi ini terasa lebih menyulitkan dalam commuting di Jepang terutama jika penumpangnya adalah lansia dan orang asing.
2. Akses destinasi populer jauh dari stasiun ataupun halte
Hal yang kurang saya suka dari transportasi umum di Jepang adalah destinasi populer di sana pada umumnya cenderung jauh dari stasiun ataupun halte terdekat. Di google maps memang tertulis halte atau stasiun terdekat dengan destinasi populer. Tapi realitanya, jaraknya tidak sedekat itu.
Sebagai pengguna transportasi umum kita mesti jalan kaki untuk benar-benar tiba di tujuan yang bahkan bisa menghabiskan waktu selama 20 menit. Waktu pun terasa subjektif karena 20 menitnya orang Jepang berjalan berbeda dengan 20 menit orang Indonesia berjalan. Sebagian besar destinasi di Jepang justru hanya bisa diakses dengan berjalan kaki.
Sementara itu, jarak antara halte atau stasiun terdekat dengan destinasi populer di Jakarta cenderung lebih dekat. Hanya beberapa saja yang jauh. Bagi saya, melakukan commuting di kota besar di Indonesia seperti Jakarta terasa lebih sat-set ketimbang kota-kota besar di Jepang.
3. Tidak ada bus 24 jam
Indonesia memiliki layanan bus dalam kota 24 jam yang dilakukan oleh Transjakarta. Khusus malam hari, bus ini beroperasi dari pukul 22.00-05.00 WIB yang dikenal dengan nama layanan Amari. Dengan 14 koridor utama, menurut saya layanan ini sangat membantu terutama bagi karyawan yang harus bekerja pada malam hari. Beberapa kali saya terbantu karena dapat pulang di atas jam 10 malam dengan harga terjangkau dan aman.
Sementara itu, Jepang tidak memiliki layanan bus dalam kota 24 jam. Jepang memiliki layanan bus malam, namun hanya terbatas untuk bus jarak jauh ke luar kota. Hal ini membuat mobilitas saya jadi terbatas saat berada di Jepang.
4. Jalur khusus bus yang terbatas
Di Jepang khususnya Tokyo tidak ada jalur bus sendiri. Kalaupun ada, jalur khusus tersebut hanya berlaku pada jam-jam tertentu saja.
Sementara di Indonesia khususnya Jakarta, terdapat jalur bus sendiri seperti yang ditunjukan Transjakarta. Pada koridor 13, transjakarta bahkan memiliki 'jalur langit' yang ekslusif hanya bisa dilalui oleh transjakarta. Adanya jalur khusus membuat penumpang bisa bepergian dengan lebih leluasa dibandingkan dengan kendaraan pribadi.
Transportasi Jakarta Ungguli Tokyo, Bukti Indonesia Mampu Bersaing
Pada tahun 2025, Timeout, sebuah media asal Inggris merilis daftar tentang 19 kota dengan transportasi umum terbaik di dunia. Data ini diperoleh dengan melibatkan 18.500 orang di lebih dari 50 negara. Hong Kong menempati peringkat pertama kemudian disusul oleh Shanghai dan Beijing di peringkat 2 dan 3.
Menariknya, dari 19 kota yang dihimpun, Jakarta masuk di peringkat 17 sebagai negara dengan transportasi terbaik di dunia. Dalam artikelnya berjudul "The 19 cities with the best public transport in the world – according to locals", Timeout menjelaskan bahwa Jakarta terpilih karena menawarkan pilihan paling terjangkau untuk warga lokal bepergian dalam kota. Sementara itu, tidak ada kota di Jepang yang masuk ke dalam daftar ranking termasuk Tokyo sebagai ibu kota.
Tak bisa dipungkiri, Jepang memang menginspirasi Indonesia dalam membangun transportasi umum. Misalnya, beberapa rangkaian kereta di KRL Jabodetabek dibeli dari Jepang. Kemudian MRT Jakarta sendiri hadir berkat kolaborasi antara pemerintah Indonesia dan Jepang.
Namun dengan munculnya nama Jakarta di data Timeout sebagai kota dengan transportasi terbaik di dunia menurut warga lokal, menandakan bahwa Indonesia tak kalah kerennya dengan negara maju seperti Jepang dan bahkan mampu bersaing di tingkat dunia.
Terlebih, Indonesia kini tak hanya fokus dalam memperluas integrasi transportasi saja. Saat mengikuti diskusi Lintas (Ngobrolin transportasi bareng komunitas)yang diadakan oleh Kementerian Perhubungan berkolaborasi dengan Komunitas Yoursay, saya mengetahui bahwa kini pemerintah juga berfokus dalam mengembangkan sistem transportasi yang lebih ramah lingkungan.
Melalui Pusat Pengelolaan Transportasi Berkelanjutan (PPTB), salah satu unit Kementerian Perhubungan, pemerintah kini berupaya dalam mewujudkan dekarbonisasi dan transportasi umum minim karbon. Salah satunya adalah dengan mengganti transportasi umum berbahan bakar minyak menjadi energi listrik.
Selain itu, PPTB juga telah menyusun Peta Jalan Dekarbonisasi demi mencapai target Enhanced Nationally Determined Contribution pada 2030 serta Net Zero Emission pada 2060. Sementara dari sisi masyarakat, diharapkan untuk lebih rutin menggunakan transportasi umum dibandingkan kendaraan pribadi.
Jika Indonesia harus terus belajar banyak dari negara lain seperti Jepang dalam mengembangkan dan memperbaiki sistem transportasi, apa berarti ini giliran Jepang juga harus belajar dari Indonesia?
Tag
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Bentrokan Matraman Jangan Dibawa ke Isu SARA, Pramono Anung: Jakarta Kota Terbuka!
-
Kejutkan Publik! Penulis Jepang Keigo Higashino Meninggal Dunia di Usia 68
-
Titik Balik Hidupku Dimulai dari Sebuah Kursi Kereta yang Kuberikan
-
Sejak 1999, Ini 5 Alasan Kenapa Pilih Naik Transportasi Umum Hingga Sekarang
-
Suara Komunitas Menuju Transportasi yang Inklusif
News
-
Titik Balik Hidupku Dimulai dari Sebuah Kursi Kereta yang Kuberikan
-
Di Balik Gerakan Tanpa Kata, Bagaimana Pantomim Jadi Ruang Memulihkan Diri?
-
Di Balik Jendela TransJakarta: Ada Cerita Perjuangan yang Sering Kita Lewatkan
-
Paradoks Transportasi Jakarta: Penumpang Naik Pesat, Kenapa Macet Makin Parah?
-
In This Economy: Gengsi Nggak Bisa Bayarin Bensin, Naik Transum Is The New Flex!
Terkini
-
Kejutkan Publik! Penulis Jepang Keigo Higashino Meninggal Dunia di Usia 68
-
Netflix Buka Suara soal Rumor Produksi Season 2 Drakor Teach You a Lesson
-
Prime Video Rilis Teaser Carrie, Serial Terbaru Adaptasi Novel Stephen King
-
Wajib Dihindari! Ini 7 Kesalahan yang Sering Dilakukan Mahasiswa saat KKN
-
Sejak 1999, Ini 5 Alasan Kenapa Pilih Naik Transportasi Umum Hingga Sekarang