Di pesisir utara Bali, jauh dari hiruk-pikuk Kuta atau Canggu, ada sebuah desa kecil yang justru menyimpan salah satu warisan paling langka di Indonesia: proses pembuatan garam tradisional yang nyaris punah. Desa Les, yang berada di kawasan Buleleng, kini dikenal luas lewat produk garam palungannya — dan di balik kebangkitan nama desa ini, ada sosok Nyoman Nadiana, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Les, yang menjadi penggerak utamanya.
Garam yang Tidak Sekadar Dijemur
Banyak orang mengira semua garam pantai dibuat dengan cara yang sama: air laut dijemur di bawah terik matahari sampai mengkristal. Tapi menurut Nyoman, proses di Desa Les jauh lebih rumit dan sudah jarang ditemukan di Indonesia.
Prosesnya dimulai bukan dari penjemuran langsung air laut, melainkan dengan menuangkan air laut ke lahan tanah yang telah disiapkan khusus. Di sanalah kandungan garam dan mineral dalam air itu diperkuat secara alami. Setelah proses ini selesai, tanah yang sudah jenuh garam dikerik dan dinaikkan ke sebuah wadah berbentuk kerucut bernama tinjung. Wadah ini dilapisi daun lontar, daun kelapa, kerikil kecil, dan pasir — semuanya berfungsi sebagai penyaring alami.
Dari proses penyaringan itu menetes cairan pekat yang disebut nyah, biang garam yang menjadi bahan utama sebelum dijemur ulang di palungan, yaitu wadah dari batang kelapa yang dibelah, atau kini lebih banyak digantikan membran plastik. Peralihan ke membran ini bukan tanpa alasan.
"Kenapa membran menarik karena dia lebih praktis ketika cuaca datang tiba-tiba hujan bisa diselamatkan. Kalau di palungan tidak bisa," jelas Nyoman.
Ketika hujan datang mendadak, garam yang sedang dijemur di membran masih bisa diselamatkan, sementara palungan tradisional dari batang kelapa tidak memungkinkan hal itu. Di tengah cuaca yang makin tak menentu, membran menjadi solusi yang membuat produksi garam desa ini tetap bertahan tanpa kehilangan sentuhan tradisionalnya.
Ramai tapi Tetap Tenang
Tahun 2024 menjadi titik balik bagi Desa Les setelah meraih penghargaan Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024. Dampaknya terasa nyata: menurut Nyoman, jumlah wisatawan lokal melonjak signifikan, mulai dari rombongan pertemanan hingga perusahaan-perusahaan yang datang khusus untuk berwisata kuliner sambil mengenal proses pembuatan garam. Sementara itu, wisatawan asing sebenarnya bukan hal baru bagi desa ini — sejak lama Desa Les sudah menjadi destinasi favorit turis mancanegara.
Menariknya, di tengah isu ketegangan antara wisatawan asing dan warga lokal yang belakangan ramai dibicarakan di Bali — termasuk kasus komunitas lari yang dianggap eksklusif dan enggan berbaur — Desa Les mengaku belum merasakan gesekan serupa.
"Sejauh ini aman ya. Memang tipikal wisatawan Bali Utara dari dulu lebih populer untuk orang-orang yang ingin retreat dari keramaian, mencari ketentraman," kata Nyoman.
Kawasan ini memang lebih dikenal sebagai tempat retreat, jauh dari keramaian, tempat orang mencari ketenangan alih-alih hiruk-pikuk pesta pantai. Karakter wisatawan yang datang pun secara alami lebih selaras dengan suasana desa yang tenang.
Ketika Perusahaan Ikut Turun Tangan
Kemenangan ADWI 2024 juga membuka pintu bagi kolaborasi dengan sektor swasta. Salah satu yang disebut Nyoman adalah Astra, yang membawa program Desa Sejahtera Astra dengan empat pilar utama: pendidikan, lingkungan, kesehatan, dan kewirausahaan.
Bentuk dukungannya beragam, mulai dari suntikan dana untuk menggerakkan semangat warga, bantuan kendaraan roda tiga untuk pengangkutan sampah, mesin pengupas kelapa, traktor mini, hingga mesin pengering. Di luar bantuan langsung itu, kehadiran perusahaan juga membawa dampak tidak langsung yang tak kalah penting: Desa Les kini kerap dipilih sebagai lokasi acara korporat, mulai dari lomba hingga gathering perusahaan, yang secara otomatis mendatangkan lebih banyak pengunjung ke desa.
Warisan yang Terus Hidup
Dari sebuh proses pembuatan garam yang nyaris hilang ditelan zaman, Desa Les membuktikan bahwa tradisi dan modernitas bisa berjalan beriringan tanpa saling menghapus. Dengan Nyoman Nadiana dan Pokdarwis sebagai penggeraknya, desa ini tidak hanya menjual pemandangan atau produk, tapi juga cerita panjang tentang bagaimana sebuah komunitas kecil merawat identitasnya sambil tetap terbuka pada perubahan — satu tetes nyah, satu kristal garam, pada satu waktu.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Gerah dengan Turis Eksklusif? Contek Cara Desa Les di Bali Utara Berbaur Tanpa Sekat
-
Lewat Sentuhan Korporasi, UMKM Desa Les Naik Kelas
-
Kemiren: Menenun Kesejahteraan dari Tanah Osing ke Panggung Dunia
-
Desa Les: Fondasi Kolaboratif bagi Ketahanan Desa Berkelanjutan
-
Desa Sejahtera Astra Les Bali: Garam, Laut, dan Masa Depan Berkelanjutan
News
-
Merawat Syiar Islam Berkemajuan: Peringatan 666 Tahun Islam Masuk Papua di Fakfak
-
Ancaman El Nino 2026: Luas Area Terindikasi Terbakar Capai Tiga Kali Lipat Daratan Jakarta
-
Pariwisata Maju, Lalu Lintas Mundur: Sisi Gelap di Balik Viralnya Situ Kamojing Cikampek
-
Garam Palungan Desa Les: Menjaga Warisan Leluhur di Bawah Matahari Bali Utara
-
Syiar Muhammadiyah di Papua Barat: Rektor UMPB Pastikan RTL Baitul Arqam Berjalan Tuntas
Terkini
-
Tokyo Schoolgirl Karya Osamu Dazai: Potret Kecemasan Remaja yang Mengusik
-
The Manipulated: Ketika Pria Lugu Melawan Konspirasi Kejam, Penuh Aksi dan Kritik Sosial
-
Ironi di Lapangan Upacara: Pejabat Duduk Nyaman, Peserta Berdiri Kepanasan
-
Solusi Radikal: Saatnya ASEAN Terbitkan "Blue Bonds" Demi Selamatkan Pesisir
-
Hati-hati, Jangan Termakan August Theory Kalau Nggak Mau Baper Sendirian!